Berita Nasional
Bung Towel Lapor PolisiJadi Korban Doxing dan Teror Setelah Kritik Sepak Bola Indonesia
Melalui laporannya, Bung Towel berharap tindakan ini bisa menjadi pembelajaran agar kritik dan diskusi di dunia sepak bola Indonesia tetap berjalan se
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Pengamat-sepak-bola-Tommy-Welly-alias-Bung-Towel-di-Polda-Metro-Jaya-Jumat-1712025.jpg)
TRIBUNGORNTALO.COM – Pengamat sepak bola Indonesia, Tommy Welly alias Bung Towel, resmi melaporkan dugaan ancaman dan teror yang dialaminya ke Polda Metro Jaya pada Jumat (17/1/2025) malam.
Dengan didampingi kuasa hukumnya, Bung Towel melaporkan sejumlah tindak pidana, termasuk penyebaran data pribadi atau doxing, yang ia alami bersama keluarganya.
Bung Towel menduga teror yang ia alami berawal dari kritik yang ia lontarkan terhadap kinerja mantan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong.
"Setiap kali saya memberikan catatan kritis, terutama misalnya terhadap kinerja Shin Tae-yong, otomatis terjadi penyerangan, pem-bully-an, dan sebagainya," ujarnya di kantor polisi.
Laporan tersebut teregister dengan nomor STTLP/B/397/I/2025/SPKT/Polda Metro Jaya.
Dalam laporan itu, Bung Towel menyertakan sejumlah bukti berupa tangkapan layar media sosial.
Ia melaporkan dugaan tindak pidana kejahatan informasi dan transaksi elektronik berdasarkan UU Nomor 1/2024, perubahan dari UU Nomor 11/2008 tentang ITE.
Teror COD dan Doxing
Bung Towel menyebut teror yang dialaminya beragam bentuk, salah satunya adalah pengiriman paket cash on delivery (COD).
Paket-paket tersebut dikirimkan setelah data pribadinya tersebar oleh akun media sosial tertentu.
"Setiap hari, ada paket COD yang datang. Itu sangat mengganggu ketenteraman. Saya sampai meminta keluarga untuk tidak menerima paket apa pun," kata Bung Towel.
Tidak hanya itu, ia juga menjadi korban doxing atau penyebaran informasi pribadi di media sosial.
Akibatnya, ia menerima serangan di berbagai platform, termasuk telepon dan pesan WhatsApp dari nomor tidak dikenal.
"Saya mengalami doxing sejak 17 Desember, data pribadi saya disebarluaskan. Anak-anak saya juga mengalami hal serupa sejak 14 Januari," ungkapnya. Bahkan, akun media sosial sekolah anak-anaknya turut menjadi sasaran.
Bung Towel menilai teror yang diterimanya telah melampaui urusan sepak bola dan memasuki ranah pribadi.
"Saya pikir, ini sudah tidak normal. Kritik saya soal sepak bola tidak seharusnya menyerempet keluarga, apalagi anak-anak saya," tegasnya.
Meski menjadi korban, Bung Towel menegaskan ia akan tetap kritis demi kebaikan sepak bola Indonesia.
"Kritik saya selalu dalam koridor sepak bola. Saya ingin atmosfer sepak bola kita lebih sehat, baik itu dari saya sebagai pengamat maupun dari publik bola," katanya.
Sebelumnya, Bung Towel juga sempat berseteru dengan Jeong Seok-seo alias Jeje, penerjemah Shin Tae-yong.
Jeje membalas sindiran Bung Towel terkait unggahan Shin Tae-yong yang mempromosikan restoran cepat saji.
Bung Towel menulis komentar sinis, "Memang cocoknya jualan," yang menuai kritik tajam dari warganet pendukung Shin Tae-yong.
Bung Towel mengaku telah lama berkecimpung di dunia sepak bola, baik sebagai jurnalis maupun praktisi.
Namun, ini adalah kali pertama ia mengalami doxing hingga menyeret keluarganya.
"Dalam perjalanan saya di dunia sepak bola, baru kali ini situasi seperti ini terjadi, bahkan sampai menyerempet anak-anak saya," ujarnya.
Melalui laporannya, Bung Towel berharap tindakan ini bisa menjadi pembelajaran agar kritik dan diskusi di dunia sepak bola Indonesia tetap berjalan sehat tanpa harus melibatkan ancaman atau serangan pribadi.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.