Mahasiswa Gorontalo Beda Pendapat Soal Kebijakan Skripsi di Kampus
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dari Jurusan Ilmu Komunikasi, Alya Daud menyambut baik kebijakan tersebut. Meski sebetulnya ia tak yakin apakah nantiny
Penulis: Husnul Puhi | Editor: Wawan Akuba
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Beberapa mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menanggapi kebijakan skripsi yang tak lagi menjadi syarat tugas akhir.
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dari Jurusan Ilmu Komunikasi, Alya Daud menyambut baik kebijakan tersebut. Meski sebetulnya ia tak yakin apakah nantinya efektif.
"Mendengar kabar itupun, saya selaku pribadi belum yakin, bahwa perubahaan itu akan efektif," kata Alya kepada TribunGorontalo.com melalui pesan singkat Whatsapp, Sabtu (2/9/2023).
Alya pun hanya menantikan hasil dan juga progres dari kebijakan pihak kampus.
"Saya siap, ketika perubahan itu disepakati oleh semua mahasiswa," imbuhnya tegas.
Sementara mahasiswa Kesehatan Masyarakat UNG, Wimprid Bempa sangat setuju terkait skripsi tidak lagi menjadi syarat wajib bagi mahasiswa S1.
"Dengan hal ini bisa dilihat, kalau Menteri sangat peka terhadap pendidikan di dunia yang banyak perubahannya, sehingga ini menjadi perlu bagi mahasiswa untuk menyiapkan di dunia kerja nanti," jelas Wimprid yang juga sebagai Menteri Kajian Strategis Dan Propaganda Politik BEM UNG 2023.
Selain itu Wimprid juga menerangkan bahwa memang mengukur mahasiswa dari tulisan ilmiah itu memang tidaklah adi.
Sebab, barangkali ada yang mampu menulis skripsi tapi tidak jago dalam orientasi lapangan. Begitupun sebalknya.
Hal ini menjadi alasan bagi mahasiswa bisa memilih menyelesaikan studinya dengan melalui skripsi ataupun prototipe dan proyek.
Penerapan kebijakan ini pun artinya menurutnya, "Harusnya tidak menjadi alasan, bahwa mahasiswa ada yang masih lama untuk menyelesaikan studinya karena skripsi."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2023-09-02_suasana-belajar_Mahasiswa.jpg)