Senin, 23 Maret 2026

Maling Diamuk Warga

Polisi Ungkap Detik-detik Meninggalnya Residivis Curanmor di Kota Gorontalo, Sempat Kejang-kejang

Seorang pria terduga pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor) meninggal dunia setelah diamankan oleh pihak kepolisian di Kota Gorontalo

Tayang:
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Polisi Ungkap Detik-detik Meninggalnya Residivis Curanmor di Kota Gorontalo, Sempat Kejang-kejang
Kolase TribunGorontalo.com/Tangkapan layar FB
PRIA TEWAS: Kolase foto seorang pria berinisial RL, warga Manado, Sulawesi Utara, diduga meninggal dunia usai ditangkap warga, dan Masjid Al-Jauhar yang sempat dijadikan tempat persembunyian RL untuk menghindari amukan massa. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Seorang pria terduga pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor) meninggal dunia setelah diamankan oleh pihak kepolisian di Kota Gorontalo pada Sabtu (15/2/2024) dini hari.

Pria tersebut diketahui bernama Mario Langi alias Rio, yang berasal dari Sulawesi Utara.

Kapolresta Gorontalo Kota, Kombes Pol Ade Permana menegaskan pihaknya masih mendalami penyebab kematian.

"Kami masih menyelidiki apakah ada keterlibatan warga atau pihak lain dalam peristiwa ini," tegasnya.

Kronologi versi kepolisian

Kapolresta menjelaskan kronologi detik-detik Rio meninggal dunia.

Awal mula, Rio diduga hendak melakukan transaksi jual beli sepeda motor di kawasan Alfamart, Kelurahan Bugis, Kota Gorontalo pada Jumat (14/2/2025) malam.

Warga yang mencurigai gerak-gerik Rio dan meneriakinya sebagai pencuri. 

Rio merasa terdesak sehingga ia melarikan diri dan bersembunyi di Masjid Al-Jauhari.

"Pelaku sempat naik ke atap masjid selama sekitar dua jam sebelum akhirnya terjadi pengejaran dan pengepungan oleh warga," ungkap Kapolresta.

"Setelah itu, ada telepon ke piket Polresta Kota, dan anggota kepolisian datang untuk mengamankan pelaku," tambahnya.

Rio lantas diamankan ke Polresta Gorontalo Kota

Sekitar pukul 02.30 WITA, Rio meminta air minum. Namun, tak lama kemudian ia mengalami kejang-kejang. Polisi segera membawanya ke rumah sakit.

"Sayangnya dalam perjalanan menuju rumah sakit, ia tidak tertolong," jelas Ade.

Ade menyebut Rio mengalami luka di bagian belakang tubuhnya. 

Namun, penyebab pasti kejang-kejangnya belum bisa dipastikan.

"Kami telah berkoordinasi dengan pihak keluarga tetapi mereka menolak untuk dilakukan autopsi. Sehingga, penyebab kematiannya belum dapat diketahui secara pasti," tambah Kapolresta.

Sementara itu, diketahui bahwa sebelum ditangkap di Kota Gorontalo, Rio juga tengah diburu oleh tim Resmob Polresta Manado. 

Rio terlibat kasus curanmor di Sulawesi Utara. Ia juga merupakan residivis kasus pencurian sepeda motor.

Kepolisian mengimbau masyarakat agar tidak melakukan tindakan main hakim sendiri terhadap pelaku kejahatan.

"Jika ada seseorang yang dicurigai sebagai pelaku tindak pidana, segera laporkan ke pihak kepolisian agar dapat ditangani sesuai prosedur hukum yang berlaku," tutupnya.

Keterangan warga

CURANMOR KAMPUNG BUGIS : Abin, Penjaga Masjid Al-Jauhari, Kelurahan Kampung Bugis, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Sabtu (15/2/2025). Pelaku curanmor nyaris diamuk warga.
CURANMOR KAMPUNG BUGIS : Abin, Penjaga Masjid Al-Jauhari, Kelurahan Kampung Bugis, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Sabtu (15/2/2025). Pelaku curanmor nyaris diamuk warga. (Herjianto Tangahu / TribunGorontalo.com)

Hartono Badaru, warga Kelurahan Bugis, mengungkapkan kekesalannya terhadap isu bahwa terduga pelaku curanmo tewas diamuk massa.

Ia mengaku sempat berkomunikasi langsung dengan terduga pencuri saat bersembunyi di atap Masjid Al-Jauhar.

"Tidak ada satu pun warga yang memukul maling itu. Kalau dibilang meninggal karena diamuk massa, pertanyaannya, massa yang mana?" ujar Impo kepada TribunGorontalo.com, Minggu (16/2/2025) sore.

Impo menuturkan bahwa ia sendiri yang membujuk pelaku agar mau turun dari atap masjid. Ia bahkan memberikan jaminan keselamatan kepada pelaku agar tidak dianiaya warga.

"Saya yang bicara langsung dengan dia di atas atap. Saya bilang, tidak ada yang akan memukul, saya yang jadi jaminannya," ungkapnya.

Setelah merasa aman, pria tak berbaju itu akhirnya turun dari atap masjid. 

"Saat kami serahkan ke polisi, dia baik-baik saja, tidak ada luka, wajahnya masih mulus. Tidak ada memar sama sekali. Warga tidak mengeroyoknya," tegas Impo.

Warga Kampung Bugis kini bertanya-tanya bagaimana pelaku bisa meninggal setelah diamankan polisi. Mereka merasa difitnah dan tidak terima dituduh sebagai penyebab kematian pelaku.

"Kami heran, kok bisa meninggal? Saat kami serahkan ke polisi, dia dalam keadaan sehat. Kami tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, yang jelas bukan karena dikeroyok warga," jelasnya.

Warga berharap pihak berwenang segera memberikan klarifikasi terkait penyebab kematian pelaku agar tidak ada kesalahpahaman yang merugikan masyarakat Kelurahan Bugis.

Pendapat serupa dilontarkan Marbot Masjid Al-Jauhar, Abin.

Ia menegaskan bahwa pelaku saat ditangkap masih dalam kondisi sehat dan tidak ada tanda-tanda kekerasan.

"Saat diserahkan ke polisi, dia baik-baik saja. Tidak ada luka, tidak ada memar. Kami semua melihat sendiri dia turun dalam keadaan sehat," kata Abin.

Terkait video yang beredar di masyarakat, Abin mengakui bahwa ada momen di mana warga dan pelaku saling serang di atas atap. Namun, menurutnya, itu tidak sampai mengenai pelaku.

"Memang ada warga yang membawa balok kayu, tapi itu karena malingnya memegang benda tajam. Saling serang memang terjadi, tapi tidak ada yang kena," ungkapnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved