Kamis, 19 Maret 2026

Perundungan di SMK Gorontalo

Ayah Korban Dugaan Perundungan Pertanyakan Pihak SMKN 1 Gorontalo 'Kenapa Miras Bisa Masuk Sekolah'

Orang tua korban dugaan perundungan di SMK Negeri 1 Gorontalo meminta pertanggungjawaban pihak sekolah.

Tayang:
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Ayah Korban Dugaan Perundungan Pertanyakan Pihak SMKN 1 Gorontalo 'Kenapa Miras Bisa Masuk Sekolah'
TribunGorontalo.com/Arianto
AR, siswa SMK Negeri 1 Gorontalo terbaring lemah pasca tak sadarkan diri akibat di bawah pengaruh miras 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Orang tua korban dugaan perundungan di SMK Negeri 1 Gorontalo meminta pertanggungjawaban pihak sekolah.

MG mempertanyakan siswa bisa membawa minuman keras (miras) saat kegiatan belajar mengajar.

"Saya meminta agar pihak sekolah bertanggung jawab atas kejadian ini," ungkapnya kepada wartawan, Kamis (12/9/2024).

Ia menilai insiden terjadi pada anaknya termasuk kelalaian dan minimnya pengawasan sekolah. 

"Kenapa barang-barang (miras) seperti itu bisa masuk ke lingkungan sekolah?" tuturnya.

MG menyebut pihaknya akan menempuh jalur hukum dan tidak berniat berdamai dengan orang tua terduga pelaku.

"Kalau damai sampai saat ini tidak terpikirkan, saya tetap melanjutkan ke jalur hukum. Biarkanlah ini mengalir dengan sendirinya," jelas MG.

Menurut MG, langkah ditempuh ini merupakan jalan terbaik supaya hal serupa tidak terjadi di Gorontalo.

MG pun telah melaporkan kejadian dugaan perundungan tersebut ke Polsek Kota Utara sekira pukul 21.00 Wita, Rabu (11/9/2024).

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 1 Gorontalo, Zulkarnain Tanipu, membenarkan siswanya terlibat pesta miras.

"Iya benar, mereka membawa miras di lingkungan sekolah," ucapnya.

Namun Zulkarnain mengaku pihak sekolah tak mengetahui para siswa membawa miras.

Kronologi

Siswa SMK Negeri 1 Gorontalo berinisial AR (14) diduga menjadi korban perundungan atau bullying.

Menurut penuturan orang tuanya, AR mengalami kekerasan oleh empat siswa SMKN 1 Gorontalo.

Orang tua AR, MG, menceritakan kronologi kejadian kepada TribunGorontalo.com, Rabu (11/9/2024) malam.

MG mengatakan insiden itu terjadi pada Selasa 10 September 2024 sekira pukul 15.00 Wita. 

Saat itu MG mendapat telepon dari anaknya AR. 

Namun saat itu tutur kata AR tidak terdengar jelas.

Ternyata itu adalah teman AR. Ia sengaja menghubungi MG untuk memberi tahu kondisi AR yang sudah terkapar.

"Saya telpon lagi terus saya tanya, itu kok bisa nelpon pakai handphone anak saya, bagaimana kau bisa buka itu, kata temannya pakai sidik jari anak saya," ucap MG menirukan perkataan teman AR.

Setelah berbicara di telepon, MG langsung bergegas menuju tempat AR berada.

Setibanya di lokasi, MG melihat anaknya (AR) terbaring dalam kondisi mulut berbusa. 

MG pun segera membawa anaknya ke RS Multazam.

"Setelah diperiksa beberapa saat, anak saya dirujuk ke Rumah Sakit Aloe Saboe Kota Gorontalo," ungkapnya.

MG mengatakan saat itu ia belum bisa menyimpulkan secara detail kronologis kejadian. 

Namun pihak sekolah sudah memanggil orang tua korban dan orang tua siswa yang terlibat dalam pesta miras.

Pertemuan itu membahas masalah penyebab AR masuk rumah sakit.

"Saat itu saya masih menunggu hasil visum anak saya, setelah itu menentukan langkah selanjutnya. Lalu saya balik ke RS Aloe Saboe," jelas MG.

Sekira pukul 19.00 Wita, MG mendapatkan bukti video detik-detik sebelum AR tak sadarkan diri.

Dalam video tersebut terekam jelas perlakuan empat siswa terhadap AR. 

MG juga meminta penjelasan dari AR yang baru saja siuman. 

AR mengaku dipaksa oleh empat temannya agar mau patungan membeli minuman keras. 

Namun saat itu AR hanya memiliki uang Rp15 ribu.

"Anak saya bilang uangnya cuma cukup untuk beli makan tapi temannya memaksa, dan meminta anak saya untuk hutang dulu kalau makan," ungkap MG.

MG menduga anaknya dipalak oleh terduga pelaku. 

Setelah itu terduga pelaku dan korban meminta izin keluar sekolah untuk mengurus ijazah. 

Padahal mereka pergi membeli miras.
AR kala itu diduga dipaksa untuk meminum miras.

"Pengakuan anak saya dia mau berhenti tapi dipaksa. Tambah lagi, tambah lagi kata temannya. Sampai anak saya tidak bisa melakukan apapun," ucap MG.

 

Ikuti Saluran WhatsApp TribunGorontalo untuk informasi dan berita menarik lainnya

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved