Sabtu, 2 Mei 2026

Ini Alasan Kamu Jangan Sampai Terjebak dalam Pay Later di Aplikasi Online

Paylater adalah salah satu layanan untuk masyarakat yang menginginkan barang namun tak punya dana tunai.

Tayang:
zoom-inlihat foto Ini Alasan Kamu Jangan Sampai Terjebak dalam Pay Later di Aplikasi Online
TribunGorontalo.com
Ilustrasi pay later. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Meski keberadaanya memudahkan masyarakat dalam mendapatkan barang impiannya, namun terlalu mengandalkan Pay Later rupanya dinilai tidak baik untuk finansial. Hal itu seperti yang dibagikan akun @lilaccountz dalam thread twitternya.

Pay later adalah salah satu layanan untuk masyarakat yang menginginkan barang namun tak punya dana. Salah satu aplikasi belanja online di Indonesia membuka layanan ini dan cukup populer. Seperti namanya, paylater artinya bayar nanti. Atau dalam istilah sehari-hari adalah hutang.

Karena itu,  @lilaccountz yang dalam bionya menuliskan sebagai mahasiswa itu, memaparkan sejumlah alasan masyarakat harus menjauhkan diri dari Pay Later

“Jangan pernah nyoba pakai paylater, apapun itu bentuknya. Repeat. Jangan pernah nyoba pakai pake palylater. Suatu saat tar nyesel,” tulis dalam media sosial berlogo burung tersebut. 

Menurut dia, jika ingin membeli sesuatu, sebaiknya menabung saja dulu hingga dananya terkumpul dan mampu membeli cash. “Gak bakal mati kan kalau gak beli itu? Selama masih bisa makan dan kebutuhan primer lainnya masih terpenuhi, ditahan dulu ajah sampe tabungan cukup,” saran dia. 

Pakai layanan pay later artinya kita berani berhutang pada aplikasi. Namun, tidak ada yang bisa menjamin apakah ke depan bisa membayar hutang tersebut atau tidak. 

“Soalnya sekali ngutang tuh bikin candu, susah lepas. Oke klo kita ekonominya lg bagus, gaji ada, jadi bisa bayar. Kalo lagi jatuh? Tiba-tiba di-PHK dll? Daripada risiko, mending hindari (pay later),” tegasnya. 

Ia pun memberikan tips yang bisa dipraktekan setiap ingin sesuatu. Pertama, sabar untuk tidak segera memiliki barang itu dalam satu minggu ataupun satu bulan. 

“Kalo masih kepikiran dan emg masih dibutuhkan, baru gue beli,” kata dia. 

Kedua, lihat kondisi keuangan. Jika uang yang ada sudah mampu membeli barang itu hingga tiga item atau tiga pcs, maka belilah.

“Contoh gue mau beli hp merk A. Uang gue cukup ga beli 3 hp merk yg sama itu? Kalo cukup beli 3 hp A, maka gue mampu beli. Kalo engga cukup, gue ga beli. Alias gue nabung dulu lagi,” ungkapnya. 

“Uang yang gw pegang itu maksudnya yang ada di gw sekarang ya. Kalo ada yang punya utang ke gw, gw belom anggep uangnya udah di gw pegang, karena emang uangnya masih di orang lain,” tambah dia. 

Ia pun menegaskan, jika twit yang ia buat itu hanyalah ajakan semata. Ia sama sekali tidak memaksakan apa yang ia pikirkan untuk juga diterapkan oleh orang lain. 

“Mau ikut alhamdulillah, mau engga juga monggo. Cuma gamau aja klo ada yg terjebak hutang sampai depresi bahkan bundir kayak kasus yg sudah-sudah krn berawal dari menggampangkan hutang,” kata dia. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved