Berita Gorontalo
HIV/AIDS di Gorontalo Capai 1.180 Kasus, Upaya Pencegahan Jadi Fokus Utama
Fakta ini diungkap oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Anang Otoluwa, dalam kegiatan Seminar Break The Silence HIV Awareness For The Fearl
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Agenda-Seminar-Nasional-Break-The-Silence-HIV-Awarenes-For-The-Fearless-Generation.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Penyebaran HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) di Provinsi Gorontalo menunjukkan tren peningkatan.
Peningkatan kasus menular itu terjadi sejak pembentukan provinsi ini pada 2001. Hingga kini, tercatat sebanyak 1.180 kasus.
Fakta ini diungkap oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Anang Otoluwa, dalam kegiatan Seminar Break The Silence HIV Awareness For The Fearless Generation yang digelar di Grand Place Convention Center (GPCC) Gorontalo, Sabtu (30/11/2024).
"Jumlah tersebut merupakan akumulasi kasus sejak Provinsi Gorontalo berdiri," kata Anang.
Namun, ia menambahkan bahwa pada 2024, jumlah penderita yang masih hidup telah menurun signifikan.
"Saat ini, data yang kami terima menunjukkan masih ada 445 orang yang hidup dengan HIV/AIDS di Gorontalo," jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Anang menekankan pentingnya edukasi masyarakat terkait pencegahan, pengobatan, dan dukungan bagi penderita HIV/AIDS.
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak ragu melakukan tes HIV/AIDS secara rutin sebagai langkah deteksi dini.
"Pencegahan hanya dapat dilakukan jika masyarakat memahami pentingnya tes dini dan pengobatan segera," pungkasnya.
Sebagai langkah nyata, Ketua Indonesian Young Pharmacists Group (IYPG) Gorontalo, Nur Rismayani, memimpin pembacaan empat poin komitmen bersama antara Pemerintah Provinsi Gorontalo dan organisasi profesi kesehatan. Komitmen ini diharapkan dapat membantu mengurangi penyebaran HIV/AIDS secara signifikan.
Isi komitmen tersebut meliputi upaya maksimal untuk menekan penyebaran HIV/AIDS di Gorontalo.
Lalu Edukasi menyeluruh ke semua lapisan masyarakat dan menghapus stigma negatif terhadap penderita HIV/AIDS. Serta Mengawal ketersediaan obat bagi para penderita.
"Kami ingin membangun kesadaran kolektif untuk bersama-sama memerangi HIV/AIDS, bukan hanya dari sisi medis tetapi juga sosial," ujar Nur.(*)