Viral Puskesmas Telaga
BREAKING NEWS Mahasiswa Gelar Aksi Damai di Puskesmas Telaga Gorontalo
Sejumlah mahasiswa menggelar aksi di Puskesmas Telaga, Kabupaten Gorontalo guna menindaklanjuti kematian Almarhum Nur Hayati Pipii
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Aldi Ponge
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Demo-di-puskemas-Telaga-Gorontalo-8888.jpg)
TRIBUNGORONTALO, Gorontalo -- Sejumlah mahasiswa menggelar aksi di Puskesmas Telaga, Kabupaten Gorontalo guna menindaklanjuti kematian Almarhum Nur Hayati Pipii, Senin (4/12/2023).
Aliansi tersebut terhimpun dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Masyarakat Gorontalo (AMPMG).
Korlap aksi Glendi Husain (23), menjelaskan bahwa pihak Puskesmas Telaga harus bertanggungjawab atas meninggalnya Almarhum Nur Hayati pada 28 November 2023 lalu.
"Kita meminta kejelasan untuk bagaimana kemudian kasus ini dapat ditindaklanjuti,", terang Glendi kepada TribunGorontalo.com.
Lebih lanjut Glendi menyebut dasar tuntutan mereka adalah, kelalaian dari petugas nakes dalam melakukan penanganan terhadap Nur Hayati
Sebelumnya, AMPMG juga menggelar aksi di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo dengan menuntut isu yang sama.
"Kita berharap agar kejadian yang berawal dari kelalaian petugas ini tidak terjadi lagi," tegasnya.
Hasil dari aski ini, lanjut Glendi, dalam waktu dekat akan digelar rapat dengar pendapat (RDP) yang melibatkan Pemda Kabupaten Gorontalo, Kesbangpol Kabupaten Gorontalo, dan Ombudsman.
"Terlepas dari RDP, kami juga akan terus mempreasure kasus ini ke Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo," tandanya. (*)
Viral Warga Meninggal
Sebelumnya, Kasus meninggalnya Nur Hayati Pipii (27), tengah menjadi perbincangan di tengah masyarakat Gorontalo.
Nur wafat setelah dilarikan ke RS. Islam Kota Gorontalo pada 28 November 2023.
Hal itu diduga karena Nur terlambat mendapat penanganan dari pihak Puskesmas Telaga.
Sang suami, Arif Ismail sempat meluapkan emosinya di media sosial. Unggahan berisi kekecewaan terhadap Puskesmas Telaga yang tak sempat melayani istrinya, Nur Hayati.
Arif menceritakan istrinya Nur Hayati beberapa hari sebelumnya baru saja selesai persalinan cesar. Namun kondisi Nur tak kunjung membaik.
Puncaknya, sekira pukul 01.30 Wita, Arif melarikan sang istri ke Puskesmas Telaga. Sepengetahuan dirinya, puskesmas tersebut buka 1x24 jam.
Alangkah kecewa Arif ketika sampai di puskesmas ia tak menemukan satu pun petugas nakes di sana.
Melihat sendal di depan pintu, Arif mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban dari orang di dalam ruangan.
Dalam kondisi istrinya mengerang kesakitan itu, Arif memutuskan untuk membawa istrinya ke RS Islam.
"Saya berusaha sendiri mengangkat istri saya ke atas bentor, tapi tidak bisa karena saat itu saya sendiri," kata Arif menggunakan aksen Gorontalo.
Beruntung ada seorang tukang bentor dan seorang laki-laki yang dalam kondisi mabuk, membantunya. Putus asa, Arif pun melarikan istrinya ke RS Islam di Kota Gorontalo.
Tiba di RS Islam, jantung istrinya ketika dicek sudah melemah, hingga kemudian meninggal dunia.
"Kita pe istri dorang dokter deng perawat ada periksa dokter bilang kita pe istri so meninggal dunia (Istri saya ketika diperiksa dinyatakan meninggal)," tulis Arif pada postingannya.
Arif membagikan curhatannya itu dengan mengunggah pula foto depan puskesmas tersebut. Saat dikutip TribunGorontalo.com, postingannya sudah dikomentari 4 ribu pengguna fb, dan dibagikan 6.9 ribu kali.
"Mohon kpda dinas kesehatan kab.gorontalo & DPRD KABUPATEN GORONTALO untuk di tindak lanjuti kasus ini jgn sampai ada korban lagi seperti istri saya," tutup Arif dalam postingannya.
Kepala Puskesmas Telaga, dr. Meliana Panter menggambarkan kondisi puskesmas di malam itu.
Menurutnya, sesuai jadwal piket jaga, ada 4 tenaga kesehatan (nakes) yang berjaga. Terdiri dari bidan 2 orang dan perawat 2 orang.
“Tidak benar petugas tidak ada karena di kita itu ada jadwal piket pada malam itu ada 4 petugas,” katanya kepada TribunGorontalo, Sabtu (02/12/2023).
Hanya saja, ketika korban datang, 4 petugas ini dalam kondisi sibuk.
Meliana menyebutnya “di waktu yang tidak tepat”. Saat korban datang bersama suaminya, petugas yang mestinya berjaga di UGD, sedang mengambil tabung oksigen di ruang belakang puskesmas.
Jaraknya, menurut Meliana cukup jauh dari UGD, sehingga bisa saja saat suami korban berteriak, suaranya tidak terdengar.
“Kalaupun informasinya yang bersangkutan berteriak, mungkin kalau dia berteriak di depan, tidak akan sampai ke belakang suaranya, apalagi depan jalan raya,” ungkapnya. (JIAN/WAWAN)