Kamis, 19 Maret 2026

Tumbilotohe

8.200 Tumbilotohe Menyala di Lapangan Sombari Kota Gorontalo, Wisata ke Zaman Dahulu

Lapangan di Jl Arif Rahman Hakim ini menyala 8.200 lampu membuat tempat tersebut jadi destinasi masyarakat.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Fernandes Siallagan | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto 8.200 Tumbilotohe Menyala di Lapangan Sombari Kota Gorontalo, Wisata ke Zaman Dahulu
TribunGorontalo.com/Wawan Akuba
Tumbilotohe adalah tradisi di penghujung Ramadhan di Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Inilah destinasi Tumbilotohe terkenal di Kota Gorontalo.

Lapangan di Jl Arif Rahman Hakim ini menyala 8.200 lampu membuat tempat tersebut jadi destinasi masyarakat.

Ribuan tohe (lampu) itu tersebar memenuhi lahan seluas 5.000 meter persegi tersebut.

"Di sini lokasi pencanangan kita (Kota Gorontalo). Karena luas dan terbesar daripada kabupaten lain," ujar Melissa Wala, Kabid Pemasaran Pengembangan dan Informasi Pariwisata Disparpora Kota Gorontalo kepada TribunGorontalo.com, Sabtu (6/4/2024) malam.

Letaknya trategis membuat setiap orang yang melintas baik dari Jl Pangeran Hidayat maupun Arif Rahman Hakim akan terpukau.

Terutama terdapat sedikitnya 200 lampu padamala yang membawa nuansa abad ke-16.

Penerangan terbuat dari batok kelapa dan buah pepaya itu menambah kesan Green Tumbilotohe.

Pengunjung dapat memasuki lapangan. Mereka bebas memilih di mana saja angle untuk swafoto. 

Namun karena letaknya di tepi jalan, destinasi ini kerap menimbulkan kemacetan panjang.

Menariknya, di lapangan Sombari tak ada satupun lampu tumbler.

Lampu sudah mulai dihidupkan sejak pukul tujuh malam hingga padam yang biasanya di atas pukul sebelas malam.

"Ini sampai malam takbiran hidupnya. Gratis juga masuknya," ucap Ismail Kadulah (56), Pengarah Remamuda.

Baca juga: Persiapan Malam Pasang Lampu di Bolango Riverside, Ada Terowongan Cahaya Tumbilotohe Menanti

Apa itu Tumbilotohe?

Tradisi Tumbilotohe di Gorontalo konon telah berlangsung sejak abad 15. Dahulu, masyarakat menggunakan wamuta (sejenis seludang), tohetutu (damar), dan padamala (wadah dari kima, kerang, atau pepaya) sebagai penerangan.

Seiring waktu, tradisi ini berkembang dengan penggunaan minyak tanah dan kini lampu listrik.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved