Pencanangan HUT PGRI di Kota Gorontalo Berlangsung Meriah, Ada Hidangan Nonberas

Tampak, pencanangan itu juga diisi dengan penampilan marching band Gita Buana SDN 41 Hulonthalangi. Sorak gembira mewarnai kegiatan yang dimulai sejak

Penulis: Husnul Puhi |
TribunGorontalo.com/Ade Puhi
Pencanganan HUT untuk organisasi persatuan guru Indonesia ini cukup meriah. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Pemerintah Kota Gorontalo mencanangkan peringatan HUT ke-77 PGRI, Sabtu (5/11/22). 

Pencanganan HUT untuk organisasi persatuan guru Indonesia ini cukup meriah. Digelar di Lapangan Taruna Remaja dan dihadiri oleh hampir seluruh siswa-siswi di Kota Gorontalo.

Tampak, pencanangan itu juga diisi dengan penampilan marching band Gita Buana SDN 41 Hulonthalangi. Sorak gembira mewarnai kegiatan yang dimulai sejak pagi tadi tersebut. 

Dalam kegiatan itu Pengurus PGRI Kota Gorontalo mendirikan stand untuk menyediakan beberapa sajian kuliner khas Gorontalo.

Terlihat di tiap-tiap stand PGRI Kota Gorontalo menyediakan Jagung rebus, Batata rebus, Singkong rebus dan ikan rowa atau sagela. 

Tampak juga masakan nonberas dihidangkan seperti santan dan nasi jagung, serta ayam bakar dengan bumbu iloni. 

Menurut panitia, kegiatan tersebut akan dibuka langsung oleh Wali Kota Gorontalo Marten Taha.

Dalam kesempatan itu, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Gorontalo, Lukman Kasim melantunkan sajak singkat.

Sejarah PGRI

Tepat pada 25 November nanti adalah HUT ke-77 PGRI Nasional. Perlu diketahui, sesuai namanya PGRI adalah organisasi di Indonesia yang anggotanya berprofesi sebagai guru. 

Dilansir dari berbagai sumber, organisasi PGRI didirikan dengan semangat perjuangan para guru pribumi pada zaman Belanda, pada tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB). 

PGRI memiliki afiliasi dengan ASEAN Council of Teachers. PGRI juga tergabung dalam Education International, sebuah organisasi guru dunia yang terdiri dari 172 negara.

Pada awalnya organisasi perjuangan guru-guru pribumi pada zaman Belanda berdiri pada tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB).

Organisasi ini bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan penilik sekolah. Dengan latar pendidikan yang berbeda-beda, mereka umumnya bertugas di sekolah desa dan sekolah rakyat angka dua.

Tidak mudah bagi PGHB memperjuangkan nasib para anggotanya yang memiliki pangkat, status sosial dan latar belakang pendidikan yang berbeda. Sejalan dengan keadaan itu, di samping PGHB berkembang pula organisasi guru baru antara lain Persatuan Guru Bantu (PGB), Perserikatan Guru Desa (PGD), Persatuan Guru Ambachtsschool (PGAS), Perserikatan Normaalschool (PNS), Hogere Kweekschool Bond (HKSB), disamping organisasi guru yang bercorak keagamaan, kebangsaan atau lainnya seperti Christelijke Onderwijs Vereniging (COV), Katholieke Onderwijsbond (KOB), Vereniging Van Mulo Leerkrachten (VVM), dan Nederlands Indische Onderwijs Genootschap (NIOG) yang beranggotakan semua guru tanpa membedakan golongan agama.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved