Jumat, 6 Maret 2026

Mapala Gorontalo Hipotermia

Mapala Belantara Bantah Soal Insiden Hipotermia di Pegunungan Tilongkabila-Gorontalo

Yulin menjelaskan anggotanya yang disebut hipotermia itu, hanya mengalami gejala dingin biasa. Apapun itu kata dia, tidak terlihat hipotermia..

Tayang:
zoom-inlihat foto Mapala Belantara Bantah Soal Insiden Hipotermia di Pegunungan Tilongkabila-Gorontalo
TribunGorontalo.com
Pegunungan Tilongkabila berada di kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Ketinggian puncak pegunungan ini berada di angka 1.500-an MDPL. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Mahasiswa pencinta alam (Mapala) Belantara menyebut gejala yang dialami anggotanya saat mendaki Pegunungan Tilongkabila pada Jumat (24/6/2022) bukanlah hipotermia. 

“Ada satu pengurus yang mengalami kedinginan dan kecapean. Kedinginan belum tentu hipo (hipotermia),” tegas Yulin Talahumala, ketua umum Mapala Belantara Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

Saat ditemui TribunGorontalo.com pada Minggu (26/6/2022) kemarin, Yulin menjelaskan, bahwa memang banyak kendala yang dialami tim saat pendakian.

Terutama karena saat itu cuaca berlangsung buruk, “hujan lebat disertai angin kencang dan kabut yang serasa menutupi jalan yang dilalui,” cerita Yulin. 

Namun dengan lugas ia mengungkapkan, bahwa kelompok yang saat itu sedang dalam pendidikan dasar (diksar) ke-7 itu, sebelumnya sudah melakukan latihan fisik.

Tidak cuma itu, baik panitia maupun peserta diksar, sudah melakukan rangkaian uji kesehatan. 

Juga, sebelum keberangkatan, pihaknya sudah menyiapkan peralatan mendaki.

Artinya, diksar itu kata dia sudah dipersiapkan dengan matang. Tidak turun begitu saja.

Dan tidak cuma Mapala Belantara, saat itu bersama tim ada Mapala BTN UNG dan kelompok pencinta alam (KPA) Li-Bande. 

“Hanya saja salah satu anggota kami (Mapala Belantara) atas nama Dea Ananda Doke memaksakan dirinya ikut pada Diklatsar itu, mengingat ia sering kecapean maka kami tidak mengikutinya hanya saja dirinya memaksakan untuk pergi,” cerita Yulin. 

Dea Nanda Doke adalah anggota Mapala Belantara yang dalam laporan Basarnas Gorontalo mengalami gejala hipotermia di ketinggian 700-an mdpl Pegunungan Tilongkabila. 

Meski belakangan, informasi terkait gejala hipotermia yang dialami Dea ini dibantah oleh Yulin. 

Dea ini sebetulnya kata Yulin, tidak masuk dalam formasi kepanitian diksar. Sebab, seluruh panitia dan anggota diksar, sebelum berangkat memang sudah mempersiapkan fisik yang prima. 

Sedangkan Dea, karena memaksa ikut di hari keberangkatan, Yulin mengaku tak tahu apakah ia sudah melatih fisiknya atau tidak. 

Nahas, Dea Nanda Doke, anggota Mapala Belantara dengan nama rimba Pila Ampullacea ini, justru yang kemudian membuat tim kerepotan. 

“Selama perjalanan dari kaki gunung hingga tiba di pos bayangan, semua peserta dan panitia masih dalam keadaan stabil, hanya saja kedinginan yang dialami Dea terjadi saat perjalanan menuju ke pos satu.” cerita Yulin. 

Namun tanpa berkoordinasi, Dea justru langsung menghubungi Basarnas Pohuwato. Tindakan ini yang disayangkan Yulin.

“Yang mengecewakan, ia (Dea) menelpon dan meminta dievakuasi tanpa sepengetahuan panitia,” tutur Yulin, kesal.

Sebelumnya diketahui, Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi belasan mahasiswa pencinta alam (Mapala) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Sabtu (25/6/2022). 

Belasan Mapala UNG itu tergabung dalam MPA Belantara, sebuah organisasi ekstra di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNG. 

Informasinya, belasan anggota MPA Belantara ini tengah mengikuti pendidikan dasar (Diksar) ke-7 di Pegunungan Tilongkabila. Sialnya, dua di antaranya masing-masing mengalami hipotermia dan asma. 

"Kami diinformasikan oleh tim bahwasanya ada kejadian membahayakan manusia salah satu orang di antaranya mengalami hipotermia di Pegunungan Tilongkabila,” ungkap kepala Basarnas Gorontalo,  I Made Junetra, Sabtu sore (25/6/2022). 

Informasi itu diterima pihaknya pada 24 Juni kemarin pukul 09.00 Wita. beruntung, saat itu memang koordinator tim itu mengabarkan jika kondisi tim baik-baik saja.

Kabar baik itu setidaknya dikabarkan hingga pukul 20.00 Wita. 

“(Namun) pukul 21.00 Wita, tim SAR kembali menerima laporan dari tim pendakian bahwa mereka membutuhkan pertolongan SAR. Pukul 21.20 Wita tim SAR menuju kaki Pegunungan Tilongkabila. Dan langsung melakukan pencarian malam itu juga.” tegas Junetra. 

Proses evakuasi mengalami banyak hambatan, selain medan terjal, dan kondisi tanah yang licin dan berair, tim SAR gabungan yang terdiri dari BASARNAS TNI-Polri, IEA, BPBD, RAPI, dan Mapala, harus membuka jalur sendiri untuk bisa menjangkau para pendaki.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved