Capres 2024
Kecil Peluang Duet Prabowo-Anies Maju Pilpres 2024
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh mengadakan pertemuan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/030622-Prabowo-Anies.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta - Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh mengadakan pertemuan, Rabu (1/6/2022).
Bertempat di Kantor DPP Nasdem, Jakarta, keduanya disebut terlibat dalam diskusi hangat selama 4,5 jam.
Pada awak media, Paloh menyatakan pertemuan itu bukan hanya pertemuan dua pimpinan partai politik (parpol) tapi juga dua sahabat lama.
“Pertemuan kami tadi lebih banyak membicarakan hal-hal romantisme, semangat persahabatan yang cukup terjaga dalam kurun waktu yang cukup lama puluhan tahun,” ungkapnya.
Namun sejumlah pihak menilai pertemuan itu menunjukan adanya sinyal politik yang cukup kuat.
Setidaknya, kedua parpol saling menjajaki dan mencari kecocokan, salah satunya, untuk menghadapi kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Firman Noor menilai jika dua parpol itu sepakat, koalisinya bakal punya kekuatan yang signifikan.
Apalagi, lanjut Firman, Partai Nasdem tampak hendak mencalonkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai kandidat calon presiden (capres).
Sedangkan Partai Gerindra tetap mengusung Prabowo Subianto kembali menjajal perburuan RI-1. Firman menyatakan, berdasarkan jajak pendapat berbagai lembaga survei, dua tokoh tersebut memiliki elektabilitas tertinggi.
Lantas mungkinkah Nasdem dan Gerindra bakal maju bersama dan mengusung Prabowo-Anies untuk menghadapi Pilpres 2024? Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh (kiri) bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) memberikan keterangan pers usai menggelar pertemuan di DPP Partai Nasdem, Jakarta, Rabu (1/6/2022).
Pertemuan yang berlangsung hampir lima jam tersebut salah satunya membahas mengenai kemajuan bangsa dan negara.
Kecil kemungkinan Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) Ahmad Choirul Umam tak yakin koalisi Nasdem dan Gerindra bakal terbentuk.
Sebab, Prabowo dan Paloh mempunyai pendekatan politik yang berbeda. Pada Pilpres 2019, Paloh mengingatkan bahaya eksploitasi politik identitas.
Pun, ia menjadi salah satu pula yang keberatan ketika Prabowo hendak bergabung dengan periode 2 pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Selain itu, sambung Umam, Paloh sejak awal menunjukan keinginan untuk menjadi king maker. Maka, ia tak mau langkahnya dikunci oleh pihak-pihak tertentu yang ingin mencapreskan diri masing-masing.
“Dalam konteks pertemuan Paloh-Prabowo, saya juga berkeyakinan Paloh menolak dikunci langkahnya demi pencapresan Prabowo,” katanya.
Belum ada yang mau mengalah Dalam pandangan Firman Noor, tanda-tanda bakal munculnya duet Prabowo-Anies masih belum nampak hingga kini.
Pasalnya, kedua tokoh masih bersikeras mempromosikan diri sebagai capres. Belum kelihatan tokoh yang mau menjadi calon wakil presiden (cawapres).
“Sampai hari ini saya lihat tiga besar (elektabilitas) (Prabowo-Ganjar-Anies) masih merasa cukup percaya diri ingin memajukan dirinya dulu (sebagai kandidat capres).
Sampai limitnya dulu,” sebut Firman. Ia pun menduga langkah-langkah politik Anies tak dimaksudkan untuk menjadi cawapres.
“Kalau kita lihat gestur Anies enggak mungkin gestur cawapres. Saya juga melihat relawannya, itu bukan (tipe) relawan untuk cawapres,” paparnya.
Tak harus dirinya Prabowo menjelaskan ada bermacam-macam kriteria capres, seperti berstatus Warga Negara Indonesia (WNI), sehat jasmani dan rohani serta setia pada NKRI.
“Sosok yang sungguh-sungguh komit dan setia pada Pancasila, UUD 1945 seutuhnya. Tidak sebagai mantra, tapi seutuhnya. Saya kira itu kriteria yang paling penting,” ucap dia. “Kalau bisa yang berpengalaman,” sambungnya.
Meski begitu, Prabowo juga menegaskan bahwa kandidat capres itu tak harus dirinya. Tapi bisa juga tokoh-tokoh lain yang memang memenuhi kriteria tersebut. “Ya enggak harus Prabowo, siapa saja,” imbuhnya.
