Fenomena La Nina Menguat, BMKG: Waspadai Dampaknya

Ada indikasi fenomena La Nina yang kembali menguat akhir-akhir ini. Demikian analisis terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Editor: lodie tombeg
Tribun Jogja
Ilustrasi angin kencang 

TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta - Ada indikasi fenomena La Nina yang kembali menguat akhir-akhir ini. Demikian analisis terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

"Betul bahwa ada indikasi La Nina kembali menguat ke intensitas sedang, kami masih terus melakukan updating hasil monitoring per 10 harian," kata Supari, Koordinator Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG kepada Kompas.com, Senin (30/5/2022).

La Nina adalah fenomena alam yang menyebabkan udara terasa lebih dingin atau mengalami curah hujan yang lebih tinggi.

Fenomena La Nina terjadi ketika suhu muka laut (SML) di Samudra Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan hingga di bawah suhu normal. Pendinginan ini berpotensi mengurangi pertumbuhan awan di Samudra Pasifik tengah.

Selain itu, angin pasat (trade winds) berembus lebih kuat dari biasanya di sepanjang Samudra Pasifik dari Amerika Selatan ke Indonesia. Hal ini menyebabkan massa air hangat terbawa ke arah Pasifik Barat.

Karena massa air hangat berpindah tempat, air yang lebih dingin di bawah laut Pasifik akan naik ke permukaan untuk mengganti massa air hangat yang berpindah tadi. Hal ini disebut upwelling dan membuat SML turun.

Dengan demikian, La Nina menjadi salah satu faktor yang menyebabkan musim hujan di Indonesia terjadi, selain angin muson.

Pada Januari-Februari hasil pantauan indeks BMKG menunjukkan bahwa La Nina sudah berkurang intensitasnya menuju intensitas lemah (indeks sekitar -0.9 hingga -0.8).

Lalu pada bulan Maret-April, indeks La Nina menguat kembali dan indeks berkisar -1.1 (intensitas sedang).

"Betul bahwa sejak april hingga mei ini justru indeks ENSO menunjukkan bhw terjadi penguatan intensitas La Nina," ujarnya.

Supari menyebutkan, fenomena La Nina yang menguat menjelang periode pergantian musim hujan ke musim kemarau tahun ini menjadi tahun ketiga berturut-turut, yang disebut pula dengan La Nina berantai.

Dampak La Nina terhadap Indonesia Pasokan aliran massa udara dari Samudra Pasifik menuju ke wilayah Kepulauan Indonesia, mengakibatkan terjadinya peningkatan curah hujan, karena akan meningkatkan pembentukan awan-awan hujan dengan tambahan massa udara basah.

Di mana akhirnya penambahan pembentukan awan-awan hujan dan massa udara basah tersebut akan meningkatkan pula curah hujan.

La Nina ini umumnya akan berdampak pada curah hujan tinggi dan berisiko meningkatkan peluang terjadinya ancaman bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah rawan.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved