Satpol PP Viral
Istri Ibrahim Usman Korban Pemukulan Oknum Satpol PP Gorontalo Mengaku Sempat Dapat Ancaman Mutasi
Istri Ibrahim Usman, korban dugaan pemukulan oknum Satpol PP mengaku mendapat ancaman mutasi.
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ibrahim-Usman-bersama-anggota-Satpol-PP.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Istri Ibrahim Usman, korban dugaan pemukulan oknum Satpol PP mengaku mendapat ancaman mutasi.
Hal ini diungkapkan langsung Ibrahim dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara DPRD Provinsi Gorontalo dan Satpol PP, pada Senin (30/12/2024).
"Sempat, tapi untuk sekarang sudah tidak ada, Alhamdulillah sudah dijamin oleh pihak DPRD Provinsi dan juga Satpol PP Provinsi Gorontalo, terima kasih," ungkapnya.
Diketahui Istri Ibrahim alias Joko merupakan tenaga honorer di Kantor Gubernur Gorontalo.
Joko selama enam tahun selalu mengantarkan istrinya bekerja.
Namun pasca insiden pemukulan pada Senin (23/12/2024), Joko khawatir pekerjaan istrinya akan terganggu.
Menanggapi hal ini, Ketua Komisi I DPRD Provinsi Gorontalo, Fadli Poha, memastikan bahwa tidak akan ada mutasi atau tindakan sepihak terhadap istri Joko.
“Kami menjamin bahwa istri korban tidak akan mendapatkan sanksi mutasi atau bentuk ancaman lainnya. Kami akan terus memantau perkembangan kasus ini agar tidak ada tindakan yang dirugikan,” jelas Fadli.
Anggota Komisi I DPRD, Kristina Femmy Udoki, juga mendukung pernyataan tersebut dan meminta Pemerintah Provinsi Gorontalo memberikan perlindungan kepada istri Joko.
“Tenaga honorer seperti istri korban memiliki hak yang sama untuk bekerja dengan aman tanpa tekanan. Kami meminta pemerintah menjamin itu,” tambah Femmy.
Pada kesempatan yang sama, Kasatpol Provinsi Taufik Sidiki menegaskan tidak ada ancaman terhadap istri Joko.
"Kami akan pastikan itu tidak ada tindakan pemindahan terhadap istri korban atas kejadian ini," tegasnya.
Dalam rapat tersebut, pihak Satpol PP kembali menjelaskan bahwa insiden pemukulan telah diselesaikan secara damai antara korban dan anggota Satpol PP yang terlibat.
Joko menyebut keluarganya sudah tidak mempermasalahkan kejadian tersebut.
Ia merasa lega karena istrinya mendapatkan jaminan dari pihak DPRD dan Satpol PP.
"Alhamdulillah, saya punya cuma itu, jangan sampai berimbas ke istri saya," tuturnya.
Fadli lantas meminta tidak ada lagi tindakan yang berpotensi memperkeruh keadaan.
“Kasus ini sudah selesai melalui mediasi. Kami berharap tidak ada lagi isu atau tindakan yang dapat memperburuk keadaan,” tutup Fadli.
Baca juga: Juwita Pantow Ditemukan Tewas di Wisata Tangga 2000 Kota Gorontalo, Unggahan Terakhir Disorot
Awal Mula Kejadian
Joko mengantar istrinya ke kantor Gubernur Gorontalo pada Senin pagi (23/12/2024).
Karena khawatir istrinya terlambat, ia sedikit terburu-buru. Setelah mengantar istrinya, Joko langsung melaju keluar dari gerbang kantor.
“Saat pulang itu memang ada pemeriksaan, dan ada pohon di situ jadi saya terpaksa ambil jalur lain, dan saat itu ya namanya juga motor kopling, otomatis ekstra gas,” cerita Joko.
Ia pun telah meminta maaf dan beralasan terburu-buru karena meninggalkan anaknya di rumah bersama mertuanya yang sedang sakit.
Namun beberapa petugas piket jaga itu terlanjur naik pitam.
Ketika melihat Joko melintas, petugas Satpol PP yang berjaga segera menghentikannya dan memberikan teguran.
Salah seorang petugas langsung mencabut kunci motornya sambil mempertanyakan alasan Joko menggeber gas motor di Kantor Gubernur Gorontalo.
Joko yang merasa bersalah langsung meminta maaf kepada petugas.
“Saya langsung minta maaf ke mereka dan saya memang sudah salah,” tuturnya.
Namun tiba-tiba seorang anggota Satpol PP memukul kaca helmnya.
Beberapa saat kemudian ia turun dari sepeda motor dan membuka helmnya.
Ketika Joko berdiri, seorang petugas menendangnya tepat di area sensitif.
Hal itu membuat Joko tersungkur dan mengerang kesakitan.
Saat ini, Joko dan pihak Satpol PP Gorontalo telah mencapai kesepakatan damai.
Kedua belah pihak saling memaafkan atas insiden tersebut.
Namun keluarga Ibrahim alias Joko tidak terima begitu saja perlakuan oknum Satpol PP tersebut.
Ayah Joko bersikeras ingin melaporkan kejadian ini kepada pihak berwenang.
Terduga pelaku pemukulan pun disebut telah meminta maaf langsung kepada korban.
Akan tetapi, ayah Joko tetap ingin menempuh jalur hukum.
"Saya maafkan, namanya juga manusia saya maafkan, tapi jalur hukum tetap berjalan," ungkapnya dalam bahasa Gorontalo di ruangan mediasi yang dihadiri pihak keluarga korban, pihak Satpol PP Provinsi Gorontalo dan Kepolisian. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.