Jumat, 13 Maret 2026

Universitas Negeri Gorontalo

Sosiolog UNG Ungkap Hikmah Kurban dalam Perspektif Antropologi Gorontalo

Kurban bisa berarti keikhlasan, pengorbanan, takzim, penghormatan, kepemilikan, merasa diri, buruk sangka, tidak sabaran, ketaatan, dan sikap bertahan

Tayang:
Penulis: Prailla Libriana Karauwan | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Sosiolog UNG Ungkap Hikmah Kurban dalam Perspektif Antropologi Gorontalo
TribunGorontalo.com
Funco Tanipu, sosiolog Gorontalo 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Simak makna kurban dalam perspektif antropologi Gorontalo.

Kurban bisa berarti keikhlasan, pengorbanan, takzim, penghormatan, kepemilikan, merasa diri, buruk sangka, tidak sabaran, ketaatan, dan sikap bertahan.

Funco Tanipu, Dosen Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo (UNG), mengatakan momentum kurban merupakan praktik Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam melaksanakan perintah Allah SWT.

"Walaupun pada ujungnya simbolik, tapi untuk sesuatu yang simbolik ada perjuangan untuk mengorbankan sifat merasa memiliki, sifat buruk sangka dan tidak sabaran atas ketetapanNya, hingga ketaatan dan terus bertahan atas-Nya," ujar Funco, Senin (17/6/2024).

Dalam perspektif Gorontalo, lanjut dia, ada tiga katasesuai dengan kurban yakni mongoloto (memotong), mongotongo (membatasi) dan mongotolo (menahan).

Tiga kata tersebut menjadi kontekstual dengan kondisi kekinian, apakah memotong sifat-sifat hewani dalam diri, atau menahan diri dari sifat hewani yang liar.

Dalam hal ini membatasi diri dari batas-batas perilaku dan pola pikir yang melampaui batas-batas kemanusiaan dalam hal ini memasuki sifat hewani.

"Jadi, manusia Gorontalo sebagian besar memiliki feeling (pongorasa) bagaimana menempatkan diri untuk mongoloto, mongotolo, mongotogo," ungkapnya.

Setiap manusia tahu caranya agar tidak berburuk sangka untuk sesuatu yang tak diketahui. Apalagi hanya terdengar dari mulut orang lain.

"Ia tidak merasa diri dengan apa yang hanya dipinjamkan padanya, apakah itu jabatan, pengetahuan, gelar dan jabatan (bulo-buloto), hingga apalagi ia tidak akan merendahkan martabat orang lain, dalam pandangan matanya yang minimal itu," jelasnya.

Hikmah kurban adalah bulo-buloto (dipinjamkan), jika mulai ada perasaan motoloWa'u atau Haku (merasa diri/merasa hak).

Selanjutnya seseorang akan mengalami tiga hal: oloto liyo (akan dipotongNya), otongo liyo (akan dibatasiNya) dan hingga meloto'o (tercebur/terjerembab/terhina).

"Semua akan menuju pilihan dan takdir masing-masing, tetapi yang kita harus berdoa dan berusaha agar tidak dijadikan contoh bagi manusia yang lain dalam oloto Liyo, otongo Liyo hingga popolotoiyo," jelasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved