Khazanah Islam

Jadikan Al-Quran sebagai Pedoman dan Penyelamat Dunia Akhirat

Al-Quran menjadi podasi umat Islam. Diturunkannya Al-Qur’an biasanya selalu diisi dengan mengingat kisah turunnya Al-Qur’an

Editor: Minarti Mansombo
Tangkap Layar
Al-Quran 

TRIBUNGORONTALO.COM- Al-Quran menjadi podasi umat Islam. Diturunkannya Al-Qur’an biasanya selalu diisi dengan mengingat kisah turunnya Al-Qur’an hingga proses disusunnya mushaf Al-Qur’an di jaman Khalifah Usman bin Affan.


Tujuan mengingatkan jama’ah, baik di depan layar kaca maupun di majelis-majelis pertemuan dengan kisah turunnya Al-Qur’an adalah untuk memperteban iman terhadap kitab suci ummat Islam tersebut.


Di luar itu, pembahasan tentang Al-Qur’an bisa masuk ke topik prioritas menurut pandang masing-masing penceramah.


Patut diduga juga, para da’i yang selama ini penganjur dan penggerak gerakan mencetak hafiz-hafiz pasti akan kembali menghimbau orang-orang tua untuk mendorong anak-anak mereka untuk mengikuti pendidikan tahfiz dan mendukung lembaga-lembaga pendidikan tahfiz Qur’an.

Himbauan lain, seperti yang sering disampaikan sejumlah ustadz kondang, adalah agar orang-orang mau menyumbang mushaf Al-Qur’an untuk sekolah-sekolah tahfiz. Alasan yang diusung dalam himbauan tersebut biasa terkait dengan peluang meraih pahala tidak hanya bagi si anak, melainkan juga bagi orang tua.


Himbauan mendukung program-program tahfiz,yang makin gencar disampaikan selama beberapa tahun terakhir memang sudah berpengaruh luas. Sekolah-sekolah tahfiz bermunculan di berbagai tempat. Bahkan unit kerja di Kementerian Agama pun memberi perhatian dan dukungan khusus bagi masyarakat yang mengajukan proposal pendirian sekolah tahfiz.


Himbauan untuk bersedekah Al-Qur’an yang disampaikan sejumlah da’i kondang juga tampak efektif. Selain gerakan menghimpun dan menyalurkan mushaf Al-Qur’an tumbuh dengan pengorganisasiannya yang semakin baik, jumlah orang yang bersedekah mushaf Al-Qir’an sepintas juga tampak meningkat.

Salah satu himbauan yang berpengaruh terhadap peningkatan jumlah sekolah tahfiz dan jumlah orang yang bersedekah mushaf mungkin pesan matematika pahala mensededekahkan Al-Qur’an yang disampaikan berulang-ulang oleh seorang ustadz kondang. Ustadz yang bersangkutan menjelaskan “matematika pahala” menyumbang Al-Qur’an jika dibaca hafiz Al-Qur’an yang menghasilkan pahala beranak-pinak bagi penyumbang mushaf Al-Qur’an. Pertumbuhan pahala itu terbentuk dari kegiatan membaca Al-Qur’an yang dijadikan bacaan setiap hari oleh hafiz Qur’an.


Hitungan pahala membagi Al-Qur’an khususnya, dan mendirikan pendidikan tahfiz, ini memang memberi daya tarik yang kuat karena hitungan kelipatan tumbuh pahalanya yang sederhana tadi. Setiap orang yang sudah beriman, termasuk iman kepada alam baqa menyediakan dua pilihan tempat, satu surga dan satu neraka, pastilah ingin mengumpulkan pahala sebanyak mungkin.

Ketika peluang itu tampak dari dukungan terhadap sekolah tahfiz, memasukkan anak-anak ke sekolah tahfiz dan menyumbang mushaf Al-Qur’an, jalur ini lalu menjadi pilihan bagi orang yang beriman.


Salahkah pilihan tersebut? Salahkah jika makin banyak orang yang hafal Qur’an dan membaca Qur’an? Tentu saja sama sekali tidak. Tren yang sedang terjadi adalah penguatan satu sisi penyikapan terhadap Al-Qur’an sebagai bacaan yang mulia dan yang setiap huruf yang dibaca mendatangkan pahala bagi yang membaca.

Tetapi, fungsi Al-Qur’an bukan hanya sebagai bacaan dalam arti mengikuti lafaz hurufnya dengan lidah. Fungsi utama Al-Qur’an juga bukan untuk bahan hafalan. Bahkan tidak satu pun ditemukan ayat dalam Al-Qur’an itu sendiri yang menyebut fungsi Al-Qur’an sebagai bahan hafalan. Fungsi-fungsi Al-Qur’an yang disebut berulang-ulang di dalam Al-Qur’an itu sendiri adalah sebagai penerangan, sebagai petunjuk, sebagai pelajaran, sebagai pedoman, dan sebagai bimbingan. (Ali Imran: 138; Al ‘An’am: 155; Yusuf: 111; Al Kahfi: 27; Sad: 29; Al Jathiyah: 20; Al Qamar: 17, 22, 32, 40; Al Haqqah: 48).

Baca juga: Doa Pembuka Pintu Rezeki Berlimpah! Dibaca Pagi dan Sore Hari

Maka, gairah besar memfungsikan Al Qur’an sebagai bacaan dan hafalan saat ini tentu tidak boleh membuat para da’i, mubaligh, ustadz dan orang tua di dalam rumah tangga terlupa dengan fungsi utama dari Al Qur’an yang nyata-nyata disebutkan berulang-ulang di dalam Al Qur’an itu sendiri.

Jika kita tarik lagi ke arah tujuan diturunkannya agama Islam, diutusnya Nabi Muhammad SAW dan diturunkannya Al Qur’an, maka semarak membaca dan menghafal Al Qur’an saja tentu tidak cukup sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan itu. Tujuan diturunkannya agama Islam adalah untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam, untuk menjadikan manusia menjadi sebaik-baiknya makhluk dan untuk menjadikan manusia bahagia dunia dan akhirat. Menjadi manusia baik jelas pahalanya tidak lebih kecil dari pahala melafazkan Al Qur’an. Ingat, seorang pelacur yang terpanggil hatinya memberi minum seekor anjing yang hampir mati kehausan bisa melompat statusnya menjadi ahli surga, asalkan sesudah itu ia bertaubat untuk perbuatan-perbuatan dosanya.

Untuk mencapai tujuan tadi, tidak lain adalah dengan menjadikan Al Qur’an (dan Sunnah Rasul) sebagai ajaran yang harus dipelajari, dipahami dan dijadikan pedoman, petunjuk dan bimbingan.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved