Sabtu, 7 Maret 2026

Wawancara Eksklusif

FULL Cerita Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo : Sang Deklarator Provinsi Gorontalo

Wawancara eksklusif TribunGorontalo.com dengan Bupati Gorontalo, Nelson Pomalingo di Tribun Podcast Seri Ngopi - Ngobrol Sang

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Ponge Aldi

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Wawancara eksklusif TribunGorontalo.com dengan Bupati Gorontalo, Nelson Pomalingo di Tribun Podcast Seri Ngopi - Ngobrol Sang Pemimpin di ruang podcast TribunGorontalo pada Senin (22/04/2024)

Diketahui, Nelson Pomalingo tokoh di Gorontalo yang mengusung dan mendeklarasikan terbentuknya Provinsi Gorontalo. 

Sebagian orang mengenalnya hanya sebatas, tokoh publik yang menjabat sebagai Bupati Gorontalo selama dua periode. 

Disisi lain, pria kelahiran Limboto, 24 Desember 1962 itu, tercatat juga pernah menjabat sebagai rektor Universitas Negeri Gorontalo dan Universitas Muhammadyah Gorontalo. 

Namun orang banyak yang tak tau bagaimana kisah kecilnya Nelson, kehidupan keluarganya, kisah bagaimana awal mula ide mendeklarasikan pembentukan Provinsi Gorontalo, serta keputusannya menjajalai dunia politik dan meninggalkan zona pendidikan. 

Berikut wawancara eksklusif Nelson Pomalingo (NP) bersama Aldi Ponge (AP) Manager Content TribunGorontalo.com bertajuk 'Cerita sang Deklarator'. 

AP : Prof Nelson, mengawali itu banyak tribunews ingin tahu kegiatan sehari-hari seorang Bupati Gorontalo, bisakah ceritakan apa saja kegiatan rutinitas Anda, setiap hari seorang bupati?

NP : Iyah, jadi setengah hidup saya ini sebelumnya habis di kampus. Saya pernah menjadi rektor Universitas Negeri Gorontalo dan Universitas Muhammadiyah Gorontalo. 

Soal pertanyaan kesibukan jadi bupati yang jelas harus diutamakan, itu prioritas saya dari pagi, bahkan ada yang sampai jam 12 malam kalau saya belum istrahat. 

Suka dukanya, mau itu masalah melahirkan, orang sekolah, bahkan masalah rumah tangga pun mereka laporkan ke bupati, jadi itulah namanya kita sebagai pelayan. 

AP : Prof, Kita tahu kesibukan seorang kepala daerah, banyak harus dikerjakan untuk masyarakat. Bagaimana Prof membagi waktu  antara urusan pemerintah, Akademisi, partai politik dan organisasi sosial yang Anda pimpin? Masih adakah waktu khusus disediakan untuk istri, anak dan cucu?

NP : Iyah benar, selain menjabat sebagai bupati, saya juga menjabat sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia, Ketua Serikat Pekerja Indonesia (SPI), Ketua Persidaga, dan masih banyak lagi, termasuk Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Gorontalo. 

Sejak kuliah saya memang telah banyak menggeluti dunia organisasi dan saya juga aktivis. 

Waktu bersama keluarga saya sisihkan di hari Sabtu dan Minggu, kadang di hari-hari kerja, namun kondisional.

Saya juga seminggu sekali pasti singgah di rumahnya mama saya, kalau saya mau ke kota, satu dua jam saya singgah ke beliau dulu.

Bagi saya dengan keluarga justru menambah spirit dan semangat untuk bekerja sebagai bupati.

Dan sejak saya rektor, saya sudah kasih pengertian ke mereka soal waktu-waktu saya.

AP : Prof, Anda ini berasal dan lahir dari desa dan kedua orangtua Anda berlatar guru. Lalu Anda lama menjadi seorang pengajar, pernah menjadi kepala sekolah dan rektor.

Kini Anda sudah menjadi Bupati Gorontalo selama 2 periode, apakah dulu Anda pernah membayangkan akan menjadi tokoh penting di Gorontalo ini? Bisa Anda ceritakan masa kecil dan perjuangan hidup Anda?

NP : Saya dulu selama 17 tahun tinggal di desa, kedua orang tua saya juga adalah seorang guru, dan kami saat itu hanya tinggal di sebuah pondok. 

Situasi saat yang ramai hanya di sekolah dan di masjid saja, hanya itu dua saja tempat untuk kerkumpul bersama anak-anak, beda dengan yang sekarang. 

Hidup di desa membuat saya tau bagaimana menjadi orang susah, bagaimana kehidupan dalam bertani. 

Setelah kuliah saya hanya ingin jadi dokter, atau jadi orang yang berguna, namun namanya takdir kita tidak bisa menolak, kadang yang kita rencanakan A, faktanya yang terjadi justru B. 

Saya menghindari menjadi guru, oleh karena itu saya terjun ke dunia pertanian. 

Dalam perjalanan, karena darah yang mengalir ini adalah guru, saya kemudian menjadi guru di SMK Pertanian, setelah itu menjadi dosen, guru besar, hingga akhirnya menjadi rektor. 

Dulu saya pernah peringkat empat sebagai murid teladan, padahal persyaratannya harus kelas VI SD, hanya karena mereka-mereka yang kelas VI ini tidak punya sepatu dan belum lancar berbahasa Indonesia, saya lah yang terpilih, padahal saat itu saya masih kelas IV. 

Waktu saya SMP, setelah subuh mau ke sekolah, harus jalan kaki dulu 2 kilometer dan bersepeda sejumah 10 kilometer. 

Sepeda tidak bisa sampai ke rumah, oleh karenanya kami titip di rumah warga. 

AP : Prof latar belakang Anda sebagai Akademisi, pernah jadi rektor UNG dan Universitas Muhammadyah Gorontalo, sejak kapan Anda tertarik menjadi politisi? Apa yang membuat Anda terjun ke dunia politik?

NP : Basic pendidikan saya adalah pertanian sampai S3, dimana memang pada beberapa kesempatan itu harus berbaur langsung dengan masyarakat. Sehingga secara kompleks, apa yang saya pikir seharusnya mampu diimplementasikan ke masyarakat yang jauh lebih luas. 

Alasan kedua adalah ada keterpanggilan sejarah. Perlu diketahui, saya ini saat pembentukan Provinsi Gorontalo, pernah mencalonkan diri sebagai Gubernur bersama Alm. David Bobihoe. 

Saat itu pemilihan dilakukan di DPRD, dan dengan mekanisme yang ada saya gugur. Memang waktu itu keinginan saya belum kuat, pertama saya masih muda, dan saya ingin mereka-mereka yang lebih tua itu yang diprioritaskan. 

Paling tidak, setelah terbentuk menjadi provinsi, tugas saya adalah mengawal jalannya pembangunan sesuai, dengan cita-cita awal berdirinya Provinsi Gorontalo. 

Jadi dua itu alasan mengapa saya terjun ke politik, pertama aksi nyata implementasi ilmu dari kampus, dan kedua adalah keterpanggilan sejarah.

AP : Prof, warga Gorontalo menjuluki Anda Sang Deklarator, itu bukan tanpa alasan. Anda tokoh utama pemekaran Provinsi Gorontalo dari Sulawesi Utara.

Bisa Anda ceritakan situasi dan latar belakang Anda dan tokoh lain mendeklarasikan pembentukan provinsi Gorontalo? Apa yang Anda inginkan saat itu?

NP : Pembentukan Provinsi Gorontalo sebenarnya sudah dari sejak lama, bahkan sempat menjadi isu di tahun 1998.

Namun saat itu, hal itu tidak koordinasi dengan baik, dan berakhir begitu saja.

Kemudian pada tahun 2000, terbentuklah Panitia Persiapan Pembentukan Provinsi Gorontalo, saya wakil ketuanya saat itu dan pak Nasir Mooduto sebagai ketua dan ada juga di tingkat nasional.

Namun tetap masih belum terkoordinasi dengan baik, makannya pada moment festival Tumbilotohe, saat itu ketua panitianya adalah pak Suharso Monoarfa.

Festival Tumbilotohe dibuat megah dan meriah, sehingga memantik perhatian tokoh-tokoh Gorontalo yang berada di luar daerah untuk datang.

Momentum itulah yang kemudian saya gunakan untuk menjalin silaturahmi nasional rakyat Gorontalo, nah disitulah disepakati dibentuknya Presidium Nasional Pembentukan Provinsi Gorontalo, dan saya saat itu ditunjuk menjadi ketua.

Struktur itu ada terdiri dari panitia pusat, panitia persiapan dan panitia yang merancang secara total, kita ingin ide berdikari tidak diam ditempat.

Meskipun harus diakui ada banyak hambatan, tapi semangat deklarasi kita saat itu tinggi sekali.

Barulah pada momentum 23 Januari yang merupakan peringatan hari patriotik kemerdekaan Provinsi Gorontalo, itu kami gunakan untuk deklarasi.

Semangat deklarasi itu, tidak hanya keinginan dari para elit saja, bahkan saat itu ada sebanyak 30 ribu masyarakat Gorontalo, yang ikut serta mendeklarasikan pembentukan Provinsi Gorontalo.

Setelah itu kami membuat proposalnya dan mengajukan permohonan ke Gubernur Sulut dan DPRD Sulut. 

Saat ini setelah 23 tahun terbentuk, ada tiga tujuan besar pembentukan Provinsi Gorontalo, yang pertama peningkatan kesejahteraan, pelayanan yang cepat dan membangun jati diri dan SDM Gorontalo. 

Tujuan pertama untuk peningkatan kesejahteraan, dulu angka kemiskinan kita itu 30-35 persen, saat ini tinggal 15 persen. Meski masih masuk lima daerah termiskin, namun proses menurunkan angka kemiskinan Provinsi Gorontalo itu progres, di tahun yang sama ketika kita masih dengan Sulut, kemungkinan turun hanya 10 persen. 

Begitupun dengan APBD, saat awal Gorontalo terbentuk anggarannya hanya Rp 300 miliar, sekarang sudah Rp 8 triliun, jadi ada peningkatan kurang lebih 20-30 kali lipat. 

Yang kedua adalah masalah pelayanan, terbukti hari ini sudah banyak kantor-kantor penting dibangun di Gorontalo, sudah ada Polda, Korem dan gedung istnasi besar lainnya. 

Terakhir adalah cita-cita membangun jati diri. Terbukti saat ini ada banyak kampus-kampus besar berdiri diri Gorontalo, baik negeri maupun swasta.

Ada banyak orang tua di daerah tetangga yang menyekolahkan anaknya ke Gorontalo. Jadi saya rasa itu juga sudah terwujud dan saat ini masih terus kita lakukan peningkatan.

Kemudian untuk jati diri. Kita berusaha mengenalkan jati diri kita sebagai orang Gorontalo, mulai dari bahasanya hingga budayanya. Sebagai contoh di Kabupaten Gorontalo itu saya buat yang namanya taman budaya Limboto.

AP : Kembali ke Provinsi Gorontalo, Prof sebelumnya Anda disebut-sebut sebagai calon kuat menuju kontestasi pemilihan Gubernur Gorontalo, kira-kira apa yang terbesit dipikiran Anda untuk Anda lakukan di Provinsi Gorontalo?

NP : Dengan apa yang pernah saya lalui, menjadi bupati Gorontalo dua periode, saya rasa memantik energi untuk terus mengabdi kepada masyarakat.

Kabupaten Gorontalo itu daerah terluas, jumlah penduduk terbanyak dan sentral dari Provinsi Gorontalo, olehnya dari periode pertama hingga periode kedua ini, saya masih akan menyelesaikan dulu tugas-tugas saya sebagai bupati, yang tercatat sudah sekitar 90 persen terealisasi. Memang di periode kedua ini agak sedikit terlambat pasca covid 19, tapi kita cepat menyesuaikan.

Sejalan dengan visi Indonesia Emas di tahun 2045, sama halnya dengan Gorontalo, yaitu Gorontalo Emas 2045.

Ada yang bilang Gorontalo tidak belum maju, saya pikir kita sudah sedikit ada kemajuan, buktinya pendapatan, pembangunan dan sejumlah tolak ukur lain kita bisa lihat sendiri.

Namun memang harus diakui, kalau dalam kompetisi, kita saat ini masih dapat perunggu. Perunggu lebih baik daripada belum dapat apa-apa, sehingga 2045 kita proyeksi Gorontalo harus Emas.

AP : Kembali ke bupati, Prof, beberapa tahun lalu sempat viral, anda ketika keluar daerah lebih memilih tinggal di kos daripada hotel, dan naik pesawat kelas ekonomi.

Bisa anda jelaskan mengapa anda memilih hal yang demikian, beberapa pejabat justru memilih tinggal di hotel dan pesawat kelas bisnis.

NP : Yang pertama jabatan itu tidak kekal, yang kedua, yang penting pekerjannya selesai. Yang terakhir adalah koefisiensi anggaran.

Kita ketahui bersama anggaran kita ini terbatas, sehingga untuk memaksimalkan itu, ya kita pakai yang sesuai kebutuhan, nanti sisanya kita bisa gunakan lagi di lain kesempatan.

Namun memang kadang-kadang saya naik bisnis, itupun kalau saya lagi capek dan butuh istirahat, membaca disertasi atau mau menulis sesuatu.

AP : Prof, konsep Anda adalah membangun dari desa, bisakah anda jelaskan apa yang telah Anda lakukan dengan konsep tersebut?

NP : Secara umum ada tiga program prioritas saya, satu adalah SDM yang meliputi pendidikan dan kesehatan, ekonomi dan transformasi birokrasi pemerintah.

Masalah pendidikan saat awal saya jadi bupati, yang lulusan SD itu sekitar 60 persen, makannya saya dorong adanya program paket A,B,C. Orang-orang ini pada akhirnya kemudian bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Angka indeks pembangunan manusia (IPM) kita itu sudah masuk kategori tinggi.

Untuk kesehatan kita bersyukur sudah ada banyak rumah sakit (RS) di Kabupaten Gorontalo, misalnya RSUD Dunda, RSUD Bhayangkara, RSUD Hasri Ainun Habibie, RS Boliyohuto, dan RS Tentara di Tabongo yang baru tahun ini diresmikan, jadi peningkatan pelayanan kesehatan juga terus kita dorong.

Termasuk puskesmas, kita ini ada 19 kecamatan, namun tercatat kita memiliki 23 puskesmas. Ada beberapa daerah yang mengharuskan adanya dua puskesmas misalnya di Dulamayo sana, ada juga di Buhu, Pilohayanga dan Bilato.

Untuk jalan, kita sampai dengan saat ini telah membangun sekitar 12 ribu kilometer jalan. Sebagian besar berada di walayah pedesaan.

Program itu bersumber dari anggaran pusat, provinsi, daerah, pihak ketiga maupun Baznas.

AP : Prof, apa kira-kira yang membedakan antara kepemimpinan Anda saat ini dengan kepemimpinan sebelumnya? Kira-kira apa legacy Anda di Gorontalo.

NP : Saya kadang dibandingkan dengan pemimpi tahun sebelumnya, jadi begini kita saat ini berada di situasi yang berbeda dari kepemimpinan saat itu.

Saya contohkan misalnya teknologi, saat ini sosial media sudah sangat maju, apapun yang kita buat, cepat sekali tersebar, bahkan kadang kala digunakan untuk hal yang tidak baik.

Yang kedua adalah demokrasi, dulu kita ditunjuk menjadi bupati, namun saat ini dipilih rakyat, olehnya kita harus baik-baik dengan rakyat.

Tapi saya ingin katakan bahwa ada perubahan yang saya lakukan selama menjabat bupati, baik dari sisi pendidikan, kesehatan, ekonomi.

Sudah ada banyak RS dan Puskesmas, jalan-jalan diperbaiki, dan peningkatan kesejahteraan serta mendorong angka kemiskinan, bahkan saya bisa katakan bahwa Kabupaten Gorontalo adalah kiblat dari Provinsi Gorontalo.

AP : Prof kembali ke cerita awal, Anda menjabat bupati selama 2 periode tapi sepertinya Anda tidak “memaksa” Anak-anak untuk terjun ke dunia politik, menggantikan Anda. Padahal hampir semua pejabat selalu  melakukan hal itu ke anak-anaknya? Apa alasannya?

NP : Anak-anak saya saya beri kemandirian, memilih sekolahpun saya hanya memberi wawasan, mereka yang memilih.

Anak saya pertama itu ekonomi, kedua desain grafis, yang ketiga pertelevisian, anak saya ke empat masih SMA. Saya juga alhamdulillah punya satu anak angkat, dia ambil hubungan internasional (HI).

Memang anak saya ini tidak ada talenta ataupun tertarik dibidang politik, bahkan ada anak saya yang dicalonkan tapi biasa-biasa saja, jadi yasuda, itu tidak bisa dipaksakan.

Termasuk masalah pemerintah dan proyek-proyek, saya bersyukur mereka tidak ada yang mau ikut campur soal itu, dan itu sudah kesadaran mereka sendiri.

AP : Prof, berkaitan hari Kartini 21 April, Bisakah Anda menceritakan sosok Wanita penting yakni ibu dan istri Anda? Apa nasehat atau pesan yang selalu Anda ingat dari seorang Ibu?

NP : Ibu saya itu adalah madrasah (sekolah) pertama buat saya dan sembilan saudara-saudara saya, saya yang paling tua. Pencapaian hari ini adalah dorang dan semangat darinya, oleh karena itu meskipun ditengah kesibukan saya selalu menyempatkan datang ke baliau, minimal seminggu sekali.

Sosok kedua adalah istri saya. Sebagai bupati sudah pasti akan berhadapan dengan banyak masalah-masalah di pemerintahan, nah sosok istri lah yang menjadi sandaran saya. (Herjianto Tangahu)

Tonton Videonya di Sini: 

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved