HUT Provinsi Gorontalo
Logo HUT ke-23 Provinsi Gorontalo Terinspirasi dari Burung Maleo
Logo didesain dengan kombinasi warna yang menarik dan filosofis, dengan inspirasi utama dari burung Maleo, satwa endemik Gorontalo.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Logo-HUT-Provinsi-Gorontalo-ke-23.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Sebulan jelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23 Provinsi Gorontalo, pemerintah provinsi memperkenalkan logo HUT.
Logo didesain dengan kombinasi warna yang menarik dan filosofis, dengan inspirasi utama dari burung Maleo, satwa endemik Gorontalo.
Angka dua dalam logo HUT ke-23 Provinsi Gorontalo terbentuk dari kepala burung Maleo yang berwarna merah.
Warna merah melambangkan keberanian dan semangat warga Gorontalo dalam membangun daerahnya.
Kepala burung Maleo juga digambarkan dengan tunas berwarna hijau yang menguning di ujung atasnya.
Tunas melambangkan harapan dalam meraih cita-cita, sedangkan warna hijau melambangkan kemakmuran.
Selain itu, ada juga bahtera berwarna ungu dan ikan berwarna biru di dalam angka dua.
Bahtera melambangkan adab yang baik, sedangkan ikan melambangkan kemakmuran.
Angka tiga dalam logo HUT ke-23 Provinsi Gorontalo terbentuk dari lengkungan di bagian atas yang melambangkan dinamisme pembangunan.
Garis merah berbentuk spiral melambangkan pembangunan Gorontalo yang semakin meningkat.
Secara keseluruhan, angka tiga didominasi warna merah putih sebagai warna bendera Indonesia.
Warna merah putih melambangkan kesatuan dan persatuan Indonesia.
“Logo ini menggambarkan semangat keberanian, harapan, dan kemakmuran yang dimiliki oleh masyarakat Gorontalo,” kata Kepala Dinas Kominfo dan Statistik Provinsi Gorontalo, Rifli Katili, Kamis (9/11/2023).
Ia mengatakan bahwa logo HUT ke-23 Provinsi Gorontalo diharapkan dapat menginspirasi masyarakat untuk terus berjuang dalam membangun Gorontalo dan Indonesia.
“Semoga tema HUT ke-23 Provinsi Gorontalo, yaitu ‘Merawat Patriotisme untuk Indonesia’, dapat menginspirasi kita semua untuk terus berjuang demi kemajuan Gorontalo dan Indonesia,” pungkasnya.
Tentang Burung Maleo
Maleo Senkawor atau Maleo (disebut juga Panua oleh masyarakat Gorontalo) yang memiliki nama ilmiah Macrocephalon maleo.
Ini adalah sejenis burung gosong berukuran sedang, dengan panjang sekitar 55 cm, dan merupakan satu-satunya burung di dalam genus tunggal Macrocephalon.
Unik dari maleo adalah, saat baru menetas anak burung maleo sudah bisa terbang.[4]
Ukuran telur burung maleo beratnya 240 gram hingga 270 gram per butirnya, ukuran rata-rata 11 cm, dan perbandingannya sekitar 5 hingga 8 kali lipat dari ukuran telur ayam.
Namun saat ini mulai terancam punah karena habitat yang makin sempit dan telur-telurnya yang diambil oleh manusia. Diperkirakan jumlahnya kurang dari 10.000 ekor saat ini.
Ciri-Ciri
Burung ini memiliki bulu berwarna hitam, kulit sekitar mata berwarna kuning, iris mata merah kecokelatan, kaki abu-abu, paruh jingga, dan bulu sisi bawah berwarna merah-muda keputihan.
Di atas kepalanya terdapat tanduk atau jambul keras berwarna hitam. Jantan dan betina serupa.
Biasanya betina berukuran lebih kecil dan berwarna lebih kelam dibanding burung jantan. Maleo Senkawor adalah spesies monogami.
Populasi
Tidak semua tempat di Sulawesi bisa ditemukan maleo. Sejauh ini, ladang peneluran hanya ditemukan di daerah yang memliki sejarah geologi yang berhubungan dengan lempeng pasifik atau Australasia.
Populasi burung endemik Indonesia ini hanya ditemukan di hutan tropis dataran rendah pulau Sulawesi seperti di Gorontalo (Bone Bolango dan Pohuwato) dan Sulawesi Tengah (Sigi dan Banggai).
Populasi maleo di Sulawesi mengalami penurunan sebesar 90 persen semenjak tahun 1950-an.
Berdasarkan pantauan di Cagar Alam Panua, Gorontalo dan juga pengamatan di Tanjung Matop, Tolitoli, Sulawesi Tengah, jumlah populasi dari maleo terus berkurang dari tahun ke tahun karena dikonsumsi dan juga telur-telur yang terus diburu oleh warga.
Habitat
Maleo bersarang di daerah pasir yang terbuka, daerah sekitar pantai gunung berapi dan daerah-daerah yang hangat dari panas bumi untuk menetaskan telurnya yang berukuran besar, mencapai lima kali lebih besar dari telur ayam.
Setelah menetas, anak Maleo menggali jalan keluar dari dalam tanah dan bersembunyi ke dalam hutan.
Berbeda dengan anak unggas pada umumnya yang pada sayapnya masih berupa bulu-bulu halus, kemampuan sayap pada anak maleo sudah seperti unggas dewasa, sehingga ia bisa terbang.
Hal ini disebabkan nutrisi yang terkandung di dalam telur maleo lima kali lipat dari telur biasa, anak maleo harus mencari makan sendiri dan menghindari hewan pemangsa, seperti ular, kadal, kucing, babi hutan, dan burung elang.(*)