Human Interest Story
Cerita Harry Gobel Bangun Penginapan Turis di Gorontalo, Berawal dari Ingin Belajar Bahasa Inggris
Pemilik usaha Homestay Harry & Mimin, Harry Gobel, menceritakan awal mula ia memulai usaha penginapan.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Momen-Harry-Gobel-berpose-dengan-turis-turis.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Pemilik usaha Homestay Harry & Mimin, Harry Gobel, menceritakan awal mula ia memulai usaha penginapan.
Meskipun baru berizin di tahun 2018, tapi akomodasi para turis tinggal di rumahnya sudah berlangsung sejak tahun 1997.
Saat itu, para turis tak diminta biaya apapun alias gratis.
Ada alasan utama Harry melakukan itu selama kurun waktu 21 tahun.
Semua berangkat dari kondisi ekonomi yang pelik, Harry yang saat itu masih duduk di bangku SMP, punya keinginan kuat untuk belajar Bahasa Inggris.
"Suka belajar Bahasa Inggris, suka kursus tapi tidak punya uang," kenang Harry kepada TribunGorontalo.com, Senin (20/1/2025).
Hal yang bisa ia lakukan saat itu adalah mondar mandir di kawasan Pasar Sentral Gorontalo.
"Saya lihat-lihat mereka di jalan, saya ajak ngobrol sedikit-sedikit. Saat itu saya belum lancar," ujarnya.
Harry bahkan sampai datang ke sejumlah hotel-hotel besar hanya untuk bertemu para turis.
Berkat tekad kuatnya itu, Harry mulai dikenal para turis yang tinggal lama di Kota Gorontalo.
Harry pun kian intens berkomunikasi dengan turis-turis.
Hingga suatu momen Harry mengajak mereka datang ke rumahnya yang kini jadi Homestay Harry & Mimin.
Lokasinya berada di Jalan Gunung Rinjani, Kelurahan Siendeng, Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo.
Para turis yang pernah menginap pun merekomendasikan rumah Harry kepada rekan-rekan mereka yang ingin berkunjung ke Gorontalo.
"Misalnya ada turis yang dari sini, mereka ke Manado ketemu dengan turis lain, maka pesan mereka itu cari anak kecil di Kota Gorontalo namanya Harry," ujarnya.
Para turis meminta turis lain untuk mengajari Harry Bahasa Inggris.
Seiring berjalannya waktu, turis-turis bergantian menginap di rumah Harry.
"Saat itu mereka tanya harga, saya bingung karena fasilitas tidak mendukung dan tidak ada niat juga buat homestay. Saya cuma ingin belajar bahasa Inggris," ujar Harry mengenang momen pertama mendirikan penginapan.
Karena setiap hari pasti ada turis yang menginap, penguasaan bahasa Inggris Harry pun mulai meningkat.
Harry kemudian sadar, ternyata dengan kesederhanaan rumahnya, membuat para turis betah dan memilih tinggal di rumahnya ketimbang di hotel.
"Secara tidak langsung, saya sudah berusaha mengenalkan budaya dan kebiasaan orang Gorontalo, sederhana dan apa adanya. Misalnya pakai WC jongkok," terangnya.
Harry pun tak malu dengan kondisi rumah yang sederhana.
Baca juga: BREAKING NEWS: Eks Ketua HMI Gorontalo Terduga Pelaku Pelecehan Dipolisikan, Korban Kini Diperiksa
Ia juga tak mengambil keuntungan sepeser pun saat rumahnya dijadikan tempat menginap para turis.
Ia kerap menjadi pemandu (tour guide), menggunakan bentor ayahnya untuk mengantar para turis berkeliling.
Hingga tahun 2018, para turis yang datang mulai banyak. Kamarnya yang hanya tiga unit tak mampu lagi menampung kehadiran para turis.
Akhirnya beberapa turis memilih tidur melantai di ruang tamu.
"Karena itu baru kemudian kami memilih tempat ini jadi homestay, namun dengan harga yang relatif murah," ujarnya.
Di tahun yang sama, ia juga mengurus izin homestay di Desa Timuato, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo.
Kedua tempat ini menjadi homestay para turis ketika datang ke Provinsi Gorontalo.
Sebagian besar turis-turis yang tinggal adalah mereka yang berkewarganegaraan Prancis, Jerman, Belanda, Swiss, hingga Belgia.
Lama turis menginap mulai dari satu malam hingga paling lama setahun.
Meskipun sudah terkenal di kalangan turis, Harry tetap mempertahankan kesederhanaan rumahnya.
"Saya tetap pada prinsip pertama yakni kesederhanaan," pungkasnya. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.