Pengeroyokan Siswa Gorontalo
Begini Kondisi Siswa Korban Pengeroyokan di SMAN Telaga Biru
Kata pengacara keluarga, Nasir Talib Djibran, Rafli Sahi mengeluh sakit perut dan muntah-muntah.
Penulis: Redaksi |
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/25062022_Penganiayaan_.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Rafli Sahi, siswa 18 tahun yang jadi korban pengeroyokan teman sekelasnya di SMAN Telaga Biru, kini mengalami trauma.
Tidak cuma secara psikis, tapi secara fisik. Rafli Sahi pada Jumat (24/6/2022) kemarin harus dirawat di rumah sakit (RS).
Kata pengacara keluarga, Nasir Talib Djibran, Rafli Sahi mengeluh sakit perut dan muntah-muntah.
Rafli sesuai informasi dirawat di Rumah Sakit Hasri Ainun Habibie. Kata Nasir, dokter memang menyarankan remaja 18 tahun itu rawat inap.
"Sudah seminggu terakhir dia sering muntah, kemarin ke rumah sakit Hasri Ainun Habibie untuk dilakukan pemeriksaan, namun kondisi RH tidak memungkinan, ia disarankan (dokter) untuk dirawat dulu, " kata Nasir, Jumat (24/6/2022).
Kini pihaknya sedang menunggu laporan pemeriksaan lebih dalam yang dilakukan dokter.
Sebelumnya diketahui, Siswa SMAN 1 Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo yang menjadi korban pengeroyokan teman sekelasnya, memutuskan lapor polisi.
Siswa SMAN 1 Telaga Biru berinisial RH itu, didampingi kuasa hukumnya, Nasir Thalib Djibran mendatangi SPKT Polda Gorontalo pada Sabtu (18/6/2022) kemarin.
Saat dihubungi via telepon pada Senin (20/6/2022) lalu, Nasir menjelaskan, jika pihaknya melaporkan tiga tersangka pengeroyokan siswa SMAN 1 Telaga Biru.
Harapannya, ada perhatian atas kasus ini. Apalagi, pengeroyokan itu sudah memengaruhi kondisi mental korban.
Kondisi mental korban yang belum stabil inilah yang menjadi alasan, pihaknya belum memberikan keterangan banyak untuk berita acara pemeriksaan (BAP) awal.
“Korban mengalami traumatik yang cukup parah, maka untuk BAP awal itu belum dilakukan,” ungkap Nasir.
Jadi kata Nasir, pelaporan itu baru sekadar memberikan kronologi, juga melaporkan jika benar kejadian tersebut dialami korban.
Dari balik telepon genggamnya, Nasir menceritakan kronologi kejadian pengeroyokan yang terjadi pada 7 Juni 2022 itu.
Awalnya, sebelum hari pengeroyokan, korban memang sudah kerap dibuli oleh teman sekelasnya.
Ia dituding mencontek saat pelajaran sekolah. Korban yang mendapat perlakuan bullying itu, tak pernah merespon. Ia diam saja.
Puncaknya baru pada Selasa 7 Juni itu. Ia tiba-tiba dipaksa oleh salah satu pelaku, untuk main panco.
Karena tidak tertarik dengan ajakan itu, korban pun menolak. Namun oleh pelaku terus dipaksa, hingga penolakan itu berbuah penolakan keras dari korban.
“Selalu dipaksa untuk main panco, namun korban ini menolak. Mungkin karena terus-terusan dipaksa dan dibuli, ia pun berdiri dan mendorong pelaku ini,” cerita Nasir.
Itulah awal dari pengeroyokan. Karena para pelaku, tidak senang ajakannya ditolak, apalagi dengan reaksi keras dari korban.
Pengeroyokan sempat terekam dalam sebuah video yang viral di media sosial facebook.
Belakangan video pengeroyokan itu lantas dihapus oleh pemiliknya.
Namun, dari video berdurasi belasan menit itu, TribunGorontalo.com melihat jika dari tiga pelaku, satu di antaranya paling dominan memukul korban.
Tendangan dan pukulan ke wajah melayang. Korban pun menangkis pukulan-pukulan itu dengan tenaga seadanya.
Tiga orang terlihat mengeroyok siswa kelas 1 usia 18 tahun tersebut. (*)