Viral Nasional
Rela Tinggalkan Gaji Tinggi, Muslimah Wiwin Dwi Jayanti Sedekat Ini dengan SMA Kristen Baithani
Hal itu terungkap dari cerita Wiwin Dwi Jayanti. Terungkap, meski Wiwin seorang muslim, namun rupanya pernah bersekolah di SMA Kristen Bhaitani.
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
Meninggalkan Gaji Rp 8 juta demi SMA Kristen Meski hanya Digaji Rp 300 Ribu
Berprestasi dalam dunia pendidikan dan terbukanya kesempatan karir yang menjanjikan, tidak membuat Wiwin silau.
Wiwin Dwi Jayanti, guru Muslimah itu lebih memilih untuk mengajar di sebuah SMA Kristen dengan bayaran Rp 300 ribu.
Setelah lulus kuliah, Wiwin Dwi Jayanti sempat bekerja di beberapa industri termasuk di BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional).
Gaji besar yang ditawarkan malah tidak membuatnya betah bekerja di sana.
Keputusan berani diambil Wiwin. Ia memilih kembali ke sekolah tempatnya menimba ilmu sejak duduk di bangku SMP.
Wiwin mengakui ada kepuasan batin saat memberikan dan berbagi ilmu untuk anak-anak di sekolah.
Ia merasa bisa memberikan manfaat untuk anak-anak.
“Kalau mengajar itu bisa dikenal banyak orang,” kelakarnya.
Padahal perbandingan remunerasi yang didapatkannya dari tempat bekerja pertama dengan tempat mengajar sekarang, bak langit dengan bumi.
Di tempat bekerja sebelumnya yang memang mentereng, Wiwin bisa mendapat gaji antara Rp 4 juta sampai Rp 8 juta per bulan.
Di SMA Kristen Baithani ini, Wiwin hanya mendapatkan tidak lebih dari Rp 300.000, namun ia lebih memilih mengabdi sebagai pendidik.
“Saya ingin berbakti dan berdedikasi untuk sekolah ini."
"Makanya, penghargaan ini untuk sekolah ini."
"Saya bangga bisa ikut memberikan akses pendidikan tanpa membedakan latar belakang mereka,” ungkapnya.
Sementara Kepala Sekolah SMA Kristen Baithani, Dedi Hariyati menyampaikan terima kasih atas kontribusi yang diberikan oleh mantan muridnya yang disebutnya sangat luar biasa ini.
Pihaknya mengaku bangga atas prestasi mantan murid yang saat ini jadi guru.
“Di sekolah ini kami memang menampung bukan hanya siswa Kristen saja, ada Muslim, dan juga Hindu."
"Mereka kami beri kesempatan sekolah, kami berikan akses pendidikan yang sama, tidak dibedakan,” urainya.(*)