Selasa, 10 Maret 2026

Human Interest Story

Ahmad Petani Kemiri Gorontalo Raup Omzet Rp 300 Juta dalam 2 Minggu, Ternyata Ini Rahasianya

Ahmad, seorang perantau dari Makassar berhasil mengembangkan usaha pertanian kemiri di Gorontalo.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Faisal Husuna | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Ahmad Petani Kemiri Gorontalo Raup Omzet Rp 300 Juta dalam 2 Minggu, Ternyata Ini Rahasianya
TribunGorontalo.com/Faisal Husuna
PETANI KEMIRI - Ahmad, petani kemiri saat ditemui TribunGorontalo.com, Rabu (5/2/2025). Pengusaha yang sukses mengembangkan pertanian kemiri hingga raih omzet Rp 300 juta dalam dua minggu. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Ahmad, seorang perantau dari Makassar berhasil mengembangkan usaha pertanian kemiri di Gorontalo.

Ahmad memulai usaha pertanian kemiri ini sejak tahun 2023.

Terhitung baru dua tahun, Ahmad kini mampu menjual 10 ton kemiri dalam dua minggu.

Kemiri tersebut dijual Ahmad di pasar-pasar tradisional di kabupaten/kota di Gorontalo.

"Dalam dua minggu saya menjual 10 ton. Dijual di pasar-pasar yang ada di Gorontalo, Rp 30 ribu per kilo," ucapnya saat ditemui TribunGorontalo.com, Rabu (5/2/2025).

Jika dirinci, setiap dua minggu, Ahmad berhasil menjual 10 ton kemiri ke berbagai pasar dengan harga Rp 30 ribu per kilo. 

Total pendapatan yang ia peroleh mencapai Rp 300 juta setiap dua minggu.

Ahmad menceritakan awal pertama kali ia mengenal usaha pertanian kemiri.

Saat itu, pada awal tahun 2023 tiba di Gorontalo, mengunjungi para petani di kawasan pegunungan Dulamayo, yang sedang melakukan panen.

Ahmad melihat para petani sedang memecahkan kemiri dengan cara manual.

Karena tertarik dengan usaha kemiri, ia lalu bertanya dan berdiskusi dengan orang yang sudah menggeluti usaha tersebut.

Setelah berdiskusi, Ahmad mendapatkan ide dan memantapkan hati terjun ke dunia pertanian kemiri.

"Saat itu saya melihat aktivitas petani di kebun di pegunungan Dulamayo, mereka sedang memecahkan kemiri. Saya pun bertanya-tanya, dan dari situ muncul ide untuk mengembangkan usaha ini," ujarnya.

Akhirnya, Ahmad kemudian membikin mesin penggiling kemiri untuk mempermudah melakukan produksi.

Hingga sekarang, ia telah memiliki dua gudang penjemuran yang dikontrak.

Bahkan, ia juga telah memiliki sekitar 60 karyawan, yang bekerja membantu usahanya.

"Alhamdulillah, usaha ini berjalan lancar dan bisa membantu banyak orang. Kami juga melayani pembelian langsung atau melalui transfer untuk pelanggan dari luar daerah," beber Ahmad. 

Baca juga: GORONTALO TERPOPULER: Gugatan Merlan & Syamsu Ditolak MK - Adhan Dambea Akan Berkantor di AD Center

KISAH LAIN: Petani 19 Tahun di Gorontalo Utara Raih Omzet Jutaan Rupiah

Petani berusia 19 tahun di Gorontalo Utara sukses bercocok tanam cabai rawit.

Fajrin Djafar merupakan warga Desa Tolongio, Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara.

Setelah lulus SMA, Fajrin tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi seperti yag diinginkan oleh orangtuanya.

Justru ia lebih memilih menjadi seorang petani cabai rawit, yang ia yakini kurang diminati remaja seusianya.

Sebelum menjadi petani ia sempat ingin menjadi polisi tapi urung dilakukan karena tinggi badannya kurang memungkinkan.

Awalnya Fajrin membuka lahan milik orangtuanya, melakukan pembersian lahan sampai memilih tanaman.

Harga cabai rawit saat ini lagi mahal-mahalnya di pasaran, ia lebih memilih menanam cabai rawit.

Fajrin mengungkapkan bahwa cabai rawit yang ditanam pada awalnya adalah seribu pohon dengan luas lahan kurang dari satu hektar.

Dengan bibit cabai seribu pohon pertama yang ia tanam, ia mulai merasakan rintangan seperti gangguan hama.

Perawatan yang ia lakukan selalu membersihkan lahan, perwatan tanamam, hingga pemupukan.

Adapun panennya di usia empat bulan, dengan mendapatkan 20 kilogram cabai rawit dijual dengan harga Rp50 ribu.

"Harga cabai yang tidak stabil bisa naik bisa juga turun, kemarin harga turun Rp30 ribu per kilogram," ungkap Fajrin saat di wawancarai TribunGorontalo.com, Selasa (31/12/2024).

Fajrin memanen 10 hari sekali, dengan harga per kilogram berkisar dari Rp30 ribu hingga Rp50 ribu.

Omzet Rp3 juta per bulan masih belum bersih. Ia menanggung biaya operasional mulai dari penanaman sampai panen, pendapatan bersih Rp 2.500.000 per bulan.

Saat ini ia sedang menambah tanamannya yang baru, ditanam ada 3 ribu pohon dengan usia dua bulan, karena tanamnya yang lama sudah mulai rusak, sehingga ia menggantinya dengan tanaman baru.

Sekarang total tanaman cabai rawit yang ada di lahannya sudah 4 ribu pohon, dan masih akan di tambah lagi apabila masih tersedia lahan kosong.

Tentu ini akan menambah penghasilannya karena sudah banyak yang ditanami.

"Tanaman cabai akan bertahan sampai dengan setahun, selebihnya sudah akan rusak dan harus di ganti dengan yang baru," terang Fajrin. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved