Viral Puskesmas Telaga
BREAKING NEWS: Warga Gorontalo Curhat Istri Meninggal Karena Tak Ditolong Puskesmas Telaga
Dalam curhatannya di facebook yang dibagikan pada Sabtu (2/12/2023), Arif bercerita ia yang kecewa dengan pelayanan puskesmas tersebut.
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Puskesmas-Telaga-Gorontalo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Seorang warga Gorontalo, Arif Ismail, curhat di media sosial perihal istrinya yang meninggal dunia tak ditolong oleh Puskesmas Telaga, Kabupaten Gorontalo.
Dalam curhatannya di facebook yang dibagikan pada Sabtu (2/12/2023), Arif bercerita kecewa dengan pelayanan puskesmas tersebut.
"Tidak mau lagi berobat ataupun memeriksakan diri di sini (puskesmas)," tulis Arif membuka curhatannya.
Ia menceritakan bahwa istrinya saat belum memasuki masa bersalin, sempat mendatangi puskesmas tersebut dan meminta agar nanti dilayani untuk proses persalinannya.
Namun, permintaan itu justru ditolak oleh puskesmas tersebut kata Arif. Saat itu memang kondisi istrinya sudah hamil besar.
Baca juga: Nyesek! Kronologi Warga Gorontalo Meninggal, Dilarikan ke Puskesmas Telaga tapi Tak ada Nakes
Puskesmas ini kata Arif tidak mau melayani persalinan. Istri arif bernama Nur Hayati itu diminta ke RS jika ingin melahirkan.
Arif pun membawa istrinya ini melahirkan ke RS. Namun 3 hari berselang melahirkan dengan proses cesar, istrinya ini mengalami sesak nafas.
Saat itu pukul 01.30 Wita dini hari, Selasa (28/11/2023). Karena puskesmas ini katanya buka 1x24 jam, maka ia pun harus melarikan istrinya ke faskes ini.
Nahas, saat tiba di puskesmas ini, Arif tidak mendapati satupun staf yang masih berjaga.
Arif pun mencari-cari suster dan dokter jaga di ruang istirahat. Ia hanya menemukan 2 pasang sendal, sementara ruangan itu terkunci rapat.
Ia pun melanjutkan pencariannya ke ruang penerimaan resep. Lagi-lagi, tidak menemui orang yang bisa dimintai tolong.
Baca juga: Puskesmas Telaga ‘Kosong’ hingga Pasien Meninggal, Kapus: Mungkin Waktunya yang Tidak Tepat
Kemudian, ia mengetuk-ngetuk pintu ruangan bersalin. Ada 3 pasang sendal di depan pintu, namun ketika ia meminta tolong, tak ada satupun yang menyahutnya.
Arif yang putus asa, melihat istrinya semakin tersiksa dengan kondisi sesak nafas. Muka istrinya mulai membiru hingga hidung dan mulut mengeluarkan busa.
Arif pun mengaku kembali ke ruang puskesmas dan berteriak-teriak memanggil dokter.
Tidak ada yang keluar, kendati ada sebuah mobil dan motor yang parkir di depan puskesmas tersebut.
"Saya berusaha sendiri mengangkat istri saya ke atas bentor, tapi tidak bisa karena saat itu saya sendiri," kata Arif dalam aksen Gorontalo.
Beruntung ada seorang tukang bentor dan seorang laki-laki yang dalam kondisi mabuk, membantunya.
Putus asa, Arif pun melarikan istrinya ke RS Islam di Kota Gorontalo.
Tiba di RS Islam, jantung istrinya ketika dicek sudah melemah, hingga kemudian meninggal dunia.
"Kita pe istri dorang dokter deng perawat ada periksa dokter bilang kita pe istri so meninggal dunia (Istri saya ketika diperiksa dinyatakan meninggal)," tulis Arif.
Secara jelas, Arif membagikan curhatannya itu dengan mengunggah pula foto depan puskesmas tersebut. Saat dikutip TribunGorontalo.com, postingannya sudah dikomentari 4 ribu pengguna fb, dan dibagikan 6.9 ribu kali.
"Mohon kpda dinas kesehatan kab.gorontalo & DPRD KABUPATEN GORONTALO untuk di tindak lanjuti kasus ini jgn sampai ada korban lagi seperti istri saya," tutup Arif dalam postingannya.
Klarifikasi Puskesmas
Saat dikonfirmasi, Kepala Puskesmas Telaga, dr. Meliana Panter saat ditemui TribunGorontalo.com menggambarkan kondisi puskesmas di malam itu.
Menurutnya, sesuai jadwal piket jaga, ada 4 tenaga kesehatan (nakes) yang berjaga. Terdiri dari bidan 2 orang dan perawat 2 orang.
“Tidak benar petugas tidak ada karena di kita itu ada jadwal piket pada malam itu ada 4 petugas,” katanya, Sabtu (02/12/2023).
Hanya saja, ketika korban datang, 4 petugas ini dalam kondisi sibuk.
Meliana menyebutnya “di waktu yang tidak tepat”. Saat korban datang bersama suaminya, petugas yang mestinya berjaga di UGD, sedang mengambil tabung oksigen di ruang belakang puskesmas.
Jaraknya menurut Meliana cukup jauh dari UGD, sehingga bisa saja saat suami korban berteriak, suaranya tidak terdengar.
“Kalaupun informasinya yang bersangkutan berteriak, mungkin kalau dia berteriak di depan, tidak akan sampai ke belakang suaranya, apalagi depan jalan raya,” ungkap Meriana.
Namun, Meliana tidak menjelaskan, di mana 3 petugas yang lain.(*)