Viral Nasional

Derita TKI, Dikunci Majikan di Luar Rumah Setiap Hari Selama 18 Jam

Dilaporkan oleh World of Buzz pada Selasa (11/6/2024) melalui Tribun Trends, insiden ini memperlihatkan saat seorang TKI ditemukan di balkon rumah di

Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
New Straits Times via Tribun Trends
TKI 21 tahun di Malaysia dikunci oleh majikannya di balkon luar rumah. Ia hanya diperbolehkan masuk rumah selama 6 jam. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Kisah seorang wanita berusia 21 tahun yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Petaling Jaya, Malaysia viral di media sosial.

Ia menarik perhatian karena dikunci oleh majikannya di balkon luar rumah setiap hari.

TKI ini hanya diizinkan masuk ke rumah selama 6 jam untuk mengerjakan tugas-tugas rumah tangga setiap harinya.

Dilaporkan oleh World of Buzz pada Selasa (11/6/2024) melalui Tribun Trends, insiden ini memperlihatkan saat seorang TKI ditemukan di balkon rumah di Petaling Jaya, Malaysia.

Baca juga: Daftar 4 Anggota Termuda DPRD Boalemo Periode 2024-2029

Menurut laporan dari New Straits Times, ada permintaan bantuan untuk menyelamatkan pembantu rumah tangga asal Indonesia ini.

Wanita malang tersebut dikurung di balkon selama berjam-jam dan tidak diperbolehkan masuk ke dalam rumah.

Lebih memilukan lagi, TKI ini hanya diberi kasur dan bantal untuk tidur di balkon tersebut.

Penderitaannya berakhir ketika ia berhasil meminta bantuan dengan menulis pesan dan melemparkannya keluar dari balkon.

Laporan tersebut mengungkapkan bahwa ia hanya diperbolehkan masuk ke rumah dari jam 5 pagi hingga 11 pagi untuk membersihkan rumah.

Selain waktu tersebut, wanita ini tetap terkurung di balkon.

Bahkan saat hujan, balkon tersebut tidak sepenuhnya tertutup sehingga ia tidak bisa berteduh dengan baik.

Ia mengaku harus tidur dalam keadaan basah.

Asisten Direktur CID Federal, Asisten Komisaris Senior Soffian Santong, menyatakan bahwa korban belum menerima gaji karena baru bekerja selama sekitar satu minggu.

Baca juga: 5 Berita Populer Gorontalo Jumat 14 Juni 2024: 130 Nama Caleg Terpilih hingga Kadis PUPR Terkejut

"Korban menerima makanan dan minuman tiga kali sehari," kata Soffian Santong. 

Menurut The Straits Times, pada 9 Juni pukul 5 sore, divisi Anti-Perdagangan Manusia dan Anti-Penyelundupan Migran (Atipsom) Departemen Investigasi Kriminal Bukit Aman melakukan penggerebekan di apartemen tersebut.

Mereka berhasil menangkap seorang perempuan berusia 69 tahun yang mereka curigai sebagai majikan korban.

Kasusnya kini diselidiki berdasarkan UU Atipsom dan UU Imigrasi.

Di tempat lain, sebuah kisah viral terjadi di China. Seorang pengasuh anak bernama Yu, terpaksa merawat seorang balita selama berbulan-bulan tanpa menerima bayaran setelah orang tua anak itu menghilang.

Yang lebih parah, majikan Yu melarikan diri dengan membawa uang yang mereka pinjam darinya.

Menurut laporan dari Oddity Central, Yu, korban dalam kasus ini, telah menjadi berita utama di China selama lebih dari sebulan.

Yu mengatakan bahwa ia dipekerjakan oleh pasangan suami istri di Harbin, provinsi Heilongjiang, untuk merawat anak mereka yang baru lahir dengan janji gaji bulanan sebesar 7.000 yuan (sekitar Rp15,5 juta).

Tak lama setelah mencapai kesepakatan, orang tua bayi itu memberi tahu Yu bahwa mereka harus pergi ke Tianjin untuk mengurus warisan besar, termasuk properti dan barang mewah.

Mereka meminta Yu untuk meminjamkan uang guna membayar pengacara dan mengurus dokumen, dengan janji akan mengembalikannya.

Sebagai jaminan, mereka menunjukkan foto-foto barang mewah dan dokumen kepemilikan hotel.

Yu setuju untuk merawat anak mereka selama mereka menyelesaikan urusan di Tianjin, merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, situasinya berubah drastis.

Yu mengungkapkan bahwa ia belum menerima gajinya sejak November tahun lalu, meskipun terus merawat anak tersebut setelah orang tuanya menghilang.

Lebih buruk lagi, Yu juga meminjamkan sejumlah besar uang, termasuk tabungan hidupnya dan uang yang dipinjam dari saudara laki-lakinya, karena percaya bahwa orang tua bayi itu akan membayarnya setelah menerima warisan.

Secara keseluruhan, pasangan tersebut berutang lebih dari 110.000 yuan (sekitar Rp244 juta) kepada Yu.

“Saya telah memberikan seluruh tabungan saya kepada mereka, tetapi sejak November tahun lalu, saya belum menerima gaji apa pun,” kata Yu dengan kecewa.

“Mereka juga berutang uang yang saya pinjam dari saudara laki-laki saya,” tambahnya.

Yu menunjukkan kepada wartawan gambar-gambar jam tangan mahal, mobil, dan barang mewah lainnya yang konon merupakan bagian dari warisan yang akan diterima orang tua anak itu.

Kini, ia menyadari bahwa semuanya mungkin dipalsukan untuk menipu dirinya.

Setelah memeriksa dokumen kepemilikan hotel di Harbin, Yu menemukan jejak penyuntingan digital.

Cerita tentang warisan dari seorang pria yang pernah menjalin hubungan dengan ibu anak itu lebih dari satu dekade lalu kini tampak meragukan, tetapi Yu sempat tertipu oleh mereka.

Yu berulang kali mencoba menghubungi orang tua bayi tersebut melalui telepon dan WeChat, namun mereka sepertinya telah menghilang.

Ia juga menghubungi hotel yang diduga milik mereka, namun pemilik hotel mengaku tidak pernah mendengar tentang mereka, sehingga kecurigaan Yu bahwa ia menjadi korban penipuan semakin menguat.

Satu hal yang membuat semuanya lebih membingungkan adalah anak tersebut.

Bagaimana mungkin ada orang yang tega meninggalkan anak mereka demi keuntungan finansial sebesar 110.000 yuan?

Yu tidak punya jawaban atas pertanyaan itu, tapi ia juga tidak tega meninggalkan anak tersebut. Ia terus merawatnya selama berbulan-bulan, berharap orang tuanya pada akhirnya akan kembali.

Tidak jelas apakah pihak kepolisian telah diberitahu mengenai kasus ini, namun banyak komentar di media sosial menyatakan kecurigaan bahwa pasangan tersebut bukanlah orang tua kandung anak itu.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved