Human Interest Story
Cerita Pilu Jumria Tidita, Warga Gorontalo Utara 17 Tahun Tinggal di Rumah Tanpa Listrik - Jamban
Nasib pilu dialami Jumria Tidita (70), warga Desa Motilango, Kecematan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo.
Penulis: Efriet Mukmin | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kondisi-rumah-Juhria-Tidita-warga-Desa-Motilango.jpg)
TRIBUNGORONTALO – Nasib pilu dialami Jumria Tidita (70), warga Desa Motilango, Kecematan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo.
Betapa tidak, selama 17 tahun ia tinggal di rumah semi permanen tanpa fasilitas listrik dan jamban.
Saat ditemui TribunGorontalo.com, Senin (3/2/2025), Jumria tinggal bersama kedua anaknya. Suami Jumria sudah meninggal dunia.
Selain hidup serba kekurangan, Jumria juga tinggal di perkebunan jagung yang jauh dari permukiman warga.
Bangunan rumah ini sebelumnya hanya lahan pertanian. Seseorang menghibahkan lahannya untuk ditinggal Juhria dan keluarga kecilnya.
Rumah Juhria dibangun sejak 2008. Bangunan rumah Juhria terdiri dari anyaman bambu. Pada tahun 2013, dinding rumah sempat diganti dengan triplek dan GRC.
"Kami sudah lama tinggal di sini. Listrik tidak ada, hanya menggunakan senter pakai aki, dan lampu botol," ucap Jumria kepada TribunGorontalo.com Senin (3/2/2025).
Baca juga: 2.349 Honorer di Kota Gorontalo Tidak Dirumahkan hingga Tahapan PPPK 2024 Selesai
Karena keterbatasan ekonomi, anak Juhria menjadi buruh tani sejak usia muda.
Jumria kini tidak mampu lagi bekerja di luar. Ia hanya mengurus kebutuhan rumah tangganya.
Jumria mengaku pernah mendapat bantuan dari pemerintah berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT). Namun itu ia dapatkan sewaktu pandemi Covid-19.
"Bantuan BLT sudah tidak ada lagi, jadi hanya bergantung kepada anak-anak untuk biaya sehari-hari," ujar Jumria.
Namun, walaupun hidup dengan keterbatasan, Jumria serta Anaknya tetap kuat dan sabar dalam menjalani kehidupan.
Juhria hanya berharap anak-anaknya mendapat kehidupan layak. Mereka membutuhkan listrik sebagai penerang, terutama jamban.
Namun pendapatan mereka tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan itu. (*)