Travel
Studi Membuktikan 17 Persen Pasangan Putus Gara-gara Liburan, Kok Bisa?
Namun, survei nasional terbaru oleh aplikasi kencan Bumble dan platform pengalaman perjalanan Klook mengungkapkan sisi gelap liburan bersama.
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
TRIBUNGORONTALO.COM -- Liburan bersama pasangan bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan dan berharga.
Namun, survei nasional terbaru oleh aplikasi kencan Bumble dan platform pengalaman perjalanan Klook mengungkapkan sisi gelap liburan bersama.
Studi tersebut menemukan bahwa satu dari enam (17 persen) orang Singapura mengakhiri hubungan mereka karena pengalaman liburan yang buruk.
Survei ini dilakukan antara tanggal 5 dan 12 Juni melibatkan 1.000 orang Singapura berusia 18 hingga 43 tahun.
Perjalanan Pertama: Titik Balik Hubungan
Perjalanan pertama bersama adalah tonggak penting bagi setiap pasangan.
Berlibur dengan pasangan memungkinkan kesempatan lebih besar untuk mengenal mereka lebih dekat.
Namun, terkadang, gambaran lengkap yang terungkap tidak selalu sesuai harapan.
Tujuh puluh tiga persen responden survei mengakui bahwa perjalanan bersama dapat mengubah pendapat mereka tentang pasangan, baik ke arah yang lebih baik maupun lebih buruk.
Pengalaman liburan yang buruk bahkan dapat menyebabkan hubungan berakhir, sehingga tidak heran jika orang Singapura cenderung lebih berhati-hati.
Bagi enam dari sepuluh orang Singapura (60 persen), topik perjalanan tidak diangkat hingga hubungan mereka mencapai tahap enam bulan.
Dua puluh satu persen bahkan lebih berhati-hati dan hanya merasa nyaman untuk berlibur dengan pasangan setelah satu tahun.
Bicara Tentang Perjalanan
Perjalanan adalah topik penting dalam kehidupan kencan orang Singapura. Lebih dari delapan dari sepuluh (82 persen) responden survei mengatakan bahwa mereka membicarakan tentang perjalanan yang telah atau akan dilakukan saat mengobrol dengan calon pasangan.
Hal ini tidak hanya menjadi pembuka percakapan yang cepat, tetapi juga memberikan sekilas tentang preferensi perjalanan pihak lain.
Tidak ada salahnya mengetahui apakah calon pasangan Anda lebih menyukai pemandangan kota atau melarikan diri ke pedesaan.
Mengelak Jebakan
Saat berlibur, Anda (umumnya) berada dalam jarak dekat dengan orang yang sama untuk jangka waktu yang lama.
Sangat tidak mungkin bahwa semuanya akan berjalan sesuai rencana. Selain itu, potensi masalah dalam hubungan mungkin muncul.
Kesulitan umum yang dihadapi pasangan saat bepergian adalah perbedaan dalam anggaran dan kebiasaan belanja.
Hampir setengah dari responden (45 persen) mencatat bahwa hal ini dapat merusak liburan bahkan hubungan mereka.
Hambatan lain dalam hubungan termasuk kurangnya stabilitas emosional dalam krisis dan situasi tak terduga (41 persen), serta kontras dalam kebiasaan hidup (31 persen).
Hubungan Masih Bisa Diselamatkan
Meskipun perjalanan bersama dapat menyoroti perbedaan antara pasangan, Klook dan Bumble mencatat bahwa ada cara untuk mengatasinya.
Pertama, komunikasikan dengan pasangan Anda. Diskusikan lebih awal tentang preferensi dan harapan perjalanan.
Hal ini memastikan batasan ditetapkan dan meminimalkan kemungkinan kejutan yang tidak diinginkan selama perjalanan.
Kedua, bersikap terbuka untuk kompromi. Meskipun tidak ada salahnya bersikeras tentang kebutuhan Anda, harus ada keseimbangan agar kebutuhan kedua belah pihak terpenuhi.
Lebih dari setengah (57 persen) orang Singapura mengatakan mereka lebih menyukai tanggung jawab yang sama dalam merencanakan perjalanan mereka.
Namun berdasarkan data Klook, tampaknya pria tidak memberikan kontribusi yang cukup, dengan 62 persen wanita melakukan pemesanan dibandingkan dengan 38 persen pria.
Jadi, pada perjalanan Anda berikutnya dengan pasangan, mengapa tidak menawarkan lebih banyak bantuan?
Hal ini dapat meningkatkan keseluruhan pengalaman perjalanan dan menjaga hubungan yang sehat.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustrasi-liburan.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.