Piala Dunia 2022

Argentina vs Polandia Piala Dunia 2022: Mengharapkan “Kehadiran” Maradona

Adalah selalu sulit ketika kita kehilangan seseorang; karena kehilangannya meninggalkan lubang besar di hati yang tak pernah dapat menutup kembali.

Editor: Lodie Tombeg
AFP/KIRILL KUDRYAVTSEV
Suporter membentangkan spanduk yang menggambarkan legenda sepak bola asal Argentina, Diego Maradona (kiri) dan pemain depan Argentina, #10 Lionel Messi sebelum dimulainya laga sepak bola Grup C Piala Dunia 2022 antara Argentina melawan Arab Saudi di Stadion Lusail, di Lusail, utara Doha, Qatar, Selasa (22/11/2022). 

 Oleh Willy Kumurur, penikmat bola
 
TRIBUNGORONTALO.COM - Adalah selalu sulit ketika kita kehilangan seseorang; karena kehilangannya meninggalkan lubang besar di hati yang tak pernah dapat menutup kembali.

Penulis Inggris, Kevin Brooks, berujar demikian. Kepergian legenda bola Argentina, Diego Armando Maradona, meninggalkan lubang besar di hati fans Argentina.
 
Ribuan fans Argentina berkumpul di pasar Souq Waqif yang bersejarah di Doha - Qatar untuk menghormati Maradona, yang meninggal dunia tepat dua tahun yang lalu.

Mereka memenuhi jalan-jalan dengan bendera biru-putih Argentina dan terus-menerus menyanyikan lagu-lagu untuk mengenang Maradona.

“Kami sangat merindukannya. Dia selalu ada untuk kami,” kata Julio Valsi, fans berusia 64 tahun.

“Kami masih bisa merasakan kehadirannya. Saya yakin dia akan mengawal tim nasional kami dari mana pun dia berada. Kami membutuhkan dia untuk membantu kami sekarang di Qatar.”
 
Fans Argentina terus mengenang zaman keemasan Maradona.

Yang paling dikenang dunia adalah ketika Argentina berjumpa Inggris di perempat final pada 23 Juni 1986.

Babak kedua baru berjalan lima menit, dari sisi kiri Maradona memotong ke dalam dan mengirimkan umpan diagonal ke rekannya, Jorge Valdano.

Saat itu Valdano ada di batas area penalti Inggris yang dikawal ketat gelandang kiri Inggris, Steven Hodge.

Sementara itu, Maradona berlari ke kotak penalti sambil berharap bahwa Valdano akan mengembalikan bola kepadanya.

Valdano menyentuh bola dengan kaki kirinya, bola naik ke atas namun kemudian Hodge menguasainya.

Hodge yang membelakangi kotak penalti menendang bola ke arah kotak penalti. Bola mengarah ke gawang.

Kiper Inggris, Peter Shilton, keluar dari sarangnya untuk menjemput bola, namun Maradona yang 20 cm lebih pendek dari Shilton lebih dahulu melompat.

Tangan kiri Maradona menyentuh bola yang terus bergulir masuk gawang pada menit 50 lebih 30 detik.

Wasit mengesahkan gol yang kemudian dikenal sebagai gol “tangan Tuhan”. Empat menit kemudian lahirlah gol kedua Maradona yang dikenal sampai sekarang sebagai The Goal of the Century (gol abad ini).

Inggris kalah 1-2 dalam laga bersejarah itu. Usai laga, Maradona dan Hodge bertukar jersey. Bertahun-tahun kemudian, media bisnis Forbes memberitakan bahwa jersey yang dikenakan Maradona ketika menciptakan gol “Tangan Tuhan” dilelang oleh juru lelang Sotheby’s dan laku dengan harga US $ 9,3 juta (dolar Amerika Serikat/Rp 144,150 miliar).
 
Maradona memimpin rekan-rekannya berhadapan dengan Jerman Barat di final Piala Dunia 1986 yang berlangsung di Stadion Azteca – Meksiko; stadion yang dipadati oleh 114.600 penonton pada 30 Juni 1986.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved