Rabu, 18 Maret 2026

Cerita WNI Hidup di Finlandia Negara Paling Bahagia Sedunia

Finlandia menjadi negara paling bahagia di dunia pada 2022 menurut World Happiness Report. Penghargaan ini untuk tahun kelima berturut-turut.

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Cerita WNI Hidup di Finlandia Negara Paling Bahagia Sedunia
Kompas.com
Aktivitas di sebuah kota di Finlandia. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Finlandia menjadi negara paling bahagia di dunia pada 2022 menurut World Happiness Report. Penghargaan ini untuk tahun kelima berturut-turut.

Penilaian dari World Happiness Report tersebut didasarkan pada evaluasi dari Gallup World Poll, sebagaimana dilansir CNN.

Ukuran yang digunakan laporan tersebut adalah harapan hidup sehat, PDB per kapita, dukungan sosial di saat sulit, rendahnya korupsi, kepercayaan sosial yang tinggi, dan kedermawanan dalam komunitas.

Setelah Finlandia, keempat negara paling bahagia di dunia berturut-turut adalah Denmark, Islandia, Swiss, dan Belanda, sebagaimana dilansir CNN, Jumat (18/3/2022).

Setelah itu, ada Luksemburg, Swedia, Norwegia, Israel, pada peringkat keenam, ketujuh, kedelapan, dan kesembilan sebagai negara paling bahagia di dunia. Sedangkan Indonia berada pada peringkat ke-87 dalam daftar negara paling bahagia di dunia dari 146 negara.

Di posisi paling buncit, alias peringat ke-146 daftar negara paling bahagia di dunia, adalah Afghanistan.

Sustainable Development Solutions Network PBB melakukan survei secara global dari orang-orang di sekitar 150 negara. Menandai ulang tahun ke-10, laporan tersebut melihat kebahagiaan di seluruh dunia. Dan dengan dua tahun pandemi Covid-19, laporan itu menemukan sesuatu yang tidak terduga. 

"Kejutan besar adalah bahwa secara global, telah terjadi peningkatan yang sangat besar dalam ketiga bentuk kebajikan yang ditanyakan dalam Gallup World Poll," kata John Helliwell, salah satu dari tiga editor laporan tersebut, mengatakan kepada CNN.

Ketiga kebajikan tersebut adalah menyumbang untuk amal, membantu orang asing, dan menjadi sukarelawan. Helliwell mengatakan, kebajikan-kebajikan tersebut terjadi dengan skala yang besar di semua wilayah di dunia.

WNI di Finlandia Bercerita

Finlandia kembali dinobatkan sebagai negara paling bahagia sedunia, dan mereka sudah menyabet predikat itu selama empat tahun beruntun.

Negara yang beribu kota di Helsinki ini meraihnya dalam laporan tahunan World Happiness Report, yang disponsori PBB dan dirilis pada Jumat (19/3/2021).

Dalam menyusun laporan ini, para peneliti mempertimbangkan indikator seperti Produk Domestik Bruto (PDB), dukungan sosial, kebebasan pribadi, kesetaraan jender, hidup anak-anak, dan tingkat korupsi setiap negara. 

Selain itu, penelitian dengan metode analisis Gallup ini juga meminta orang-orang di 149 negara untuk menilai kebahagiaan mereka sendiri.

Indikator-indikator tersebut dirata-rata selama tiga tahun terakhir mulai 2018 hingga 2020. Hasilnya, ditemukan bahwa Finlandia negara paling bahagia di dunia, diikuti Denmark, Swiss, Islandia, dan Belanda.

The Legatum Prosperity Index 2017 pernah menunjukkan Finlandia memiliki pemerintahan terbaik di dunia, sehingga menghasilkan transparansi praktik pemerintahan dan rakyatnya pun mempercayai sistem satu sama lain.

Kemudian Transparency International 2018 mencantumkan Finlandia sebagai salah satu negara paling tidak korup di dunia, dengan 85 persen warganya saling percaya dengan orang lain.

Lantas seperti apa kehidupan di Finlandia dan bagaimana gaya hidup orang-orang di sana? Apakah benar mereka sebahagia seperti yang dilaporkan?

"Kalau dilihat dari indikator-indikator yang masuk dalam indeks kebahagiaan, tentu saja saya bisa acungi jempol untuk setuju," kata Ajimufti Azhari WNI yang tinggal di Helsinki, kepada Kompas.com pada Sabtu (27/3/2021) melalui pesan teks.

Pria 30 tahun tersebut melanjutkan, di Finlandia banyak indikator kebahagiaan yang sebetulnya hal-hal "kecil", seperti work-life balance yang konsisten, dan didukung penuh oleh penyedia kerja.

"Akses ke sarana pendukung publik yang mudah dan terjangkau (termasuk rumah sakit, ruang terbuka, sarana olahraga, dll)," juga menambah faktor kebahagiaan warga Finlandia menurut Aji yang sudah hampir 8 tahun menetap di Finlandia. 

Aji melanjutkan, warga Finlandia pun memiliki kebebasan untuk mau jadi apa, karena minimnya persepsi publik tentang pekerjaan yang dibilang tabu atau tidak menarik di negara lain.

Faktor-faktor tadi, ditambah ritme hidup yang tidak diburu-buru dan kebutuhan dasar yang dijamin negara, membuat lelaki asal Bogor ini betah di Finlandia sejak kuliah sampai sekarang menjadi Innovation Manager di salah satu perusahaan energi terbarukan negara tersebut.

"Masalah kehidupan bersosial, penduduk Finlandia rata-rata sangat teratur dan terjadwal," tambah Aji.

Senada dengan Aji, Evita Wishnuwardani Haapavaara (55) atau yang biasa dipanggil Meitie, juga merasakan faktor-faktor kebahagiaan itu dalam kehidupan sehari-hari. "Semua peraturan dibuat berdasarkan azas kesamarataan dan keadilan sosial, tanpa pandang bulu."

"Saya bisa sekolah dan ambil pelatihan apa pun yang saya mau secara gratis," urai wanita asal Jakarta yang berdomisili di Espoo, kota pinggiran Helsinki. Selama 26 tahun menetap di Finlandia sejak 1994, Evita pun turut merasakan ketatnya aturan di Finlandia, tetapi itu semua pada akhirnya kembali dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

"Kami dengan senang membayar pajak, karena kita juga yang menikmatinya sampai hari tua. Biaya kesehatan gratis atau sangat murah sekali," imbuhnya kepada Kompas.com via pesan teks, Senin (29/3/2021).

Evita mencontohkan saat ia dirawat satu minggu karena infeksi ginjal, dirinya mendapat pelayanan medis setara VIP di Indonesia, dan hanya perlu membayar biaya administrasi, itu pun sangat murah.

"Saya dibebaskan dari pembayaran obat, dokter, pemeriksaan laboratorium, bahkan pemeriksaan lanjutan pun gratis," ungkap Evita yang bekerja sebagai konsultan BtoB dan pendiri LSM Nusantara.ry pada 2003. Namun, di balik semua fasilitas top itu, warga Finlandia tetap harus patuh aturan karena ada sanksi tegas bagi pelanggarnya.

"Hukum sangat tegas. Kita betul-betul bayar denda dan harus on time. Kalau ada penunggakan dalam pelaksanaan kegiatan maka pasti ada sanksi yang juga tanpa pandang bulu," terang wanita asal Jakarta yang menikah dengan pria asli Finlandia ini.

Kisah menarik lainnya dari kehidupan di Finlandia diceritakan Desiree Luhulima (64), WNI yang sudah menetap 23 tahun di sana.

Wanita yang berprofesi guru bahasa Indonesia untuk anak-anak ini menjelaskan, faktor kebahagiaan orang Finlandia didapat dari kedekatan mereka demgan alam. 

"Yang alami itu yang bikin mereka sederhana, karena sederhana mereka tidak berlomba-lomba dengan kehidupan. Kalaupun mereka berkejaran itu dengan dirinya sendiri, bukan orang lain."

Desiree yang merupakan keturunan Maluku mencontohkan, orang Finlandia membeli mobil mahal bukan untuk prestise, melainkan lebih ke fungsinya.

Begitu pun jika membeli jam tangan mewah seperti Rolex, bukan untuk status sosial tetapi menghargai desainnya.

"Kalau sampai orang beli itu bukan untuk nampang, tapi untuk menghargai desain itu sendiri," kata WNI asal Jakarta ini kepada Kompas.com melalui video call, Sabtu (27/3/2021), sambil memperlihatkan eloknya pemandangan alam di desa Vesilahti, Finlandia.

Desiree lalu menceritakan bagaimana sistem kepercayaan di tengah masyarakat bekerja. "Mereka itu mutual trust-nya tinggi sekali satu dengan yang lain. Artinya kamu jangan coba-coba bohong, kalau satu kali kamu bohong dan orang tahu, maka kamu sudah ter-skip dari pekerjaan, sekolah, dan sebagainya."

"Termasuk juga ke sistem kesehatan, ke sistem pendidikan, ke sistem polisi, ke pemerintah, mereka itu saling percaya bahwa seseorang melakukan yang terbaik."

"Ketika seseorang melakukan kesalahan, mereka mundur dengan besar hati." "Jadi semua saling percaya, jadi enak hidupnya, enggak saling curiga." (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Finlandia Kembali Jadi Negara Paling Bahagia di Dunia, Berapa Peringkat Indonesia?"

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved