Banjir Jabodetabek
Detik-detik Bocah 3 Tahun di Tebet Terseret Arus Ciliwung, Perahu Terbalik saat Proses Evakuasi
Seorang bocah berusia 3 tahun tenggelam di kawasan Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan, pada Selasa (4/3/2025).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/Personel-Damkar-Jakarta-Timur-saat-prose.jpg)
"Jakarta dan sekitarnya rata-rata banjir air kiriman dari Puncak, Bogor yang semuanya ini dialirkan dalam DAS Ciliwung," ujar Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto di Jakarta, Selasa.
ementara itu, Kota Bekasi mengalami banjir yang lebih parah dengan ketinggian air mencapai 4 meter. BMKG menjelaskan bahwa kondisi ini terjadi karena kombinasi antara air kiriman dari hulu DAS Ciliwung dan curah hujan lokal yang sangat tinggi, berkisar antara 165-208 mm per hari.
"Hari ini di Sumur Batu Bekasi hampir 208 mm per hari. Ini terjadi dipengaruhi pertumbuhan awan konvektif yang cukup signifikan pada skala meso - sirkulasi siklonik yang mengakibatkan perlambatan angin dan seterusnya," kata Guswanto.
Meski demikian, BMKG menilai bahwa banjir kali ini masih lebih rendah dibandingkan dengan kejadian serupa pada tahun 2020. Saat itu, curah hujan di Jakarta mencapai angka ekstrem, yaitu 377 mm per hari.
Untuk mengatasi potensi dampak banjir yang lebih luas, BMKG saat ini tengah berkoordinasi dengan berbagai lembaga terkait guna mempertimbangkan operasi modifikasi cuaca.
Langkah ini bertujuan untuk mengendalikan curah hujan serta mempercepat proses pemulihan pascabencana.
BMKG juga mengingatkan bahwa periode 4-11 Maret 2025 masih berpotensi terjadi hujan dengan intensitas tinggi di wilayah barat Pulau Jawa. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca guna mengantisipasi kemungkinan banjir susulan.
"Periode 4-11 Maret 2025, hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi. Di Pulau Jawa bagian barat," kata Guswanto dikutip dari Antara.
Artikel ini dioptimasi dari TribunJakarta.com dan KompasTV