Kamis, 5 Maret 2026

Kisah

Misteri Suku Lingon yang Suku Bermata Biru di Indonesia

Dari cerita masyarakat di Maluku Utara, keberadaan suku ini konon merupakan sekumpulan masyarakat Eropa yang terdampar setelah kapal yang mereka tumpa

Tayang:
Penulis: Aldi Ponge | Editor: Aldi Ponge
zoom-inlihat foto Misteri Suku Lingon yang Suku Bermata Biru di Indonesia
Internet
Misteri Suku Lingon yang Suku Bermata Biru di Indonesia 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Misteri Suku Lingon yang bermata biru di Pulau Halmahera Provinsi Maluku Utara

Ciri fisik suku ini yakni bermata biru, berbadan tinggi tegap dan rambut pirang. Namun juga ada sebagian dari anggota suku ini yang berambut hitam.

Mereka dikabarkan sudah ada sekitar 300 tahun lalu ini

mereka bukan dari ras mongoloid seperti suku di Indonesia kebanyakannya. 

Suku Lingon konon berasal dari ras kaukasoid atau ras yang dekat dengan bangsa Eropa

Dari cerita masyarakat di Maluku Utara, keberadaan suku ini konon merupakan sekumpulan masyarakat Eropa yang terdampar setelah kapal yang mereka tumpangi disapu obak besar.

Saat terdampar inilah mereka tiba di daratan Pulau Halmahera dan menetap di sana.

Anak bermata di Buton 9990
LUSTRASI Anak bermata di Buton

Kehidpuan suku ini sangat primitif, mereka hidup di hutan-hutan belantara dan jauh dari jangkauan manusia moderen.

Populasi Suku Lingon dikabarkan sudah sangat sedikit karena diantara mereka ada yang diculik untuk dijadikan istri oleh orang-orang di luar suku itu.

Tidak banyak yang mengetahui keberadaan suku ini karena letaknya di tempat terpencil dan jarang terlihat oleh dunia luar, meski Pulau Halmahera sendiri adalah salah satu pulau terbesar di Maluku.

Konon beberapa ratus tahun yang lalu, ada sebuah kapal Eropa yang karam dan tenggelam di perairan Halmahera.

Beberapa penumpang yang selamat dan terdampar di pulau ini kemudian menetap di pulau ini.

Hal itulah yang diduga menjadikan orang Eropa tersebut sebagai asal-usul nenek moyang Suku Lingon.

Mereka menetap selama ratusan tahun, kemudian mulai membentuk kelompok suku sendiri.

Secara fisik, penampilan masyarakat suku Lingon memang sangat mirip dengan orang Eropa.

Mereka memiliki tubuh lebih besar daripada ukuran tubuh orang Indonesia pada umumnya.

Kulit mereka putih, dengan karakter wajah yang membuat mereka sedikit banyak mirip dengan masyarakat Eropa.

Ada dugaan bahwa suku Lingon sebenarnya sudah punah, meski belum ada penelitian yang bisa membuktikan hal tersebut.

Ada pula yang mengatakan bahwa orang suku Lingon sudah berbaur dengan suku-suku lain di Kepulauan Maluku.

Sejarah Suku Lingon

Suku Lingon berasal dari daratan Eropa, tepatnya negara Spanyol.

Mereka menumpang kapal dagang milik Kerajaan Portugis dengan tujuan Indonesia (Hindia Belanda) untuk mencari rempah-rempah.

Selain mencari rempah-rempah, mereka juga membawa misi agama Katolik untuk diajarkan di Indonesia Timur.

Rempah-rempah yang hanya bisa didapatkan di Indonesia Timur tepatnya pulau Maluku, dan Banda menjadi rebutan antar bangsa dari Eropa, Inggris, dan Portugis.

Pulau Maluku dan Banda merupakan tempat dimana mereka harus menyebarkan misi ajaran mereka.

Banyak kapal dagang dengan berpenumpang masyarakat sipil, yang menjadi sasaran gempuran meriam kapal perang negara lain demi menjaga wilayah penghasil rempah-rempah tersebut.

Diperkirakan kapal yang ditumpangi masyarakat bermata biru ini, tenggelam di sekitar kepulauan Maluku dan memaksa seluruh penumpangnya untuk menyelamatkan diri masuk ke hutan di Halmahera Utara, satu diantaranya suku Lingon.

Keberadaan masyarakat bermata biru ini cukup sulit ditemukan, karena mereka memilih mengasingkan diri dari dunia luar.

Pedalaman hutan Halmahera dipilih Lingon Tribe atau Suku Lingon, dari kejaran suku-suku lain yang tidak ingin kedatangan mereka.

Berbekal ilmu bertahan hidup dan senjata yang sederhana membuat kelompok ini, memilih memasuki hutan lebat sisi utara kepulauan Halmahera.

Kepercayaan Suku Lingon

Kepercayaan suku Lingon masih animisme dan dinamisme, seperti kepercayaan awal suku lain di Indonesia.

Kepercayaan yang dianut masyarakat suku Lingon, tidak terlepas karena keterbatasan mereka mengakses kehidupan luar.

Awalnya kelompok masyarakat ini menganut ajaran Katolik dari Portugis, namun pada akhirnya mereka harus beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya dan memutuskan menganut animisme dan dinamisme.

Keturunan masyarakat suku Lingon, saat ini sudah tersebar ke beberapa pulau di sekitar Halmahera Utara. Dengan tujuan memperbaiki keturunan, tanpa meninggalkan keluarganya di Maluku.

Yang Tersisa dari Suku Lingon

Keberadaan masyarakat Eropa di Indonesia, seperi Suku Lingon ini dapat diketahui dari penemuan bangkai kapal dan beberapa peninggalannya di pulau Morotai.

Diperkirakan kedatangan masyarakat Lingon ke Halmahera Utara tahun 1602, ketika Spanyol dan Portugis bekerjasama untuk mengalahkan kerajaan Ternate namun gagal.

Empat tahun kemudian maskapai kapal perang Belanda masuk ke Maluku, untuk mengambilalih perdagangan rempah dan menaklukan kerajaan Ternate dan Tidore.

Kesuksesan militer Belanda di Indonesia Timur,  tidak berhenti sebagai pemonopoli perdagangan rempah dan penaklukan Ternate dan Tidore, melainkan juga penempatan benteng pertahanan di beberapa pulau disekitarnya.

Benteng Nasau, dan Moti merupakan benteng peninggalan Portugis yang berhasil ditaklukan Belanda.

Sebagai gantinya dibangun garnisum untuk menyulai kebutuhan prajurit garis depan.

Menipisnya armada laut milik Spanyol dan Portugis merupakan tonggak awal kolonialisme Eropa di Indonesia Timur, dan masyarakat Suku Lingon tidak terlibat secara langsung pemindahan kekuasaan dari pemerintah kerajaan Portugis kepada kerajaan Belanda(*).

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved