Human Interest Story

Keteguhan Hati dan Kerja Keras Agum Tubuon yang Berbuah Manis

Menjadi Duta Bahasa Provinsi Gorontalo rupanya bukan suatu kebetulan. Melainkan, satu bukti hasil perjuangannya sejak duduk di bangku sekolah.

|
Penulis: Rafiqatul Hinelo | Editor: Wawan Akuba
DOC -- kantor Bahasa Gorontalo
Agum Tubuon, Duta Bahasa Provinsi Gorontalo 2023. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Agum Tubuon bukan hanya sekadar pindah tempat tinggal dari Minahasa Selatan, Sulawesi Utara (Sulut) ke Gorontalo.

Namun, ia membawa serta semangat dan prestasi yang mengesankan. Salah satu pencapaian terbesarnya adalah terpilih sebagai Duta Bahasa 2023.

Ini adalah kehormatan yang menunjukkan betapa gigihnya dia dalam menggapai mimpi.

Menjadi Duta Bahasa Provinsi Gorontalo rupanya bukan suatu kebetulan. Melainkan, satu bukti hasil perjuangannya sejak duduk di bangku sekolah.

Agum menceritakan bahwa dirinya sangat senang belajar hal baru.

Saat duduk di bangku SMA, ia mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

“Saat SMA saya jurusan IPA, Alhamdulillah sering mendapat kesempatan mengikuti berbagai macam lomba,” kata Agum.

Prestasi Agum memudahkannya berusaha memperoleh beasiswa saat hendak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

“Kala itu saya sudah lulus di IAIN Manado, tapi saya harus harus merelakan kesempatan itu,”

“Alasannya karena faktor ekonomi. Sebetulnya saya tidak ingin mengungkapkan alasan ini, karena terdengar klasik, tapi memang seperti itu adanya,” ungkap Agum.

Agum sudah berusaha memperjuangkan peluang beasiswa pada waktu itu.

Namun, rupanya memang bukan rezeki Agum untuk mendapatkannya.

Salah satu syarat untuk bisa mendapat beasiswa, Agum harus memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP).

“Tapi saat itu saya tidak punya KIP, saya juga bingung kenapa saat saya mengurus KIP, saya tidak mendapat KIP-nya,"

“Padahal, sudah bukan hanya rumah gubuk, menurut saya, sepertinya saya sudah lebih dari memenuhi syarat, karena saya memang tidak punya rumah,” kata Agum.

Sepeninggal ayah dan ibunya, Agum hidup bersama kakak-kakaknya.

Tapi, saudara kandung Agum pun kini sudah berkeluarga.

Sehingga, Agum benar-benar harus berjuang sendiri untuk bertahan dan melanjutkan perjalanan hidupnya.

Tidak berhasil melanjutkan impiannya belajar di fakultas pendidikan IAIN Manado, tidak lantas membuat Agum menyerah.

Mengisi waktu luang, Agum kembali terpanggil melanjutkan perjuangan dakwah.

Rupanya Agum punya semangat tinggi untuk menyebarluaskan nilai-nilai Islam.

“Saya punya saudara, ia mengemban amanah ketua umum Pemuda Muhammadiyah di Sulawesi Utara, saya memilih bergabung dengan misinya,” ucap Agum.

Saudaranya inilah yang banyak membuat Agum terinspirasi.

Ia mengajak Agum melakukan perjalanan dakwah ke hampir seluruh wilayah Sulawesi Utara.

Hingga kemudian Agum merasa wawasannya semakin terbuka.

“Sejak saat itu saya merasa, wah luas sekali dunia ini, ya.  Kala itu juga menjadi awal mula lahir keinginan dalam hati saya untuk merantau ke Gorontalo,”

“Saya ingin menjadi seperti pak Habibie, kuliah di tanah orang bukan dengan beasiswa,” tutur Agum.

Agum bertekad untuk berjuang dari nol, mencari pekerjaan di Gorontalo supaya bisa melanjutkan studi di perguruan tinggi, yang sebelumnya sempat tertunda.

Tak disangka, Agum akhirnya membuktikan kerja kerasnya tak sia-sia.

Agum berhasil diterima kerja sebagai Humas di Universitas Bina Taruna.

Uniknya, Agum diterima karena sekretaris Yayasan Bina Taruna terkagum melihat satu karya video buatan Agum.

“Kala itu UNBITA masih merupakan Yayasan, Ibu Elis yang saat ini Rektor UNBITA adalah sekretarisnya. Ia melihat video itu dari kakak saya,” kata Agum.

Peran Humas di UNBITA menjadi pekerjaan yang Agum lakoni hingga saat ini.

Kesempatan mengemban amanah Humas UNBITA lantas membuat Agum bertemu dengan banyak orang, dari banyak instansi.

“Termasuk awal mula saya daftar ikut seleksi Duta Bahasa, ya lewat pintu ini,” ucap Agum.

Agum yang awalnya menjalankan tugasnya sebagai bagian humas, kala itu hanya melakukan tugas seorang humas  seperti biasanya. 

Ia melayani pihak luar yang bermaksud meminjam fasilitas kampus.

Akhirnya, Agum justru mendapat kesempatan untuk ikut seleksi Duta Bahasa.

Agum menjadi sosok inspiratif bagi kaum muda, untuk tidak berhenti berjuang mengejar impian.

Agum adalah inspirasi untuk tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan berhenti berkarya. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved