Human Interest Story
Cerita Nur Ali, Penjual Bakso Malang di Gorontalo, Dulu Jualan Es
Sehari-hari Nur Ali memilih membuka lapak jualannya di Jalan Selayar, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo, tepatnya di depan Masjid Al-Adna.
Penulis: Rafiqatul Hinelo | Editor: Aldi Ponge
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Nur-Ali-50-an-pedagang-bakso-Malang-fffff.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Nur Ali (50-an) pedagang bakso Malang di Kota Gorontalo.
Sehari-hari Nur Ali memilih membuka lapak jualannya di Jalan Selayar, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo, tepatnya di depan Masjid Al-Adna.
Dia mengaku memulai usaha kecilnya sejak Februari 2023, Ali mengaku memang senang berjualan.
Tampak banyak pelanggan yang bergantian datang di lapak jualan Ali.
Ali mengaku berangkat ke lokasi jualan pada pukul 9 pagi. Ali menjual bakso seharga Rp 13.000 per porsinya.
Menurut Ali, patokan harga tersebut adalah pilihan yang strategis.
Awalnya, Ali menjual es campur, nasi goreng, juga ketoprak. Kemudian dia memilih berjualan bakso karena banyak peminat bakso.
"Dul
u, saya jualan es campur, nasi goreng, sama ketoprak. Tapi kok, banyak yang nanya, ada bakso pak? Yasudah, saya coba jualan bakso. Eh ternyata ramai," kata Ali.
Hingga saat ini, Ali konsisten menjual bakso.
"Berbeda dengan es campur yang sepi di musim hujan, bakso sering dicari setiap waktu," tambahnya.
Sejak kecil, Ali terbiasa hidup mandiri. Selain sekolah, rutinitas wajib yang Ali lakukan sewaktu kecil adalah membantu neneknya memberi makan ternak.
Meski kian berpeluh sehabis sekolah, Ali tetap mencari rumput untuk hewan ternak neneknya itu demi memenuhi biaya hidupnya.
Pengalaman hidupnya semasa kecil itu membuat Ia berani memilih jalan hidupnya sendiri.
Ali sebelum menjadi pedagang bakso, juga pernah menjadi buruh pabrik di Malang, dan bekerja merantau di Jakarta.
Saat ini, pak Ali memilih tinggal di Gorontalo bersama Istrinya sejak 13 tahun lalu.
"Saya berani ke Gorontalo, karena saya dengar Gorontalo bisa jadi peluang pasar yang unik. Soalnya masyarakatnya senang cari makanan yang unik-unik, yang bukan dari Gorontalo," pungkas Ali.