Rabu, 4 Maret 2026

Rusuh Arema vs Persebaya

Terancam Sanksi FIFA: Melebihi Tragedi Haysel, 'Puasa Bola' Lebih 5 Tahun

Sepak bola Indonesia terancam sanksi berat dari FIFA pascatragedi Stadion Kanjuruhan yang menewaskan 129 orang.

Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Terancam Sanksi FIFA: Melebihi Tragedi Haysel, 'Puasa Bola' Lebih 5 Tahun
Kolase TribunGorontalo.com
Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Sabtu malam, (insert) Presiden FIFA Gianni Infantino. Sepak bola Indonesia terancam sanksi berat dari FIFA pascatragedi Stadion Kanjuruhan yang menewaskan 129 orang. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Sepak bola Indonesia terancam sanksi berat dari FIFA pascatragedi Stadion Kanjuruhan yang menewaskan 129 orang. Satu di antaranya ancaman dicabutnya status tuan rumah untuk Piala Dunia U-20 2023.

Tragedi di Stadion Kanjuruhan melanggar beberapa poin seperti di FIFA Disciplinary Code soal ketertiban dan keamanan di pertandingan.

Apalagi, kericuhan seusai kekalahan Arema FC dari Persebaya Surabaya 2-3, Sabtu (1/10/2022) malam, menggunakan gas air mata oleh polisi yang telah melanggar regulasi FIFA.

Sebelumnya FIFA pernah menjatuhkan hukuman berat terhadap klub Inggris ketika terjadinya Tragedi Heysel.

Tragedi Haysel terjadi pada 29 Mei 1985, ketika Juventus akan menghadapi Liverpool pada final Kejuaraan Eropa yang sekarang dikenal sebagai Liga Champions.

Kedua tim akan melakoni pertandingan di Stadion Heysel, Brussels, Belgia.

Insiden itu terjadi para pendukung Liverpool melanggar pagar yang memisahkan dua kelompok supporter dan menyerang pendukung Juventus hingga meruntuhkan dinding Stadion Heysel.

Sebanyak 39 orang, yang kebanyakan orang Italia dan fans Juventus, tewas, dan 600 orang lainnya terluka daam konfrontasi tersebut.

Setelah dilakukan penyelidikan, pendukung Inggris menjadi pihak yang bersalah atas insiden tersebut.

Pada 2 April 1985, UEFA memberikan hukuman larangan bermain untuk klub-klub Inggris di kompetisi Eropa untuk jangka waktu yang tak ditentukan.

Namun pada 6 Juni 1985, FIFA menambahkan hukuman larangan bermain tersebut berlaku untuk kompetisi di seluruh dunia.

Tetapi hukuman itu dimodifikasi sepekan kemudian bahwa mereka mengizinkan klub Inggris melakukan laga persahabatan di luar Eropa.

Pada Desember 1985, FIFA mengumumkan bahwa klub Inggris bisa memainkan laga persahabatan di Eropa, meski pemerintah Belgia melarang klub Inggris bermain di negaranya.

Bukan tak mungkin, FIFA juga akan memberikan hukuman ke klub Indonesia, mengingat banyaknya korban jiwa yang muncul atas kericuhan tersebut.

Baca juga: LPSK: Harus yang Bertanggung Jawab Kerusuhan Arema vs Persebaya

Apalagi, sudah ada pelanggaran terhadap Regulasi Keseamatan dan Keselamatan Satdion, pada pasal 19b pengaman pinggir lapangan.

Pada aturan itu menyebutkan senjata atau gas pegendali mass tidak boleh dibawa atau digunakan di dalam stadion.

Sedangkan gas air mata digunakan kepolisian untuk mengurai kerumunan suporter, dan disebut berperan memperbesar jumlah korban.

Jika disanksi, hal itu jelas akan menjadi kerugian bagi Indonesia, mengingat akan menjadi tuan rumah Piala Dunia U20 pada tahun depan.

Tragedi Kanjuruhan melanggar beberapa poin seperti yang ada di FIFA Disciplinary Code. Berikut bunyi lengkap pasal 16 FIFA Discipline Code.

1. Klub tuan rumah dan asosiasi bertanggung jawab atas ketertiban dan keamanan baik di dan di sekitar stadion sebelum, selama dan setelah pertandingan. Mereka bertanggung jawab untuk insiden dalam bentuk apa pun dan dapat dikenakan tindakan disipliner dan arahan kecuali mereka dapat membuktikan bahwa mereka tidak lalai dalam cara dalam organisasi pertandingan. Secara khusus, asosiasi, klub dan perangkat pertandingan berlisensi yang menyelenggarakan pertandingan harus:

Baca juga: Sudah Dilarang FIFA: Ada Asap Gas Air Mata saat Rusuh Arema vs Persebaya

a) menilai tingkat risiko yang ditimbulkan oleh pertandingan dan memberi tahu badan FIFA dari mereka yang sangat berisiko tinggi;

b) mematuhi dan menerapkan aturan keselamatan yang ada (peraturan FIFA, hukum nasional, perjanjian internasional) dan mengambil setiap keselamatan tindakan pencegahan yang dituntut oleh keadaan di dalam dan di sekitar stadion sebelum, selama dan setelah pertandingan dan jika insiden terjadi;

c) memastikan keamanan ofisial pertandingan dan para pemain dan ofisial tim tamu selama mereka tinggal;

Sebanyak 127 orang meninggal dunia akibat kerusuhan kelar laga Arema FC vs Persebaya Surabaya di lanjutan pekan ke-11 Liga 1 2022-2023, Sabtu 1 Oktober 2022 malam WIB. Akibat insiden di atas, Indonesia terancam mendapat sanksi FIFA hingga pencabutan status tuan rumah Piala Dunia U-20 2023.

Korban kerusuhan laga Arema FC vs Persebaya Surabaya lebih banyak ketimbang tragedi Heysel yang mempertemukan Liverpool vs Juventus di final Liga Champions 1984-1985. Kondisi itulah yang membuat Indonesia dalam hal ini PSSI, berpotensi mendapat hukuman dari FIFA selaku Federasi Sepakbola Dunia.

Lebihi Tragedi Heysel

Tragedi ini melebihi jumlah korban dari Tragedi Heysel pada 29 Mei 1985 dalam laga final Liga Champions antara Liverpool dan Juventus. Kala itu, tembok stadion Heysel runtuh dan menyebabkan 39 orang meninggal dunia.

FIFA menjatuhkan hukuman larangan tampil di kompetisi antarklub Eropa kepada klub Inggris selama lima tahun.

Dalam kerusuhan laga Arema FC vs Persebaya Surabaya semalam, juga ada pelanggaran yang terjadi. Keputusan pihak kepolisian menembakkann gas air mata sudah melanggar aturan FIFA. Semua itu tercantum dalam pedoman “FIFA Stadium Safety and Security Regulation”.

Yunus Nusi yakin bahwa AFC dan FIFA tidak akan mengambil keputusan yang merugikan Indonesia.

PSSI bertindak setelah insiden Kanjuruhan yang menewaskan ratusan korban jiwa. Tragedi itu terjadi pada 1 Oktober, selepas laga antara Arema FC dan Persebaya Surabaya, pada pekan 11 Liga 1 2022/23.

Kericuhan terjadi setelah suporter Arema masuk ke dalam lapangan selepas pertandingan. Terjadi keributan antara suporter dan aparat, dan penembakkan gas air mata menjadi puncak dari kejadian nahas ini.

Dengan banyaknya korban jiwa, setidaknya 130 jiwa sesuai laporan Polri, maka Indonesia harus was-was dengan perhatian FIFA dan AFC, yang bisa mencabut status tuan rumah Piala Dunia U-20 2023, hingga sanksi.

Dalam sesi jumpa pers yang digelar PSSI, sekretaris jenderal Yunus Nusi membeberkan, bahwa pihaknya terus berkomunikasi dengan FIFA dan AFC. Menurut Yunus, induk sepakbola dunia itu tak akan mengambil sikap buru-buru.

"Kami selalu sampai dengan hari ini membangun komunikasi dengan FIFA, tentu kami berharap bahwa ini tidak menjadi rujukan bagi FIFA untuk mengambil keputusan yang tidak baik untuk Indonesia dan PSSI," ucap Yunus dikutip dari goal.

"Ini bukan perkelahian antara suporter, bukan permusuhan yang saling bertikai, dan ini korban lebih kepada karena terutupnya sebuah pintu [di area tribune stadion]. Hingga ada berdesak-desakan, terinjak. Sekali lagi, tragedi di Kanjuruhan bukan perkelahian antarsuporter, bukan permusuhan, tapi karena berdesak-desakan," sambungnya.

PSSI sadar betul bahwa insiden ini menjadi perhatian dunia, dan media asing pun terus memberitakan tragedi yang benar-benar mencoreng nama sepakbola Indonesia di mata dunia. (*)

 

 

 

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved