Kemendagri Halalbihalal Lebaran Idulfitri di Metaverse

Memanfaatkan teknologi. Direktorat Jenderal (Ditjen) Otonomi Daerah (Otda) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Editor: Lodie Tombeg
Kompas.com
Ilustrasi Metaverse 

TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta - Memanfaatkan teknologi. Direktorat Jenderal (Ditjen) Otonomi Daerah (Otda) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menggelar halalbihalal Idul Fitri 1443 Hijriyah di metaverse melalui platform spatial.io, Rabu (4/5/2022).

Kegiatan ini diharapkan mampu mendorong penggunaan metaverse dalam kegiatan pemerintahan, baik di lingkungan Kemendagri maupun pemerintah daerah (pemda).

Dilansir dari siaran pers Kemendagri, Jumat (6/5/2022), Direktur Jenderal Otda Kemendagri Akmal Malik mengatakan, melalui pemanfaatan teknologi metaverse, pelaksanaan halalbihalal dapat lebih efisien baik dari segi waktu maupun tempat.

Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pejabat dan jajaran Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Ditjen Otda yang turut bergabung dalam kegiatan tersebut, meski tengah menjalani cuti Lebaran dan mudik ke berbagai daerah. 

“Momen Lebaran kali ini, Ditjen Otda tetap mengedepankan efisiensi dan pengendalian kontak langsung antar pegawai serta menjalankan prokes (protokol kesehatan) ketat dalam berinteraksi,” ujar Akmal.

Dia melanjutkan, penggunaan teknologi ini sebagai salah satu bentuk respons terhadap Surat Edaran (SE) Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Nomor B/123/M.KT.02/2022 yang melarang pejabat menggelar open house Lebaran.

Aturan tersebut sebagai bentuk kewaspadaan terhadap potensi ancaman penularan Covid-19, meski saat ini kasus di Indonesia cenderung melandai.

Karena itu, penggunaan metaverse menjadi solusi pelaksanaan halalbihalal di tengah larangan tersebut.

“Ditjen Otda terus melakukan inovasi dan mengambil kebijakan yang sejalan dengan revolusi industri 4.0, mendorong efisiensi, memberikan berbagai layanan dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan," jelas Akmal.

"Dan khususnya dalam Idul Fitri 1443 Hijriyah keluarga besar Ditjen Otda dapat menjalin silaturahmi dengan nuansa baru, yakni bersilaturahmi melalui metaverse dengan avatarnya masing-masing,” lanjutnya.

Selain bersilaturahmi, Ditjen Otda Kemendagri juga mengundang penceramah kondang Ustaz Das'ad Latif untuk memberikan tausiah.

Ustaz Das'ad mengaku, kegiatan tersebut merupakan pengalaman perdana bertausiah dengan menggunakan avatar dirinya, yang dinilainya sangat menarik.

“Pertama kalinya saya bertausiah di hadapan jemaah melalui metaverse, terlihat avatar diri saya dan para jemaah dalam ruangan metaverse yang disediakan,” tutur Ustaz Da’sad.

Dalam ceramahnya, Ustaz Das'ad Latief mengingatkan pentingnya menjalin sekaligus menjaga silaturahmi dalam berbangsa dan bernegara.

Dirinya juga mengajak para jajaran Ditjen Otda dapat mensucikan hati dan jiwa dengan saling bermaaf-maafan di momen Lebaran.

Menurutnya, di tengah kemajuan teknologi informasi silaturahmi dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun.

Jangan Terlambat Menyambut Metaverse

Metaverse adalah masa depan, ia akan menjadi ruang hidup kedua, dari ruang hidup yang ada saat ini. Kita bisa berpindah dari ruang hidup yang satu ke ruang hidup yang lain dengan mudah, tinggal mengenakan perangkat berbentuk kacamata besar bermuatan teknologi VR (virtual reality - realitas maya) dan augmented reality (realitas bertambah).

Setelah masuk ke dunia maya, kita berubah penampilan menjadi avatar, dan melakukan banyak hal, seperti bekerja, berdiskusi, bermain, menonton konser, dan lain-lain.

Semua dilakukan sambil berdiri, duduk, berjalan, atau rebahan di dunia nyata. Kita bisa membeli lahan di tengah kota atau di pinggir danau, dan menyewakannya kepada avatar lain yang berminat.

Semua difasilitasi oleh pengelola platform metaverse, yang semakin banyak didirikan oleh perusahaan raksasa seperti Facebook, Microsoft, dan Walt Disney.

Penyelenggara metaverse menginvestasikan modal untuk membangun dunia maya, agar pengunjung bisa immersed/‘nyemplung’ ke dalamnya, dan beraktivitas dengan membeli, menyewa, atau membayar karcis.

Kreativitas digenjot untuk mendatangkan keuntungan. Yang sebelumnya terjadi di dunia nyata, sekarang juga dapat terjadi di dunia maya.

Sebagai ilustrasi, di suatu dunia maya kita bisa mencoba baju-baju yang dipajang di butik maya sepuasnya, lalu membelinya untuk dipakai di suatu acara, sebutlah resepsi pernikahan sahabat kita.

Akad nikah dan upacara adat hingga pemberian ucapan selamat kepada kedua mempelai dilakukan mirip dengan yang terjadi di dunia nyata.

Pulang kondangan dan kembali ke dunia nyata kita merasa senang telah menghadiri hajatan kenalan atau famili.

Dalam metaverse, orang tidak hanya bisa menggunakan akal, namun juga bisa merasakan emosi, seperti gembira, takut, sedih, terharu, dan sebagainya.

Belum lama ini terdengar kisah seorang perempuan yang masuk ke dunia maya lalu ketika sedang berjalan-jalan santai tiba-tiba didatangi beberapa laki-laki yang akan berbuat cabul kepadanya.

Perempuan itu shock dan melaporkan kejadian di dunia maya kepada penyelenggara metaverse yang bersangkutan.

Karena akal dan emosi bisa berfungsi di alam maya, maka metaverse dapat menjadi media untuk menambah pengetahuan, melatih keterampilan, mengembangkan kepribadian, dsb.

Beberapa perguruan tinggi di sini sudah mulai menyusun program untuk mengajarkan ilmu-ilmu kepada mahasiswa dengan konsep metaverse.

Akan semakin banyak bidang-bidang ilmu yang diajarkan dengan konsep metaverse, dan untuk berbagai tingkatan pendidikan. Dunia kedokteran sangat terbantu dengan metaverse.

Organ-organ tubuh manusia dapat diperlihatkan dan disentuh sehingga jelas cara bekerjanya melalui gambar-gambar tiga dimensi beresolusi tinggi dengan latar belakang suara yang bening.

Menunjukkan efek simpul syaraf di bagian tengah otak yang mengalami gangguan dapat disimulasi sehingga dapat diketahui cara terbaik untuk menanganinya tanpa rIsiko besar.

Dunia pariwisata juga diuntungkan dengan metaverse. Orang bisa berkunjung ke candi Borobudur dengan membayar tanda masuk secara virtual untuk mengamati relief dengan detail, dengan penjelasan dari pemandu yang paham banyak bahasa.

Orang juga bisa menghadiri upacara keagamaan di suatu tempat ibadah virtual, lalu mendengarkan ceramah dari pemuka agama favoritnya, bertukar sapa dengan sesama jamaah, dan kemudian kembali ke dunia nyata dengan hati yang lebih damai.

Metaverse dikembangkan untuk keperluan bisnis, namun juga dimanfaatkan oleh lembaga non-bisnis seperti pemerintahan.

Pemerintah Kota Metropolitan Seoul mencanangkan akan menyelesaikan pembangunan kota virtual dalam pada tahun 2025/2026.

Di Metaverse Seoul, pengunjung dapat mengurus berbagai keperluan yang terkait dengan pelayanan pemerintahan, seperti keterangan kependudukan, perizinan usaha, mendapatkan informasi mengenai pendidikan dan pelayanan kesehatan, menanyakan kebijakan pemerintah kota, atau melihat rencana tata ruang kota, dsb.

Warga cukup memasang kacamata VR, lalu pergi ke kantor wali kota maya untuk mengurus keperluannya. Semua serba terprogram, sehingga cepat dan efisien, dan cukup dilakukan di rumah.

Penerapan konsep metaverse secara massal seperti telepon pintar saat ini masih menghadapi berbagai kendala.

Salah satunya adalah harga kacamata VR yang masih tinggi bagi kebanyakan orang, di samping jumlahnya yang terbatas di pasaran.

Maka riset untuk membuat perangkat lunak dan keras dari teknologi metaverse perlu dilakukan. Indonesia perlu bersiap diri untuk menguasai teknologi pendukung metaverse.

SDM ahli metaverse perlu diperbanyak sejak sekarang. Kerjasama antarperguruan tinggi terkemuka dalam bidang IT perlu dibangun.

Pemerintah melalui kementerian/lembaga dan BUMN terkait perlu merintis pengembangan metaverse yang berkarakter nasional.

Simulasi penerapan metaverse dalam birokrasi perlu sering dilakukan. Keinginan kepala pemerintah nasional hingga daerah untuk bertemu dan berdialog dengan rakyat perlu diakomodasi dalam teknologi metaverse.

Secara internasional perlu ada upaya untuk mengatur cara orang berinteraksi di metaverse.

Karena berbagai bentuk kejahatan dapat terjadi di dunia maya, maka perlu ada peraturan untuk mencegah dan menghukum pelaku.

Dengan demikian orang akan senang untuk ‘menyemplung’ ke dunia maya dan melakukan aktivitas positif. Metaverse akan menjadi bagian dari hidup kita. Kita perlu menyambutnya dengan belajar dan bereksperimen. Tidak harus tergesa-gesa memassalkan metaverse.

Namun sebagian anak bangsa perlu menguasai teknologi metaverse. Kita tidak ingin menjadi penonton. Kita ingin menjadi pelaku yang diakui dunia. Jangan sampai kita terlambat untuk memulainya. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Halalbihalal Lebaran di Metaverse, Solusi Kemendagri di Tengah Larangan"

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved