Tiga Kerajaan di Gorontalo Pernah Dipimpin Perempuan

Dalam sejumlah penelitian disebutkan, tiga kerajaan dalam limo lo pohalaa, pernah dipimpin perempuan. 

TribunGorontalo.com/istimwa
Jupanggola. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Provinsi Gorontalo memiliki sejarah panjang terkait kepemimpinan perempuan.

Dalam sejumlah penelitian disebutkan, tiga kerajaan dalam limo lo pohalaa, pernah dipimpin perempuan. 

Perlu diketahui, sebelum masa penjajahan, keadaaan daerah Gorontalo berbentuk kerajaan-kerajaan yang diatur menurut hukum adat ketatanegaraan Gorontalo. 

Kerajaan-kerajaan itu tergabung dalam satu ikatan kekeluargaan yang disebut "Pohala'a". Ada lima kerajaan, sehingga disebut limo lo pohalaa. 

Kerajaan tersebut yakni Kerajaan Gorontalo atau Hulonthalangi, Kerajaan Limboto atau Limutu, Kerajaan Suwawa, Kerajaan Boalemo, dan Kerajaan Atinggola

Ali Mobiliu sebagai peneliti sejarah Gorontalo mengungkapkan, pemimpin perempuan pertama di Gorontalo Mbui Ayudugya, sebagai Ratu Suwawa. 

Sementara Kerajaan Limboto dipimpin Mbui Maimunah, dan Kerjaan Hulonthalangi dipimpin Mbui Bulaida'a. 

Disebutkan Ali Mobiliu, Mbui Ayudugya memimpin kerajaannya pada abad ke-5. 

Ia memimpin Kerajaan Suwawa yang pusatnya di Ketinggian Bangio atau yang kini disebut Pinogu. 

Mbui Ayudugya dikenal sosok pemimpin yang perkasa dan mampu menyatukan seluruh rakyat Suwawa kala itu. 

Sedangkan Mbui Maimunah yang memimpin Kerajaan Limboto. Ratu ini disebut paling banyak melahirkan anak perempuan yang menjadi pemimpin. 

Mbui Maimunah dikenal pemersatu kerajaan-kerajaan kecil (linula) yang berada di Kabupaten Gorontalo.

Setelah Maimunah lahir, lahir pemimpin perempuan bernama Mbui Bungale. Disusul oleh Mbui Tolangohula. 

Setelah itu Kerajaan Limboto dipimpin Mbui Geyalo, hingga berlanjut pada kepemimpinan Mbui Molye hingga abad 16, sosok perempuan terakhir yang memimpin Limboto adalah Mbui Pohele'o. 

Sementara itu, Ratu Hulonthalangi atau Gorontalo adalah Mbui Bulaidaa, istri dari Olongia Humalanggi. 

Ratu ini memimpin sejak tahun 1365 hingga 1395. Selanjutnya Kepemimpinan Hulonthalangi diPimpin oleh anaknya bernama Matolodula Da'a dari tahun 1395.

Sayangnya, kepemimpinan perempuan di Gorontalo berakhir sejak masuknya VOC Belanda di Gorontalo sejak awal abad 17.

"Kepemimpinan perempuan di Gorontalo tidak seharusnya memunculkan kontroversi,” tegasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved