Pabrik Gulung Tikar
Eks Karyawan PT Sritex Sukoharjo Curhat Kena PHK: Bingung Utang Masih Banyak
Andri Cahyono, eks karyawan PT Sri Rejeki Isman Tbk (PT Sritex) mencurahkan isi hatinya pasca pemutusan hubungan kerja (PHK).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Pertemuan-antara-Direktur-Utama-PT-Sri-Rejeki-Isman-Tbk-282.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Andri Cahyono, eks karyawan PT Sri Rejeki Isman Tbk (PT Sritex) mencurahkan isi hatinya pasca pemutusan hubungan kerja (PHK).
Menurut Andri, dirinya kini dilanda kebimbangan.
Pasalnya, ia mengaku memiliki tanggungan begitu banyak.
"Saya juga terkena PHK kemarin, ini juga bingung utang masih banyak," ujar mantan karyawan PT Sritex Andri Cahyono kepada jurnalis KompasTV, di Sukoharjo, Jumat.
Andri menanyakan tentang solusi terhadap para mantan karyawan yang terkena PHK sepertinya.
"Ini kira-kira gimana, ada solusi apa enggak, habis ini saya menganggur," tambahnya.
Mantan karyawan PT Sritex lainnya, Dewi, mengungkapkan kesedihan serta harapannya akan bisa bekerja kembali.
"Ya, sedih, nggak kerja, ya inginnya kembali lagi (bekerja di Sritex)," ungkapnya di Sukoharjo, Jumat.
Wamenaker Sebut Pemerintah akan Carikan Lapangan Kerja
Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer Gerungan (Noel) mengatakan, pemerintah akan membantu mencarikan lapangan pekerjaan bagi para karyawan yang terkena PHK.
"Kita langsung perintah Kepala Dinas tingkat kabupaten dan provinsi untuk cari mitra industri kita, mana-mana aja yang membutuhkan tenaga kerja, nah akhirnya ketemulah 10.000 sekian," terangnya dalam program Sapa Indonesia Malam Akhir Pekan di KompasTV, Sabtu (1/3).
Noel juga menyatakan, pihaknya akan berusaha berkoordinasi dengan industri-industri tersebut agar tidak membuat syarat-syarat yang memberatkan.
"Pertama soal umur, kedua soal ijazah, dan enggak kalah penting jangan sampai jatuh ke tangan-tangan calo, calo tenaga kerja, dan ini kita upayakan," katanya.
Gubernur Jawa Tengah akan Gelar BLK
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyatakan akan menggelar Balai Latihan Kerja (BLK) bagi para buruh yang terdampak PHK massal.
“Kita latih mereka yang PHK sehingga bisa tertampung dayanya, khususnya untuk di tempat-tempat, perusahaan-perusahaan yang mungkin membutuhkan,” kata Luthfi di Solo, Jumat, dikutip dari channel YouTube KompasTV.
Ia mengatakan, hal ini dilakukan agar tidak terlalu banyak tenaga menganggur di Jawa Tengah.
“Artinya vokasi-vokasi di tempat kita, pelatihan-pelatihan BLK bagi mereka yang PHK akan kita tampung, sehingga Jawa Tengah tidak terlalu banyak tenaga yang menganggur,” lanjutnya.
Baca juga: Harta Kekayaan 12 Kepala Daerah di Gorontalo, Tertinggi Rp 81,6 Miliar dan Terendah Rp 160 Juta
PT Sritex tutup permanen
Diberitakan sebelumnya, PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) resmi tutup secara permanen pada 1 Maret 2025.
Perusahaan tekstil berpusat di Sukoharjo, Jawa Tengah, didirikan pada 1966 oleh HM Lukminto dengan nama awal UD Sri Redjeki.
Era tersebut, pemerintahan Indonesia masih dipimpin Presiden Soekarno.
Perusahaan ini berawal dari usaha perdagangan kain di Pasar Klewer, Solo.
Pada tahun 1978, Sritex resmi berbentuk perseroan terbatas (PT) dan mulai berkembang pesat di industri tekstil Indonesia.
Pada tahun 1992, PT Sritex mengintegrasikan empat lini produksinya, pemintalan, penenunan, sentuhan akhir, dan garmen ke dalam satu lokasi pabrik yang diresmikan oleh Presiden Soeharto.
Keberhasilan perusahaan semakin terlihat pada tahun 1994 ketika PT Sritex mendapat kepercayaan dari NATO dan Angkatan Bersenjata Jerman untuk memproduksi seragam militer.
Selain itu, perusahaan ini juga melayani pesanan dari berbagai negara seperti Inggris, Papua Nugini, serta merek-merek fashion terkenal seperti Guess dan H&M.
Meski menghadapi krisis moneter 1998 yang mengguncang Indonesia, PT Sritex mampu bertahan dan bahkan mengalami pertumbuhan yang luar biasa, hingga delapan kali lipat pada awal 2000-an.
Pada tahun 2013, PT Sritex resmi melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham SRIL, menjadi salah satu pemain utama di pasar saham Indonesia.
Seiring dengan keberhasilannya di industri tekstil, PT Sritex juga melakukan ekspansi ke sektor lainnya
Pada 2000-an, perusahaan ini memasuki bisnis serat rayon melalui PT Rayon Utama Makmur (RUM) di Sukoharjo, yang memiliki kapasitas produksi hingga 90 ribu ton per tahun.
Namun, perusahaan sempat menghadapi masalah lingkungan akibat limbah cair pabrik yang mengganggu warga sekitar.
Selain itu, PT Sritex juga melakukan diversifikasi ke industri tambang dengan mendirikan Ultra Tech Mining Indonesia, yang mengelola pabrik batu gamping di Wonogiri, Jawa Tengah.
Setelah hampir enam dekade beroperasi, perusahaan yang pernah menjadi kebanggaan industri tekstil Indonesia ini menghadapi tantangan besar.
Kejatuhan PT Sritex menjadi pukulan berat, tidak hanya bagi ribuan pekerjanya, tetapi juga bagi dunia bisnis dan manufaktur Indonesia secara keseluruhan. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.