Suka Berkebun, Saatnya Menanam Kopi: Begini Peluangnya
Punya lahan kosong dan suka berkebun. Mungkin ini saatnya kamu mulai menanam biji kopi.
TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta – Punya lahan kosong dan suka berkebun. Mungkin ini saatnya kamu mulai menanam biji kopi. Fenomena ini dapat dijadikan sebagai peluang untuk menjual kopi berkualitas hasil panen sendiri.
General Manager Anomali Coffee Abdul Aziz mengungkapkan, terdapat tiga tren kopi di Indonesia untuk ke depannya. “Pertama, produk specialty coffee,” katanya dalam Festival Pesona Kopi Agroforestry dalam akun YouTube Media Indonesia, Rabu (26/1/2022).
Untuk produk kopi berkualitas premium ini, orang-orang akan semakin mencarinya karena mereka mulai mendapat pengetahuan terkait kualitas, bentuk, dan rasa kopi.
Tren kedua adalah adanya kopi berkelanjutan yang berhubungan dengan konservasi. Aziz menjelaskan, kualitas kopi yang baik tergantung pada lingkungan atau kebunnya.
Jadi petani kopi untuk konservasi lingkungan Konsorsium Kota Agung Utara, Lampung bernama Fajar Sumantri menjelaskan bahwa kopi dapat dijadikan sebagai alat menuju konservasi.
“Kopi itu jangan sampai merusak hutan. Untuk mencapainya, (para petani kopi) harus tahu pentingnya menanam dengan kaidah konservasi,” tuturnya dalam kesempatan yang sama.
Dia melanjutkan, menanam biji kopi dengan kaidah konservasi berarti memanfaatkan pohon sebagai naungan karena mereka memiliki peran yang penting.
Adapun tanaman kopi dapat diberi naungan pohon jengkol, durian, pala, alpukat, dan sebagainya sehingga pengelola kebun, atau petani kopi yang menanam di lahan sendiri, mendapat nilai tambah. “Di atas (pohon naungan) mendapatkan hasil, di bawah (tanaman kopi) mendapatkan hasil juga.
Ternyata, kopi yang berada di sekeliling pohon durian memiliki nilai rasa yang berbeda juga,” ucap Fajar.
Tanam kopi di hutan dengan pola wanatani. Apabila kamu tinggal di daerah yang masih memiliki hutan, kamu dan beberapa warga lain bisa menanam kopi di sana, jika tidak memiliki lahan yang cukup di lingkungan perumahan.
Anggota Balang Institue yakni Fitriani mengatakan, pihaknya melakukan pendampingan kepada masyarakat Desa Labbo di Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Dia mengungkapkan, masyarakat desa setempat memanfaatkan sebuah lahan petak di hutan desa untuk menanam kopi. Mereka menerapkan pola wanatani (agroforestry) yang memadukan kegiatan pengelolaan hutan dengan penanaman komoditas, dalam hal ini kopi.
Menurutnya, pola wanatani ini membuat masyarakat menjaga kelestarian hutan sekaligus menjamin peningkatan ekonomi warga setempat. Namun, pola ini juga bermanfaat bagi hewan endemik.
“Kemudian, kembalinya hewan-hewan endemik Sulawesi. Di antaranya kuskus, beruang Sulawesi, anoa, dan burung Sikatan lompobattang,” ujar Fitriani.
“Awalnya kuskus diangap hama oleh masyarakat penanam kopi. Tapi ketika terus dilakukan advokasi untuk perlindungan hewan-hewan endemik, masyarakat mulai menjaga dan tidak lagi melakukan perburuan liar,” sambungnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/270122-Kopi.jpg)