Potensi Gagal Panen di Gorontalo: Tanaman Padi Selamat, Jagung Terancam

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, Muljady Mario melaporkan, tanaman padi saat ini tampaknya berada dalam kondisi baik.

Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com
Panen jagung di Lapas Perempuan Gorontalo. FOTO: Wawan Akuba 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Musim panen di Gorontalo menjadi sorotan, terutama di periode kemarau saat ini.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, Muljady Mario melaporkan, tanaman padi saat ini tampaknya berada dalam kondisi baik.

Saat melaporkan data tersebut kepada Pj Gubernur Gorontalo beberapa waktu lalu, Muljady menyatakan tak ada tanda-tanda kegagalan panen untuk padi.

Namun, cerita berbeda terungkap untuk tanaman jagung di daerah Dungaliyo dan Batudaa, Kabupaten Gorontalo.

Dari total luas pertanian seluas 1.125 hektar, sekitar 46.2 hektar kemungkinan akan mengalami kegagalan panen.

Hal ini disebabkan oleh posisi penanaman yang masuk dalam periode kemarau, yang mengancam kelangsungan pertumbuhan jagung.

Imbauan BMKG

Sebetulnya terkait ancaman gagal panen ini sudah diperingati oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati beberapa waktu lalu. 

Pada akhir Juli 2023 kemarin ia mengingatkan akan adanya ancaman gagal panen pada lahan pertanian tadah hujan imbas fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang mengakibatkan kekeringan.

Situasi ini menurutnya berpotensi mengganggu ketahanan pangan nasional.

"Pemerintah daerah perlu melakukan aksi mitigasi dan aksi kesiapsiagaan segera. Lahan pertanian berisiko mengalami puso alias gagal panen akibat kekurangan pasokan air saat fase pertumbuhan tanaman," ungkap Dwikorita di Jakarta, Jum'at (21/7/2023).

Dwikorita menyebut, fenomena El Nino dan IOD Positif saling menguatkan sehingga membuat musim kemarau tahun ini dapat menjadi lebih kering dan curah hujan pada kategori rendah hingga sangat rendah.

Jika biasanya curah hujan berkisar 20 mm per hari, kata dia, maka pada musim kemarau ini angka tersebut menjadi sebulan sekali atau bahkan tidak ada hujan sama sekali.

Puncak kemarau kering ini, tambah Dwikorita, diprediksi akan terjadi di bulan Agustus hingga awal bulan September dengan kondisi akan jauh lebih kering dibandingkan tahun 2020, 2021, dan 2022.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan BMKG, indeks El Nino pada bulan Juli ini mencapai 1,01 dengan level moderate, sementara IOD sudah memasuki level index yang positif.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved