Diskusi soal Perempuan dan Politik di Gorontalo, Begini Kata Wabup Merlan
Wakil Bupati Bone Bolango, Merlan S Uloli menyatakan kedudukan perempuan dalam dunia politik tergantung bagaimana dia beraksi.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Wakil Bupati Bone Bolango, Merlan S Uloli menyatakan kedudukan perempuan dalam dunia politik tergantung bagaimana dia beraksi untuk membuktikan diri mampu menuntaskan tugas dan tanggung jawab secara baik.
Penegasan itu disampaikan Wabup saat diskusi publik yang bertemakan suara kampus dalam perspektif Gorontalo: Perempuan dan Politik dalam Perspektif Kesetaraan Gender. Diskusi yang digelar Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, IAIN Sultan Amai Gorontalo dipusatkan di Jalan Gelatik, Kelurahan Heledulaa Selatan, Kota Gorontalo, Kamis (3/2/2022) pukul 13.00 Wita.
Diskusi tersebut dihadiri langsung Wabup Merlan dan juga narasumber lainnya seperti Ade Sera sebagai politisi PKB, Espin Tuli sebagai politisi PDIP, Meyke Kamaru sebagai politisi Golkar, serta Dewi Nani selaku aktivis gender/feminisme Gorontalo.
"Kita tidak usah jauh-jauh, kita harus buktikan. Ketika kita diberi tanggung jawab, kita lebih baik dari laki-laki. Harus seperti itu, bukan lagi ungkapan, bukan lagi kata-kata, tapi action," ujar Merlan.
Merlan menambahkan bahwa posisi wanita di dalam dunia politik itu tidak dapat disamakan dengan cara berpolitik laki-laki.
"Tentu saja kita berbeda. Kita perempuan itu dengan kesejukan, dengan feminisme kita, tetapi bagaimana kita bisa bernaung juga di bawah politik itu," lanjut Merlan.
Politisi PDIP, Espin Tuli mengungkapkan bahwa peran perempuan dalam kancah politik maupun pembangunan di Gorontalo itu sudah sangat mantap, dengan adanya politisi-politis perempuan yang menjadi pimpinan, baik di partai politik maupun anggota legislatif di Gorontalo.
"Perempuan harus menggali potensi, ilmu pengetahuan, dan jangan pernah tidak percaya diri dalam berpolitik," kata Espin Tuli.
Senada dengan Espin Tuli, Ade Sera selaku politisi PKB menambahkan bahwa perempuan tidak perlu berkecil hati dan bersembunyi di balik kelemahannya.
"Intinya keegoisan dari seorang laki-laki bisa menerima perempuan itu bahwa dia bisa dan mampu memberikan ruang kepada kami sebagai perempuan itu juga merupakan suatu support," ujar Ade Sera.
Selanjutnya, aktivis gender/feminisme, Dewi Nani menegaskan bahwa ada perbedaan antara pemikiran masyarakat pedesaan dan perkotaan. Masyarakat kota sedikit memiliki pemikiran modern sedangkan pada masyarakat pedesaan sebagian masih sangat patriarki.
Menurutnya, perlu ada solusi yang tepat seperti melakukan pendekatan persuasif dan partisipasi untuk mendorong kesadaran masyarakat terhadap kaum perempuan yang mengalami penolakan untuk menjadi pemimpin.
"Mudahan-mudahan ke depan semakin banyak perempuan yang berpartisipasi sebagai yang akan dipilih dan memilih, karena menurut survei, banyak perempuan yang mau menjadi anggota DPRD tetapi banyak yang tidak menggunakan haknya (dipilih)," kata Dewi. (jil)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/030222-Foto-bersama.jpg)