Riden Baruadi Tutup Usia
Riden Baruadi Fotografer Cum Seniman Senior Gorontalo Tutup Usia
Fotografer cum seniman kelahiran 30 November 1952 itu, dikabarkan sakit sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2232023_Riden-Baruadi_meninggal-Dunia_001.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Riden Baruadi, seorang fotografer senior Gorontalo, meninggal dunia, Rabu (22/3/2023).
Fotografer cum seniman kelahiran 30 November 1952 itu, dikabarkan sakit sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
Informasi keluarga, Riden Baruadi akan dimakamkan di rumah duka di jalan Raja Wadipalapa, Tualango, Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo, siang ini.
Awalludin, kerabat Riden Baruadi yang dihubungi TribunGorontalo.com mengaku, Riden Baruadi masih sempat menghubunginya Selasa (21/3/2023) kemarin.
Memang kata Awalludin, Riden Baruadi sempat dilarikan ke RS pada Selasa malam. Lalu Rabu pagi tadi, ia sempat menengoknya di rumah sakit.
“Kemarin masih sehat. Semalam dapa info so di ICCU. Tadi pagi ana (saya) ka RS. Selang sadiki so meninggal,” ungkap Awaludin Ahmad melalui pesan Whatsapp kepada TribunGorontalo.com.
Karena itu, kabar meninggalnya Riden Baruadi sempat membuatnya kaget. Sebab saat ini juga Riden Baruadi diketahui akan berpartisipasi dalam pameran di Sangihe.
“Sore (kemarin) Om Riden masih ba WA (WhatssApp), ba tanya kalo dp file untuk pameran di Sangihe sdh (sudah) masuk,” kata Awal.
Siapa Riden Baruadi?
Barangkali tidak banyak yang kenal Riden Baruadi, kecuali para aktivis dan seniman, serta para alumnus Jogja.
Syamsul Huda Suhari alias Syam Terajjana, seniman asal Gorontalo yang juga seorang jurnalis pernah menulis terkait Riden Baruadi.
Dalam tulisannya, ia menyebut Riden adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Empat saudaranya meninggal ketika dia masih kecil.
Riden menghabiskan masa kecilnya di Potanga, sebuah kampung pinggiran Kota Gorontalo, dekat dengan Danau Limboto.
Sedari bocah, hidupnya sudah lekat dengan alam. Riden suka bermain -main di sungai di belakang rumahnya, mengail ikan atau menyusuri bantaran hingga ke Danau terbesar di Gorontalo itu bersama kawan-kawannya.
Riden bertolak ke Pulau Jawa untuk berkuliah pada 1971. Riden berusia 19 tahun ketika masuk Akademi Seni Rupa (ASRI) - Kini Institut Seni Indonesia - Yogyakarta. Dia mengambil jurusan Desain Interior.
Dalam tulisannya Syam, Riden disebut berjasa untuk pembentukan Provinsi Gorontalo pada 2000 silam.
Sebab, Riden merelakan karya-karya fotonya dilelang untuk menggalang dana pembentukan Provinsi Gorontalo yang kini berusia 22 tahun.
Kata Syam, Riden merelakan belasan foto bertema human interest dengan berbagai obyek di Gorontalo; petani menyumbi kelapa, penggali kapur, perempuan mencuci di sungai, juga perayaan Tumbilotohe, tradisi tiga malam pasang lampu menjelang lebaran Idul Fitri.
Foto-foto itu dicetak besar-besar. Dipajang di Ball Room Hotel Le Meridien Jakarta. Di sana digelar “Malam Ramah Tamah Peduli Provinsi Gorontalo” 2 September, 2000 silam.
Acara yang digagas Komite Pusat Pembentukan Provinsi Gorontalo (KP3G) itu sukses manis. 14 karya foto Riden Baruadi bertajuk “Nuansa Gorontalo” terlelang semua, berhasil mengumpulkan 117,5 juta rupiah. (*)