Selasa, 17 Maret 2026

Sosok Tokoh

Sosok Nani Wartabone, Proklamator Kemerdekaan di Gorontalo 1942, Jadi Petani di Akhir Hayat

Saat itu Nani Wartabone juga mengibarkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Tayang:
Editor: Aldi Ponge
zoom-inlihat foto Sosok Nani Wartabone, Proklamator Kemerdekaan di Gorontalo 1942, Jadi Petani di Akhir Hayat
Kolase TribunGorontalo.com
Sosok Nani Wartabone, Pahlawan Nasional asal Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM - Sosok Nani Wartabone, Pahlawan Nasional asal Gorontalo.

Nani Wartabone adalah pejuang kemerdekaan Indonesia yang pernah menduduki jabatan penting.

Dia adalah proklamator Kemerdekaan Gorontalo yang terjadi 3 tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI.

Kemerdekaan tersebut dikenal sebagai Hari Patriotik 23 Januari 1942 atau Hari Proklamasi Gorontalo.

Saat itu Nani Wartabone juga mengibarkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Nani Wartabone pernah menjabat Kepala Pemerintahan di Gorontalo, Kepala Daerah Sulawesi Utara, Anggota MPRS, Anggota DPRGR, Anggota Dewan Perancang Nasional, hingga Anggota DPA.

Foto- Foto di Museum Museum Nani Wartabone
Foto- Foto di Museum Museum Nani Wartabone (TRIBUNGORONTALO/PRAILLA KARAUWAN)

Sosok Nani Wartabone

Nani Wartabone lahir di Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo pada tanggal 30 April 1907.

Ayahnya bernama Zakaria Wartabone merupakan seorang aparat yang bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda.

Sementara ibunya merupakan seorang wanita keturunan ningrat atau priyayi pada zaman tu.

Jiwa perjuangan dan nasionalisme Nani Wartabone sudah tampak sejak dia masih remaja.

Hal itu dapat dilihat dari pandangannya yang keras terhadap Belanda meski ayahnya seorang aparat.

Nani Wartabone tidak betah berada di sekolah karena dia menilai guru-gurunya banyak yang mengagungkan Belanda.

Bahkan Nani Wartabone pernah membebaskan tahanan ayahnya karena tidak sampai hati melihat bangsanya dihukum.

Mendirikan Jong Gorontalo

Perjuangan nyata seorang Nani Wartabone dimulai pada tahun 1923, yaitu dengan mendirikan Jong Gorontalo.

Pada organisasi kedaerahan itu, Nani Wartabone dipercaya menjabat sebagai sekretaris.

Selain itu, Nani Wartabone juga bergabung ke dalam Partai Nasional Indonesia (PNI) Cabang Gorontalo, dan pernah ditunjuk menjadi ketua.

Suatu hari pada tahun 1931, Nani Wartabone yang sedang memimpin rapat PNI Gorontalo kedatangan pihak Belanda.

Maksud kedatangan Belanda itu tidak lain adalah untuk membubarkan rapat PNI yang digelar Nani.

Namun, Nani Wartabone dengan lantang melawan upaya pembubaran itu dengan mendemonstrasikan lagu Indonesia Raya.

Nani Wartabone juga tercatat aktif di organisasi Persyarikatan Muhammadiyah.

Dalam beberapa catatan disebutkan, maksud Nani Wartabone masuk Muhammadiyah bertujuan untuk menghindarkan umat dari pandangan yang merugikan Islam itu sendiri.

Pada tahun 1941, Nani Wartabone membentuk Komite 12, sebuah organisasi rahasia untuk menghadapi Perang Pasifik.

Sedangkan pada tahun berikutnya, Nanti memimpin pemberontakan dan menyatakan kemerdekaan Indonesia di Gorontalo.

Patung Nani Wartabone di depan Lapangan Taruna Remaja Kota Gorontalo merupakan penghormatan warga Gorontalo ke pahlawan nasional tersebut.
Patung Nani Wartabone di depan Lapangan Taruna Remaja Kota Gorontalo

Hari Patriotik 23 Januari 1942

Peristiwa ini disebut juga dengan Hari Proklamasi Gorontalo atau Hari Kemerdekaan Gorontalo. 

Latar belakang peristiwa ini adalah masuknya tentara Jepang ke Manado, dan membuat orang-orang Belanda ketakutan.

Mendengar kabar tersebut, orang-orang Belanda di Gorontalo juga merasa ketakutan dan berniat untuk pergi.

Kesempatan tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh Nani Wartabone untuk melancarkan perlawanan.

Pada Jumat 23 Januari 1942, Nani Wartabone memimpin para pemuda Suwawa menuju ke Gorontalo.

Di sepanjang perjalanan, rombongan Nani Wartabone kian besar karena banyak rakyat yang bergabung.

Sesampainya di Gorontalo, mereka lantas menangkapi para pejabat Belanda yang ada di sana.

Nani Wartabone kemudian menurunkan bendera Belanda dan menggantinya dengan pengibaran bendera Merah Putih dan diiringi oleh lagu Indonesia Raya.

 Dalam kesempatan tersebut, Nani Wartabone menegaskan bahwa bangsa Indonesia yang ada di Gorontalo sudah merdeka.

Sore harinya Nani memimpin pembentukan Pucuk Pimpinan Pemerintahan Gorontalo yang berfungsi sebagai Badan Perwakilan Rakyat.

Empat hari berikutnya, Nani memobilisasi rakyat untuk rapat raksasa di Tanah Lapang Besar Gorontalo.

Rapat raksasa itu bertujuan untuk mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamasikan dengan risiko apapun.

Namun saat Jepang masuk ke Gorontalo, Nani Wartabone ditangkap dan dipenjara di Manado.

Meski sempat bebas pada tahun 1944, namun Nani Wartabone baru benar-benar dibebaskan pada Desember 1949.

Deklarasi Kemerdekaan Indonesia di Gorontalo

Deklarasi kemerdekaan Indonesia yang diumumkan di lapangan Kota Gorontalo menjadi pemantik kebangkitan nasionalisme masyarakat.

Pidato deklarasi ini diucapkan oleh Nani Wartabone, tokoh petani Gorontalo yang menjadi ketua Komite 12.

Deklarasi kemerdekaan itu berbunyi: Pada hari ini tanggal 23 Januari 1942, kami Bangsa Indonesia yang berada di sini sudah merdeka bebas, lepas dari penjajahan bangsa manapun juga.

Bender akita Merah Putih, lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya, Pemerintah Belanda sudah diambil alih Pemerintah Nasional. Atas nama segenap rakyat, Ketua Komite Duabelas, Nani Wartabone.

Peristiwa 23 Januari 1942 ini berlangsung pukul 10.00 Wita, setelah orang-orang menawan pimpinan Pemerintahan Hindia Belanda. Setelah itu dilakukan pengibaran bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu kebangsaan "Indonesia Raya".

Tulisan deklarasi kemerdekaan Indonesia bisa dibaca di Museum Pahlawan Nani Wartabone di Suwawa Kabupaten Bone Bolango.

“Sayangnya naskah aslinya sampai sekarang belum diketahui, padahal kami sudah mencarinya di rumah Pak Nani Wartabone,” kata Merry Arsyad, edukator Museum Purbakala Provinsi Gorontalo, Selasa (16/8/2022).

Komite 12 ini adalah pimpinan partai politik di Gorontalo yang bersiap menghadapi segala kemungkinan akibat pecah Perang Pasifik.

Mereka adalah Nani Wartabone sebagai ketua, Koesno Dhanoepojo sebagai wakil ketua, Oe Boeloati sebagai sekretaris, anggotanya terdiri dari Usman Hadju, Usman Tumu, AG Usu, M Sugondo, RM Dhanu Watio, Sagaf Alhasni, Hasan Badjeber, AR Oeintoe, dan Usman Monoarfa.

Dari penelusuran salinan dokumen yang dibuat Nani Wartabone di Museum Purbakala Provinsi Gorontalo, diketahui pada deklarasi kemerdekaan Indonesia di Gorontalo, ia menjadi pucuk pimpinan setelah mengambil alih kekuasaan Pemerintahan Hindia Belanda.

Anggota Komite 12 lainnya berfungsi sebagai anggota badan legislatif dalam menjalankan stabilitas pemerintahan sehari-hari.

“Dalam catatannya Pak Nani Wartabone juga diketahui bahwa setelah Deklarasi Kemerdekaan Indonesia, pada 1 Februari 1942 Panglima Komando Tentara Jepang di Manado mengirim 3 orang perwiranya untuk meminta bantuan pangan dari Pemerintah Gorontalo,” ucap Merry Arsyad.

Selain meminta bahan pangan ternyata tentara Jepang juga meminta penyerahan orang-orang Belanda yang ditawan lascar rakyat di Gorontalo. Sebanyak 200 orang tentara KNIL dan orang Belanda diserahkan ke komando tentara Jepang di Manado.

Pengiriman makanan ke Manado ini diterima oleh Badan Pengamat Perekonomian Rakyat yang dipimpin Arnold Mononutu. Sebagai imbalannya, Pemerintahan Gorontalo mendapat alat pertanian dan tekstil.

Sayangnya, pada 6 Juni 1942, komando tentara Jepang telah menduduki Gorontalo, melarang pengibaran bendera Merah Putih, dan membubarkan semua organisasi politik.

“Pak Nani Wartabone sempat diminta menjadi Gunco Kaigi Gico atau Jogugu, seperti kepala daerah. Namun, beliau menolaknya dan memilih untuk kembali ke pekerjaan semula sebagai petani, ia tidak mau diperalat Jepang,” tutur Merry Arsyad.

Akhir Hayat Nani Wartabone

Setelah bebas dari penjara, Nani Wartabone menjadi sosok pemimpin Gorontalo.

Sejumlah jabatan pernah diembannya. Dia juga memimpin rakyat Gorontalo menumpas pemberontakan PRRI dan Permesta.

Namun demikian, Nani Wartabone meninggal dunia justru bukan sebagai pejabat melainkan sebagai petani di desa terpencil.

Nani Wartabone meninggal dunia bersamaan dengan azan salat Jumat pada tanggal 3 Januari 1989 di Suwawa, Gorontalo.

Untuk mengenang jasa-jasanya, Nani Wartabone ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 2003.

Sumber: Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved