Kamis, 5 Maret 2026

Prevalensi Stunting Gorontalo Turun 5,2 Persen, Tertinggi ke-3 di Indonesia dan Lampaui Target

Data dinas kesehatan setempat, Gorontalo berhasil menurunkan angka stunting di wilayah itu hingga 5,2 persen.

Tayang:
zoom-inlihat foto Prevalensi Stunting Gorontalo Turun 5,2 Persen, Tertinggi ke-3 di Indonesia dan Lampaui Target
TribunGorontalo.com
Dua anak dengan tinggi berbeda. (Foto hanya ilustrasi, tidak menggambarkan anak stunting). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Intervensi penurunan stunting atau tengkes di Provinsi Gorontalo berbuah manis. 

Data dinas kesehatan setempat, Gorontalo berhasil menurunkan angka stunting di wilayah itu hingga 5,2 persen.

Kendati, target penurunan tengkes se-nasional per tahun hanya di angka 3,8 persen. 

Artinya, angka penurunan tengkes Gorontalo justru melampaui target. 

Tidak cuma itu, jika dibandingkan dengan provinsi lain, jadi angka tertinggi ke-3 di Indonesia

Peringkat pertama dicapai oleh Provinsi Sumatera Selatan dengan penurunan prevalensi stunting sebesar 6,2 persen. 

Gorontalo hanya berbeda sedikit dengan Kalimantan Selatan di angka 5,4 persen.

Yana Yanti Suleman, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo menganggap, angka ini cukup jadi modal ke depan.

Terutama dalam mencapai target Presiden Jokowi pada 2024 penurunan angka stunting hingga 14 persen.

“Tentunya ini merupakan kerja keras bersama secara terintegrasi di mana infrastruktur dan lembaga digerakkan secara bersama.” kata Yana dari laporan tertulis, Sabtu (28/1/2023). 

Menurut dia, dukungan Pj Gubernur Gorontalo Hamka Hendra Noer dan istrinya sebagai Ketua TP PKK sangat besar. 

“Apalagi tantangan di tahun sebelumnya cukup berat, mengingat kita menghadapi pandemi Covid-19 sehingga tugas dan tanggung jawab menjadi lebih banyak”, pungkasnya.

Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2022 menunjukkan bahwa terjadi penurunan angka stunting sebesar 2,8  persen dibandingkan dengan 2021.

“Angka stunting tahun 2022 turun dari 24,4  persen [tahun 2021] menjadi 21,6  persen. Jadi turun sebesar 2,8  persen.” ungkap Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), Syarifah Liza Munira pada kesempatan yang sama

Untuk dapat mencapai target 14  persen di tahun 2024 diperlukan penurunan secara rata rata 3,8  persen per tahun, lanjut Liza.

Pelaksanaan SSGI dilaksanakan melibatkan berbagai stakeholder, mulai dari Setwapres, Bappenas, BPS, Kemendagri, Poltekkes Dinkes Provinsi dan Kabupaten Kota, serta para pakar dari berbagai universitas.

Selain stunting, dalam SSGI juga mengukur tiga status gizi lainnya, yakni balita wasting (penurunan berat badan), underweight (berat badan kurang), dan overweight (berat badan berlebih).

Meski angka stunting menurun, angka balita wasting dan underweight mengalami peningkatan. Yakni angka wasting naik 0.6  persen dari 7,1  persen pada 2021 menjadi 7,7  persen pada 2022

Sementara underweight naik 0,1  persen dari 17,0 pada 2021 dan 17,1  persen pada 2022. Underweight adalah kondisi saat berat badan anak berada di bawah rentang rata-rata atau normal.

Kemudian pada kasus balita overweight terjadi penurunan 0,3  persen dari 3,8  persen tahun 2021 menjadi 3,5  persen pada 2022.

Terkait angka stunting, jika dilihat lagi berdasarkan kelompok umur, ada dua kelompok umur yang sangat signifikan dan penting untuk dilakukan intervensi. 

Pertama saat kondisi sebelum kelahiran sebesar 18,5  persen di tahun 2022. 

Kelompok kedua pada usia 6-11 bulan meningkat tajam 1,6 kali menjadi 22,4 persen di kelompok usia 12-23 bulan.

“Di titik pertama (sebelum kelahiran) penting untuk intervensi di masa kehamilan. Dan intervensi kedua saat bayi mendapatkan MP-ASI setelah masa ASI eksklusif” jelas Liza. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved