Fenomena Badut Jalanan

Alasan Dinas Sosial Kota Gorontalo Razia Badut Jalanan

Badut mulai marak terlihat di beberapa persimpangan jalanan Kota Gorontalo.

|
Penulis: Ahmad Rajiv Agung Panto | Editor: Fadri Kidjab
Dinsos
Razia badut jalanan di Kota Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo –  Badut mulai marak terlihat di beberapa persimpangan jalanan Kota Gorontalo.

Tak seperti badut di film Joker, mereka mengenakan kostum karakter kartun seperti Doraemon, Mickey Mouse, atau Dora the Explorer.

Badut ini sering kali menghibur pengendara di jalanan melalui tarian, baik menggunakan musik atau tanpa musik sama sekali.

Baca juga: Warganet Kecam Razia Badut Lampu Merah oleh Satpol PP Kota Gorontalo

Beberapa waktu lalu, Dinas Sosial Kota Gorontalo memutuskan untuk menertibkan badut-badut jalanan.

Menurut Irwansyah Taha, Kepala Dinas Sosial Kota Gorontalo, sebelumnya dinsos merazia gelandangan dan pengemis hingga pengamen.

“Tentu ini (badut) kami melihatnya sama dengan pengamen. Pengamen ini sifatnya menghibur. Nah, badut ini juga menghibur, hanya saja mereka berada di simpang jalan tentunya beresiko,” kata Irwansyah kepada TribunGorontalo.com, Kamis (02/11/2023).

Baca juga: Demi Nafkahi 6 Anak, Wanita Single Parent Asal Gorontalo Ini Rela jadi Badut Jalanan

Disamping itu, keberadaan badut di jalanan beresiko terjadinya kecelakaan.

“Saat di jalanan ada yang merasa iba, gembira, mereka memberikan sedekah. Pasti mereka akan menghentikan kendaraan, dan ini beresiko,” ujarnya.

Bersama Satpol PP, dinsos merazia badut jalanan untuk dibina.

Warga yang bekerja sebagai badut itu juga diberikan pakaian.  

Irwansyah menangani badut jalanan paling banyak bukan penduduk asli Kota Gorontalo.

“Yang jelas dari berbagai profesi yang diamankan. Paling banyak bukan penduduk Kota Gorontalo, sehingga ini kami Koordinasikan dengan wilayah asalnya,” pungkasnya. 

Gepeng dan Pengamen Di Gorontalo Rata Rata Tidak Terorganisir

Irwansyah Taha Kepala Dinas Sosial Kota Gorontalo mengatakan sebagian besar rata-rata tidak terorganisir dan seringkali beroperasi secara mandiri, tanpa koordinasi yang jelas.

“Tentu untuk terorganisir itu sebagian besar yang ada itu pribadi pribadi,” kata Irwansyah Kamis 2/11/2023

Hal tersebut berlaku juga bagi para badut yang beberapa hari terakhir sempat menghebohkan pasca dilakukan penertiban oleh Satpol PP.

“Kalau badut itu terinformasi tidak ada terorganisir hanya saja mereka membeli pakaian badut secara kredit kepada penyedianya.,”tamabahnya.

Dimana pihaknya dari hasil penelusuran kepada setiap gepeng dan pengamen yang dilakukan penertiban termasuk pula peminta sumbangan belum ditemukannya adanya kelompok yang terorganisir.


“Kalau dari data dan hasil penelusuran tidak seperti itu termaksud ada yang pembawa celengan itu sumbungan, termaksud ada salah satu masjid yang belum memiliki izin untuk pengumpulan sumbangan,”tutup Irwansyah


Tentunya hal tersebut menjadi masalah apabila ditemukan adanya kelompok yang terorganisir yang rentan terhadap eksploitasi oleh pihak tertentu.(*)

 

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved