MotoGP Mandalika

Indonesia Menjadi Legenda via Mandalika: Ditonton dari Lebih 200 Negara

MotoGP menciptakan banyak sekali legenda, mulai dari para pebalap, sirkuit, kota penyelenggara, dan sponsor, melalui paparan yang masif ke penjuru bum

Editor: lodie tombeg
AFP/BAY ISMOYO
Foto udara dari Pertamina Mandalika International Street Circuit alias Sirkuit Mandalika. Gambar diambil pada 17 November 2021. Tampak dalam gambar, areal permukiman yang masih ada di tengah sirkuit. 

 

TRIBUNGORONTALO.COM - MotoGP menciptakan banyak sekali legenda, mulai dari para pebalap, sirkuit, kota penyelenggara, dan sponsor, melalui paparan yang masif ke penjuru bumi. MotoGP menjadi pintu masuk Mandalika dan Indonesia ke memori dunia.

MotoGP musim 2022 memberikan paparan media yang sangat besar bagi Kawasan Mandalika dan Sirkuit Internasional Jalan Raya Pertamina Mandalika di dalamnya. Dunia menoleh ke sirkuit di tepi pantai-pantai elok, yang selama ini lebih dikenal oleh para pegiat selancar ombak itu.

MotoGP menjadi etalase potensi kota penyelenggara dan sekaligus ajang branding global bagi para rekanan, sponsor, dan siapa pun yang terlibat dalam balap motor yang kini berusia 73 tahun itu. Siaran langsung televisi dalam tiga hari memungkinkan semua itu terjadi.

Data dari Dorna, penyelenggara motoGP, pada 2020, setiap seri MotoGP ditonton di 432 juta rumah di lebih dari 200 negara. MotoGP juga menjangkau 30 juta penggemar melalui sosial media serta platform digital dengan 12,2 miliar impresi, 3 miliar penonton video, dan 2,5 miliar menit menonton. MotoGP juga diikuti oleh 13,9 juta penggemar di Facebook, 10,2 juta di Instagram, 2,7 juta di Twitter, 3,7 juta subscribers di Youtube, dan 465 ribu pengikut di Tik Tok.

Mereka yang bisa memanfaatkan kekuatan MotoGP itu untuk mencitrakan produk atau potensi yang dimiliki, berpotensi menjadi legenda dunia. Para pebalap menjadi episentrum dari MotoGP sehingga apa yang menempel di pakaian dan motor yang dipacu menjadi rujukan para penggemar.

Bagi pabrikan motor, MotoGP menjadi ajang promosi dan pengembangan produk, yang akan akan dijual ke pasar. Mereka juga melakukan pencitraan dengan moto khas Indonesia, seperti "Satu Hati" yang menjadi "One Heart", “Nyalakan Nyali”, dan "Semakin di Depan" di era Valentino Rossi, untuk menaikkan brand awareness.

Selain perusahaan-perusahaan global legendaris, banyak perusahaan lokal juga menjadikan MotoGP sarana mengakselerasi produk mereka menjadi brand global. Visi mendunia itu sudah lama dilakukan oleh beberapa perusahaan Indonesia seperti, pelumas Federal Oil, helm KYT, dan industri herbal Deltomed dengan produk Antangin.

Merek KYT masuk ke MotoGP setelah mengakuisisi merk asal Italia, Suomy, pada 2014. Kini, produk KYT dan Suomy dipakai oleh 11 pebalap di semua kelas, termasuk Mario Suryo Aji di Moto3. Di MotoGP ada Enea Bastianini yang menang pada MotoGp seri Qatar dan pebalap Aprilia Aleix Espargaro. Seri helm yang dipakai oleh Bastianini, menjadi buruan para kolektor meskipun harganya dua kali UMR Jakarta.

Baca juga: Sirkuit Mandalika Aman untuk MotoGP, Begini Penjelasan Dorna Sports

Selain mensponsori tim MotoGP, produsen harus tekun dan terus melakukan inovasi untuk menaikan mutu. guna membangun citra produk kelas dunia itu. Persaingan produk global sama ketatnya dengan persaingan pebalap mengejar podium MotoGP.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved