Human Interest Story
Sepenggal Cerita Kedekatan Nani Wartabone dengan Cucunya
Kepada TribunGorontalo.com, Rendy mengaku tahu persis bagaimana Nani Wartabone. Sebab, ia tinggal bersama kakeknya tersebut.
Penulis: Prailla Libriana Karauwan | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/1982023_Rendy-Hulukati_Nani-Wartabone.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Rendy Hulukati, cucu tertua Nani Wartabone menceritakan sepenggal kebiasaan kakeknya itu.
Kepada TribunGorontalo.com, Rendy mengaku tahu persis bagaimana Nani Wartabone. Sebab, ia tinggal bersama kakeknya tersebut.
Rendy tinggal bersama Nani Wartabone di Desa Helumo, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango. Rumah tersebut yang kini menjadi Makan Nani Wartabone saat ini.
Ia tinggal di rumah tersebut sejak duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
"Saya tinggal bersamanya sejak papa saya meninggal. Ia bawa kami semua tinggal di sini (rumah Nani Wartabone)," ungkap Rendi kepada TribunGorontalo.com.
Rendy mengatakan Nani Wartabone adalah tipe orang pendiam. Ia memilih diam dibandingkan banyak bercerita dengan cucunya.
Setiap pagi, Nani Wartabone hanya akan mendengarkan radio. Dari radio itulah Nani Wartabone bisa mendapatkan segala informasi.
"Dia tiap pagi cuma mendengarkan radio, jadi informasi semua itu dia dapatkan dari berita di radio-radio," ungkapnya.
Rendy juga bercerita mengenai kedekatannya dengan sang kakek.
"Saya pernah bertanya begini sama beliau 'Opa dorang bilang ti opa ini jaga pake ilmu," kata Rendy,
"Baru dia (Nani Wartabone) menjawab 'ah tidak butul itu, sapa bilang ti opa ada ilmu, ti opa tidak jaga pake ilmu, cuma ti opa itu apa yang ti opa minta sama Allah dia kabulkan, cuma itu saja. Ilmu-ilmu itu tidak butul itu'," lanjutnya.
Semasa hidup, Nani Wartabone ini selalu menyempatkan beribadah dan juga belajar.
Ia pernah mengenyam pendidikan di Surabaya, hingga ketemu dengan pahlawan-pahlawan nasional seperti Soekarno, Moh Hatta, dan lainnya.
"Dia kan pernah belajar di Surabaya, ketemu dengan banyak pahlawan nasional lainnya, jadi dari sana dia belajar," ujar Rendy.
Nani Wartabone semasa hidup juga tidak pernah memilih makanan, apa yang disajikan oleh istrinya, itu yang dimakannya.
"Tapi dia tidak doyan dengan gorengan atau makanan yang digoreng, dia lebih suka jika dibakar," tandasnya.
Nani Wartabone diketahui memiliki 9 orang anak yaitu Sarinah Wartabone, Hanum Wartabone, Aroman Wartabone, Rasunah Wartabone, Fauzy Wartabone, Nony Wartabone, Dolly Wartabone, Yos Wartabone, dan Djalaludin Wartabone.
Profil Nani Wartabone
Nani Wartabone (30 April 1907 – 3 Januari 1986) adalah seorang putra asli Gorontalo yang mencurahkan hidupnya sebagai seorang petani dan menjadi tokoh revolusioner dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia di Sulawesi.
Wartabone juga merupakan sahabat seperjuangan Soekarno dalam membebaskan Indonesia dari cengkraman penjajah.
Wartabone dikenal sebagai Proklamator Kemerdekaan Indonesia di Gorontalo pada tanggal 23 Januari 1942, yang lebih dikenal dengan sebutan Hari Proklamasi Gorontalo.
Peristiwa ini terjadi tiga tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.
Berdasarkan dedikasinya yang luar biasa dan kontribusinya yang besar dalam perjuangan kemerdekaan Gorontalo, Wartabone dihormati dengan gelar Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia ke-5, Megawati Soekarno Putri, Nomor 085/TK/Tahun 2003 tanggal 6 November 2003.
Selain itu, Nani Wartabone juga diberi gelar adat Pulanga oleh Persekutuan Lima Kerajaan di Gorontalo, yaitu gelar "Ta Lo Duluwa Lo Lipu," yang bermakna "Sang Pembela Negeri." (*)