FPI
Munarman Bebas dari Lapas Salemba
Munarman bebas setelah menjalani hukuman kurungan penjara selama 3 tahun. Munarman dipenjara terkait kasus terorisme.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Eks-Juru-Bicara-Jubir-Front-Pembela-Islam-FPI-Munarman-78888.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Munarman, Mantan Juru Bicara Front Pembela Islam (FPI) Munarman bebas dari Lapas Kelas IIA Salemba pada Senin (30/10/2023).
Munarman bebas setelah menjalani hukuman kurungan penjara selama 3 tahun
Munarman dipenjara terkait kasus terorisme.
Munarman keluar dari Lapas Salemba sekira pukul 08.20 WIB.
Ia keluar mengenakan baju koko berwarna putih dan mengenakan kaca mata hitam.
Selain itu, syal bergambar bendera negara Palestine tampak dikalungkan Munarman di lehernya.
Kemudian, topi bertuliskan 'Save Palestine' juga terlihat bertengger di kepala Munarman.
Lebih lanjut, puluhan simpatisan menyambut keluarnya Munarman dengan pelukan. Eks Jubir PFI itu tampak berpelukan dengan beberapa orang.
Bersamaan dengan itu, kalimat takbir 'Allahuakbar' terdengar lantang dipimpin salah seorang dari simpatisan, yang kemudian diikuti sahutan puluhan simpatisan lainnya.
Munarman kemudian meninggalkan Lapas Salemba, sekira pukul 08.30 WIB.
Ia tampak dijemput menggunakan satu unit mobil berjenis MPV berwarna silver.
Munarman tidak menjawab saat ditanya hendak pergi ke mana setelah meninggalkan Lapas Salemba, hari ini.
Lantas, siapa sosok Munarman?
Munarman lahir di Palembang, Sumatera Selatan pada 16 September 1968.
Anak ke-6 dari 11 bersaudara, Munarman merupakan seorang anak laki-laki dari pasangan H. Hamid dan Ny. Nurjanah.
Diketahui, Munarman telah menikah dengan Ana Noviana pada tahun 1996 dan menetap di kampung halamannya, Palembang.
Dari pernikahannya itu dikaruniai 3 anak.
Munarman dan sang istri hidup terpisah, namun tetap melakukan pertemuan teratur pada akhir pekan hingga kepindahannya ke Jakarta tahun 2000.
Dikutip dari Surya.co.id, anak ketiga dari Munarman ini lahir pada September 2008 yang mana saat itu dirinya mendekam di penjara.
Namun, Munarman diberi waktu selama 6 jam untuk menjenguk setelah kelahiran anak ketiganya itu.
Setelah keluar dari penjaga, sang istri pun ikut hidup di Jakarta bersama Munarman dan anak-anaknya saat masa sekolah TK.
Di sisi lain, orang tua Munarman pun hanya mengandalkan siaran televisi untuk mengetahui informasinya.
Karir Munarman diawali pada tahun 1995, saat itu dirinya bergabung ke Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Palembang sebagai sukarelawan.
Berselang dua tahun, dirinya naik jabatan menjadi Kepala Operasional organisasi pada 1997.
Hanya bertahan hingga tahun 1999, Munarman beralih menjadi Koordinator Kontras Aceh hingga tahun 2000, hingga akhirnya ia menduduki posisi Koordinator Badan Pekerja Kontras yang berlokasi di Jakarta.
Diketahui, nama Munarman makin melejit di kala itu hingga dirinya dipilih sebagai Ketua YLBHI yang sempat mengalami kekosongan hingga 9 bulan.
Saat dilantik jadi Ketua YLBHI tahun 2002, Munarman berjanji akan menyatukan anggotanya.
Munarman pun juga hampir dicopot dari posisinya karena melakukan kritik paling vokal disuarakan ketua Wakil Ketua YLBHI, Munir mengundurkan diri.
Dirinya juga akan melawan apabila dipecat dari YLBHI dan berjanji tidak akan mundur.
Alasan pemecatannya adalah karena pemikiran dan sikapnya yang radikal, ia menolak Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai sistem demokrasi Indonesia, dengan keterlibatannya sebagai tokoh Hizbut Tahir Indonesia (HTI).
Adapun atas pernyataannya diatas spanduk yang dipampang dengan wajahnya di Cilandak Jakarta Selatan yang berbunyi: "Munarman: Sistem Khilafah Menjadi Jawaban Atas Seluruh Problematika Saat Ini Muncul. Saatnya Khilafah Memimpin Dunia."
Sumber ; Tribunnews.com