Angka Stunting di Kota Gorontalo Terus Ditekan, Ini Angkanya

Saat memimpin apel siaga Tim Pelaksana Kegiatan )TPK penurunan stunting Kota Gorontalo, Kamis, (12/05/2022), Ryan akan membentuk 147 TPK.

TribunGorontalo.com
Ilustrasi stunting. 

TRIBUNGORONTALO.com – Gorontalo – Ryan F Kono, Wakil Wali Kota Gorontalo akan terus berupaya menurunkan angka stunting di wilayah tersebut. 

Saat memimpin apel siaga Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) penurunan stunting Kota Gorontalo, Kamis, (12/05/2022), Ryan mengungkapkan akan membentuk 147 TPK.

Ratusan TPK itu terdiri dari  441 personil. Mereka nantinya akan mendampingi keluarga berisiko. Tujuannya untuk penurunan stunting.

“Jadi sasaran yakni calon pengantin (catin), pasangan usia subur (PUS), ibu hamil dan menyusui sampai dengan pasca salin dan anak 0-59 bulan,” kata Ryan.

Selain melakukan langkah-langkah tersebut, pihaknya juga akan kolaborasi dengan pemerintah provinsi dan juga instansi yang berkaitan.

“Operasional kesehatan, seperti tenaga Bidan, Kader tim PKK, serta Kader Keluarga Berencana, untuk sama-sama lakukan pendampingan untuk penurunan stunting.” tegas Ryan. 

Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) memaparkan, angka stunting di Provinsi Gorontalo pada tahun 2021 sebesar 29 persen. Sebelumnya, angka ini pada 2019 tercatat di 34,89 persen atau turun sekitar 5,9 persen pada 2021. 

Kabupaten Pohuwato menjadi daerah dengan angka prevalensi stunting tertinggi, mencapai 34,6 persen. Disusul oleh Kabupaten Boalemo dengan angka 29,8 persen, Gorontalo Utara 29,5 persen, Kabupaten Gorontalo 28,3 persen.

Sementera Kota Gorontalo 26,5 persen. Angka prevalensi stunting terendah dicapai oleh Kabupaten Bone Bolango sebesar 25,1 persen. 

Dikutip dari web resmi Kemendikbud, dijelaskan stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi di seribu hari pertama kehidupan anak. Kondisi ini berefek jangka panjang hingga anak dewasa dan lanjut usia.

Kekurangan gizi sejak dalam kandungan mengakibatkan pertumbuhan otak dan organ lain terganggu, yang mengakibatkan anak lebih berisiko terkena diabetes, hipertensi, dan gangguan jantung.

"Pertumbuhan otak yang tak maksimal juga menyulitkan anak bertanggung jawab atas hidupnya sendiri kelak," mengutip dari web tersebut. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved