Arti Kata
Mengenal Apa Itu BYPOL, Organisasi Anti Pemerintah Belarus yang Hancurkan Pesawat Militer Rusia
Drone yang diluncurkan organisasi anti pemerintah Belarusia, BYPOL, menghancurkan pesawat militer Rusia di wilayah lapangan udara Machulishchy.
Penulis: Nina Yuniar | Editor: Ananda Putri Octaviani
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustrasi-BYPOL.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - BYPOL meluncurkan drone untuk menyerang lapangan udara Machulishchy yang berjarak 12 km dari Ibu Kota Belarusia atau Belarus, Minsk.
Serangan dari BYPOL ini merusak parah pesawat militer Rusia, yakni pesawat peringatan dini dan kontrol udara (Awacs) Beriev A-50.
Apa Itu BYPOL?
Dilansir TribunGorontalo.com dari laman resmi bypol.org, BYPOL adalah sebutan bagi organisasi persatuan petugas keamanan Belarusia.
Baca juga: Mengenal Apa Itu UAV, Kendaraan Udara Tak Berawak yang Gemparkan Ibu Kota Rusia, Ulah Ukraina?
BYPOL merupakan organisasi anti pemerintah Belarusia sekaligus partisan anti-perang.
Tujuan BYPOL ialah untuk memulihkan pemerintahan demokratis di Belarusia dengan pemimpin nasional Svetlana Tikhanovskaya mengambil alih.
Selain itu, BYPOL juga bertujuan untuk mengadakan pemilihan presiden dan parlemen baru berdasarkan prinsip demokrasi.
Asosiasi Pasukan Keamanan Belarusia ini didirikan oleh mantan pegawai lembaga penegak hukum untuk melawan otoritas Belarusia.
Baca juga: Termasuk Terkuat di Dunia, Apa Itu Rudal Sarmat "Setan 2" Milik Rusia yang Bakal Dikerahkan Putin
BYPOL Hancurkan Pesawat Rusia
Dilansir TribunGorontalo.com dari BBC, Pemimpin BYPOL Aliksandr Azarov pada Minggu (26/2/2023), mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap pesawat peringatan dini Beriev A-50 di dekat pangkalan udara Machulishchy.
Peristiwa ini terjadi di tengah peningkatan kerja sama antara Belarusia dan Rusia.
Baca juga: Mengenal Apa Itu Roket Grad yang Diluncurkan Rusia ke Ukraina hingga Tewaskan 5 Orang di Bakhmut
Serangan itu merusak bagian depan dan tengah pesawat serta radar dan antenanya, kata BYPOL di Telegram.
"Ini adalah drone. Peserta operasi adalah Belarusia", kata Azarov.
Berbicara kepada BBC, Fanak Viacorka, Penasihat Pemimpin Oposisi Belarusia, mengatakan serangan itu "kreatif" dan "canggih".
"Itu sangat berani karena Belarusia berada dalam situasi teror total", sebut Viacorka.
Baca juga: Apa Itu Drone Kamikaze? Pesawat Tanpa Awak Buatan Iran yang Dipakai Rusia untuk Serang Ukraina
Viacorka menambahkan bahwa pihak oposisi "pasti dibantu oleh penduduk setempat, dibantu oleh militer" untuk merusak pesawat.
Namun, tidak mungkin untuk mengkonfirmasi laporan pihak oposisi tentang apa yang terjadi.
Baik departemen pertahanan Rusia dan Belarusia belum mengomentari insiden tersebut secara terbuka.
Baca juga: Mengenal Apa Itu AMX A-11, Jet Tempur Lawas Italia yang Bakal Dikirim ke Ukraina untuk Lawan Rusia
Secara terpisah, saluran pro-Kremlin terkemuka, TV Tsargrad, mengkonfirmasi serangan pesawat tak berawak (drone) di pangkalan udara, tetapi menyalahkan militer Ukraina.
Itu juga melaporkan kerusakan pada A-50, tetapi tidak memberikan rincian spesifik.
Seorang ahli pertahanan udara Rusia, Yuri Knutov, mengatakan kepada saluran tersebut bahwa karena beberapa alasan pangkalan udara tersebut tidak dilindungi oleh rudal anti-pesawat Pantsir Rusia.
Baca juga: Mengenal Apa Itu AMX-10RC, Tank Tempur Tua yang Bakal Dikirim Prancis ke Ukraina untuk Lawan Rusia
Menurut Knutov, A-50 sebagai pusat komando lintas udara yang digunakan untuk mengarahkan serangan udara Rusia.
BYPOL terdiri dari mantan petugas penegak hukum yang sekarang menentang kantor Presiden Belarusia Alexander Lukashenko.
BYPOL telah terdaftar sebagai organisasi teroris oleh pemerintah Lukashenko.
Baca juga: Update Perang Rusia Vs Ukraina Hari Ke-372: Putus Asa, Kyiv Sarankan Pasukannya Mundur dari Bakhmut
Sementara Minsk tidak secara langsung terlibat dalam perang di Ukraina, Lukashenko mengizinkan invasi pasukan Rusia untuk diluncurkan ke Ukraina melalui wilayah Belarusia.
Belarusia dan Rusia juga telah berpartisipasi dalam latihan militer bersama selama beberapa bulan terakhir di tengah perang Ukraina yang masih berlangsung sejak dimulai Presiden Rusia Vladimir Putin pada 24 Februari 2022 ini.
(TribunGorontalo.com/Nina Yuniar)