Ketidakpastian Koalisi Gerindra dengan PDI-P
Gerindra mulai memanaskan mesin politiknya. Ini tampak dari gencarnya Prabowo Subianto, ketua umum partai tersebut, berkunjung ke sejumlah tokoh.
Sebutlah Presiden Joko Widodo, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Para tokoh ini mendapat kunjungan Prabowo saat Lebaran lalu.
Prabowo juga sempat mendatangi sejumlah tokoh religi, seperti pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jawa Timur, Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, juga pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Rembang Jawa Tengah, dan Muhammad Najih Maimoen atau Gus Najih.
Terbaru, Rabu (1/6/2022), Prabowo bersua dengan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh di kantor DPP Nasdem di Jakarta.
Kunjungan-kunjungan itu dinilai sarat nuansa politik. Apalagi, Gerindra tak menampik bahwa partainya akan mengusung Menteri Pertahanan tersebut sebagai calon presiden.
Sementara itu, untuk dapat maju di panggung Pemilu Presiden (Pilpres) 2024, partai kepala garuda itu harus berkoalisi dengan parpol lainnya demi memenuhi ambang batas pencalonan presiden.
Sempat muncul wacana duet Prabowo dengan Ketua DPP PDI-P Puan Maharani. Namun, hingga kini, ihwal tersebut masih jadi angin lalu. Gencarnya safari Prabowo pun dinilai sebagai upayanya mengamankan kursi untuk 2024.
Deklarasi capres Gerindra telah memastikan bahwa Prabowo bakal diusung partainya untuk maju di Pilpres 2024.
Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengatakan, partainya akan mendeklarasikan pencalonan Prabowo sebagai presiden pada waktu yang tepat.
"Pada saatnya nanti kita akan umumkan waktu yang tepat untuk mendeklarasikan Prabowo presiden," kata Dasco di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, Sabtu (21/5/2022), dikutip dari keterangan video.
Dasco mengatakan, hingga kini Gerindra masih melakukan konsolidasi di akar rumput sekaligus menerima dukungan-dukungan dari masyarakat melalui pimpinan anak cabang.
Sementara, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Desmond Junaidi Mahesa menyatakan, hingga kini sosok yang sudah jelas diusung sebagai capres hanya Prabowo.
Ia belum melihat sosok dari partai politik lain yang dipastikan bakal maju di Pilpres 2024, sekalipun Puan Maharani.
"Hari ini siapa presiden yang pasti? Kan cuma Pak Prabowo. Puan (Puan Maharani) pun belum kan," kata Desmond di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (30/5/2022).
Tokoh-tokoh lain yang kerap digadang-gadang menjadi capres seperti Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo, kata Desmond, juga belum jelas akan diusung oleh partai mana.
"Anies? Partai pendukungnya siapa? Enggak jelas. Ganjar juga belum jelas. Seolah-olah Pak Prabowo ada lawan, ya belum ada lawannya. Belum ada yang konkret gitu kan," tegas Wakil Ketua Komisi III DPR itu.
Wacana Prabowo-Puan Sempat muncul wacana Gerindra "berbesan" dengan PDI-P dan mengusung duet Prabowo-Puan Maharani.
Terkait hal itu, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Habiburokhman sempat mengakui bahwa partainya menjalin komunikasi yang baik dengan partai pimpinan Megawati itu.
“Saya pikir komunikasi kami dengan PDI Perjuangan bagus. Nantilah kita lihat perkembangannya,” kata Habiburokhman saat ditemui di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (17/5/2022).
Lebih jauh, Gerindra mengaku belum akan mendeklarasikan koalisi untuk menyambut Pemilu 2024 dalam waktu dekat.
Di sisi lain, lanjut Habiburokhman, pihaknya membuka banyak kemungkinan untuk bekerja sama dengan partai politik lain.
Dia mengatakan, dalam politik ada upaya saling ajak antara satu parpol dengan yang lain. Namun, butuh waktu mempertimbangkan koalisi partai.
“Di politik itu kan kurang lebih sama kayak orang pacaran, bisa sampai di pernikahan bagus, kalau tidak, ya hubungan kami akan tetap baik,” katanya.
Sementara itu, ketika ditanya isu yang sama, Dasco sempat menyampaikan bahwa partainya masih menghimpun masukan dari berbagai pihak mengenai sosok yang akan menjadi calon wakil presiden (cawapres) mendampingi Prabowo.
"Masukan-masukan berdasarkan situasi di lapangan siapa yang akan menjadi calon dari pendamping sebagai wakil presiden dari Pak Prabowo ini, kita juga masih himpun dan kita masih tunggu," kata Dasco di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (9/5/2022).
Dasco menuturkan, masukan mengenai cawapres Prabowo akan dihimpun dari akar rumput di Partai Gerindra, pengurus daerah, ataupun anggota Dewan Pembina Partai Gerindra.
Ia melanjutkan, Gerindra masih fokus berkonsolidasi meski banyak aspirasi dari daerah yang ingin Prabowo menjadi calon presiden.
PDI-P sendiri belum banyak bicara atas wacana ini. Saat Prabowo mengunjungi Megawati pada Lebaran lalu, PDI-P menyebutkan, tak ada pembahasan ihwal rencana duet Prabowo dan Puan untuk Pemilu 2024.
"(Pembicaraan rencana duet) tidak ada. Ndak ada," ujar Ketua DPP PDI-P Eriko Sotarduga, Senin (2/5/2022). Eriko mengeklaim, pertemuan itu lebih banyak membahas hal-hal kekeluargaan yang ringan. Di luar itu, dia mengaku tak tahu-menahu pembahasan yang terjadi.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto menyatakan, partainya akan mendahulukan kerja sama dengan partai politik pendukung pemerintahan Jokowi ketimbang menjajaki koalisi untuk Pilpres 2024.
"Mari dahulukan buru prestasi buat rakyat bersama Presiden Jokowi, nanti ada momentum yang tepat bagi kita untuk merancang kerja sama di dalam rangka Pilpres 2024," kata Hasto saat ditemui di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (28/5/2022).
Hasto berpendapat, masih ada cukup waktu untuk membahas koalisi karena batas waktu pencalonan presiden baru September tahun depan.
"Jadi jangan bawa energi kontestasi terlalu dini yang kemudian menguras energi kita, kontestasi harus dibawa ke bawah, mari ramai-ramai membuat prestasi untuk rakyat," ujarnya.
Kendati demikian, Hasto mengatakan, kelak ketika perihal capres cawapres PDI-P dibahas, Megawati akan berdiskusi dengan banyak pihak, tak terkecuali Presiden Jokowi.
"Pak Jokowi sebagai kader PDI-P ya tentu saja secara periodik bertemu dengan Bu Mega," kata dia.
Belum aman Safari Prabowo dari satu tokoh ke tokoh lain dinilai kental akan nuansa politik.
Direktur Lembaga Kajian Politik Nusakom Pratama Ari Junaedi menilai, langkah Prabowo ini tak lepas dari kekhawatirannya menuju Pilpres 2024.
Prabowo merasa belum aman lantaran PDI-P tak kunjung memberikan kejelasan soal wacana duet dirinya dengan Puan Maharani.
"Gerindra dan Prabowo merasa belum aman mengingat sinyal koalisi dari PDI-P belum juga tampak," kata Ari kepada Kompas.com, Kamis (2/6/2022). Oleh karenanya, untuk menimbang kemungkinan terbukanya koalisi, Prabowo giat bersafari ke berbagai tokoh.
Langkah ini dinilai sebagai upaya ketua umum Partai Gerindra itu membuka "pintu-pintu" koalisi.
"Safari politik Menteri Pertahanan di Kabinet Kerja Jokowi-Amin ini juga mendatangi tokoh-tokoh di kalangan pondok pesantren dan elite-elite politik lain. Bisa dimaknai ini adalah cara Prabowo yang ingin membuka 'pintu-pintu' koalisi," kata Ari.
Di sisi lain, PDI-P dinilai mesti segera membuka diri pada parpol lainnya guna mempersiapkan diri menuju Pemilu 2024.
Menurut Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Firman Noor, pertemuan Prabowo dengan Surya Paloh menunjukkan sinyal terbentuknya koalisi yang sangat mungkin menjadi saingan berat untuk PDI-P di pilpres mendatang.
“Jadi ini sebetulnya masuk hitungan warning (peringatan) kalau sampai akhir tahun tidak ada gerakan berarti (dari PDI Perjuangan) ya susah (bersaing),” tutur Firman kepada Kompas.com, Kamis (2/6/2022). Menurut Firman, PDI-P harus segera membangun komunikasi politik dengan parpol lain.
Sebab, berbagai pertemuan antarelite parpol lain tak menyiratkan keinginan mereka untuk mendukung Puan Maharani sebagai capres.
“Karena sudah banyak kubu-kubu yang dibangun dan tidak semua mengarahkan dukungan pada Puan,” kata Firman. "Jadi PDI Perjuangan harus segera bergerak kalau enggak mereka akan ketinggalan kereta,” lanjutnya. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mungkinkah Duet Prabowo-Anies Bakal Terjadi dalam Kontestasi Pilpres 2024?"