Pertalite Rp 17.200 per Liter tanpa Subsidi, Sandiaga Uno Setuju Impor Minyak Murah Rusia
Harga kekonomian Pertalite Rp 17.200 per liter. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno setuju impor minyak dari Rusia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/240822-Sandiaga-1.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta - Harga kekonomian Pertalite Rp 17.200 per liter. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno setuju impor minyak dari Rusia.
Kata Sandiaga Uno, harga minyak Rusia 30 persen lebih murah dari harga minyak dunia hingga dapat mengatasi ancaman jebol subsisi energi yang mencapai Rp 502,4 triliun.
Lanjut Sandiaga Uno, risiko jika Indonesia diembargo Amerika Serikat paling masyarakat tidak makan McDonalds.
Baca juga: Update Info Wisata: Sandiaga Uno Dorong Event, Bali Jadi Tempat Paling Bahagia di Dunia
Seperti diketahui, harga keekonomian BBM jenis Pertalite seharusnya dibanderol Rp 17.200 per liter jika dijual mengikuti fluktuasi harga minyak dunia. Namun saat ini harga jual Pertalite hanya Rp 7.650 per liter.
Sandiaga Uni mengatakan, tidak takut menghadapi embargo Amerika Serikat, jika Indonesia mengimpor minyak dari Rusia.
Sandiaga Uno menerangkan, perang antara Rusia - Ukraina menguntungkan. Rusia per hari dengan menjual harga minyak 30 persen di bawah harga minyak dunia mengalami keuntungan 5 miliar dolar Amerika Serikat (AS) per hari.
Menurut Sandiaga, Rusia sudah menawarkan ke Indonesia untuk membeli minyak 30 persen lebih murah dari harga internasional.
Hal tersebut, membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) mempertimbangkan untuk membeli minyak dari Rusia.
Baca juga: Punya Elektabilitas Moncer, Sandiaga Uno Jagoan PAN dan Berpeluang Diusung KIB
"Rusia kan sudah nawarin ke kita, minyak kita nih hanya 30 persen lebih murah dari harga pasar internasional.
Kalau buat teman-teman CEO ambil tidak? Ambil. Pak Jokowi mikirnya sama ambil," kata Sandiaga dikutip Senin, (22/8/2022).
Namun, ucap Sandiaga Uno, langka untuk membeli minyak dari Rusia masih dipertimbangkan. Sebab, ada pihak-pihak yang tidak setuju lantaran mempertimbangkan jika Indonesia di embargo oleh AS.
"Ya biarin sajalah kalau kita diembargo paling kita tidak makan McDonalds, makan Baba Rafi lah dan kadang-kadang apa yang kita lihat itu sangat berbeda dari perspektif mungkin geopolitik dari segi makro ekonomi, tapi ini memang tantangan ya karena barat ini kan ya mau bagaimanapun mereka kontrol teknologi payment," tutur Sandiaga Uno.
Menurut Sandiaga Uno, di situasi dan kondisi ekonomi global yang tidak menentu karena pandemi serta adanya perang Rusia-Ukraina saat ini, menuntut untuk bersikap bijak.
"Tegas untuk tidak pro terhadap salah satu negara, namun justru harus pandai mengambil peluang dengan kalkulasi yang matang demi kebangkitan ekonomi, terciptanya 4,4 juta lapangan kerja baru bagi masyarakat hingga tahun 2024," kata Sandiaga Uno.
Baca juga: Menparekraf Sandiaga Uno Pakai Baju Adat Sulteng Pimpin Upacara 17 Agustus di Kepulauan Seribu
Kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) dunia imbas adanya perang tersebut, kata Sandiaga Uno, menciptakan multiplier effect negatif dengan meningkatnya inflasi, yang mengakibatkan naiknya harga-harga bahan pokok yang kita mulai rasakan saat ini.
"Optimis, kita bisa melewati badai ini dengan baik melalui beragam inovasi, adaptasi dan kolaborasi. Serta beragam kebijakan yang tepat sasaran, tepat manfaat dan tepat waktu," tutur Sandiaga Uno.
Subsidi Energi Jebol jika Harga BBM Tak Naik
Kenaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite dan Solar, tampaknya bakal terjadi dalam waktu dekat.
Dimana diketahui, saat ini harga minyak dunia mengalami fluktuasi. Hal tersebut berdampak kepada anggaran subsidi energi, khususnya BBM serta listrik yang meningkat tajam, dan ini berpotensi rawan jebol.
Ditambah lagi, saat ini kuota BBM subsidi jenis Pertalite kian tipis.
Sejumlah pejabat di pemerintahan secara kompak juga memberikan sinyal kuat terkait rapuhnya anggaran belanja negara jika kembali menggelontorkan subsidi untuk sektor energi.
Jajaran pejabat yang dimaksud mulai dari para Menteri hingga Wakil Presiden.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan adanya potensi anggaran subsidi energi jebol, atau lebih dari pagu anggaran yang ditetapkan dalam APBN 2022.
Sri Mulyani mengatakan, pada tahun ini pagu anggaran subsidi energi yang terdiri dari BBM, elpiji, dan listrik mencapai Rp 502,4 triliun.
"Kami melihat dengan volume yang cukup besar, ini (anggaran subsidi energi) bisa mungkin terlewati," ucap Sri Mulyani seperti dilansir Kompas.
Sebagaimana diketahui, belanja subsidi energi mengalami peningkatan signifikan pada tahun ini, seiring dengan melonjaknya harga minyak mentah dunia.
Asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2022 telah diubah menjadi 100 dolar AS per barrel, dari semula hanya 63 dolar AS per barrel.
Tingginya subsidi komoditas energi juga menjadi salah satu alasan utama proyeksi anggaran belanja pada tahun ini membengkak, menjadi Rp 3.169,1 triliun.
Padahal, tanpa adanya lonjakan subsidi energi, target belanja negara sebenarnya hanya mencapai Rp 2.714,1 triliun.
Adapun pada tahun depan, pagu anggaran subsidi energi akan mengalami penurunan, namun masih tetap tinggi yakni sebesar Rp 336,7 triliun.
Pagu ini disiapkan dengan memperhitungkan asumsi ICP yang menurun, menjadi 90 dollar AS per barrel.
Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, di tengah harga minyak dunia yang masih terus berfluktuasi, pemerintah berupaya untuk memastikan ketersediaan BBM subsidi untuk masyarakat.
Namun, konsumsi BBM subsidi mengalami peningkatan signifikan selama beberapa waktu terakhir.
Peralihan penggunaan bahan bakar menuju BBM subsidi semakin marak seiring dengan terus meningkatnya harga BBM.
Oleh karenanya, pemerintah tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk merespons hal tersebut.
Harapannya, anggaran subsidi BBM tidak semakin membengkak di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia.
"Saat ini sedang dikaji banyak opsi secara keseluruhan, nanti kami akan pilih yang terbaik, karena subsidi ini kompensasinya sudah berat sekali, sementara harga minyak masih cukup tinggi," ujar Arifin dalam keterangannya, Jumat (19/8/2022).
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengungkapkan, Pemerintah sedang mempertimbangkan untuk menyesuaikan harga bahan bakar minyak jenis Pertalite.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso mengatakan, harga jual Pertalite yang kini dijual sangat terpaut jauh jika dibandingkan dengan harga keekonomian.
Seperti diketahui, harga keekonomian BBM jenis Pertalite seharusnya dibanderol Rp 17.200 per liter jika dijual mengikuti fluktuasi harga minyak dunia. Namun saat ini harga jual Pertalite hanya Rp7.650.
"APBN kita sudah cukup (sulit kalau kembali menambah subsidi). Mungkin supaya harga jualnya ini agar tidak terlalu tinggi antara harga jual dan harga keekonomian, kita sedang hitung perlu opsi kenaikan harga," ucap Susiwijono di Sarinah Jakarta belum lama ini.
Ia juga mengatakan, untuk memutuskan naiknya harga Pertalite, diperlukan pembahasan serta hitung-hitungan yang sangat detail.
Karena, kenaikan BBM subsidi akan berdampak terhadap inflasi nasional. Sehingga, keputusan ini harus dilakukan secara hati-hati dan penuh pertimbangan.
"Angkanya semua dihitung. Kita semua sedang siapkan angkanya, kita sudah rapat beberapa kali," ucap Susiwijono.
"(Kembali ditegaskan) semua sedang dihitung, kalau naik nanti kontribusi ke inflasinya berapa karena kenaikan harga BBM akan dorong inflasi," pungkasnya.
Wakil Presiden
Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin mengungkapkan, selama ini beban subsidi negara sudah cukup besar.
Dirinya mengungkapkan subsidi BBM bahkan hingga mencapai lebih dari Rp 200 triliun.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ma'ruf, usai menghadiri Haul Akbar ke-23 Tahun Ulama Indonesia Alm. Habib Umar bin Hood Alatas, di Depok, Jawa Barat.
"Itu kan ada beban subsidi negara besar sekali. Subsidi kita itu lebih dari Rp200 triliun. Nah, jadi kalau ada kenaikan-kenaikan lagi, ini memang supaya subsidi ini bisa sustain bisa terus berlanjut," jelas Ma'ruf.
Ia pun juga mengatakan, bahwa wacana kenaikan BBM juga masih dalam tahap pengkajian.
Pemerintah, kata Ma'ruf, masih melakukan pembahasan secara komprehensif terkait penentuan harga BBM.
"Ini yang masih terus dipikirkan, jadi masih dalam penggodokan. Masih dalam pembahasan, apakah akan dinaikkan apa tidak. Tapi bagaimana ini berjalan dengan baik," ujar Ma'ruf.
(*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Soal Impor Minyak dari Rusia, Sandiaga Uno: Biarin Aja Diembargo AS Paling Tidak Makan McD