Sabtu, 14 Maret 2026

Ramadan 2026

Raih Kesempurnaan Ibadah Ramadan, Ini 6 Amalan di Sepuluh Malam Terakhir

Jika sepuluh hari pertama adalah gerbang rahmat dan sepuluh hari kedua adalah fase maghfirah (ampunan)

Tayang:
Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Raih Kesempurnaan Ibadah Ramadan, Ini 6 Amalan di Sepuluh Malam Terakhir
TribunGorontalo.com/Herjianto
SALAT TARAWIH -- Jemaah Masjid Agung Baiturrahman Limboto saat tarawih malam kedua ramadan. Simak amalan di sepuluh malam terakhir Ramadan. 
Ringkasan Berita:
  • Sepuluh malam terakhir merupakan fase pembebasan dari api neraka sekaligus momen paling potensial untuk menjemput kemuliaan malam Lailatul Qadar
  • Meneladani Nabi SAW yang "mengencangkan sarung" (meningkatkan kesungguhan beribadah secara total), umat Islam diimbau untuk meningkatkan kualitas Qiyamul Lail, melakukan I’tikaf
  • Kesempurnaan ibadah dicapai dengan menjaga kebersihan fisik (mandi dan wewangian) agar khusyuk, serta memperbanyak doa ampunan khusus

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Memasuki garis finis bulan suci, setiap Muslim kini dihadapkan pada kesempatan emas untuk raih kesempurnaan ibadah Ramadan. Sepuluh malam terakhir bukanlah waktu untuk mengendurkan semangat, melainkan saatnya memacu seluruh energi spiritual demi meraih predikat takwa yang sejati.

Kesempurnaan ibadah di penghujung Ramadan menjadi krusial karena di sinilah seluruh rangkaian amal selama sebulan penuh dipertaruhkan. Umat Islam diajak untuk tidak hanya sekadar bertahan, tetapi melakukan akselerasi penghambaan demi menjemput kemuliaan malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.

Secara filosofis, Ramadan terbagi menjadi tiga fase transformasi spiritual yang luar biasa. Jika sepuluh hari pertama adalah gerbang rahmat dan sepuluh hari kedua adalah fase maghfirah (ampunan), maka sepuluh hari terakhir merupakan fase pembebasan dari api neraka (itqun minan nar) yang menjadi dambaan setiap mukmin.

Aura istimewa pada sepuluh malam terakhir ini menjadikannya waktu-waktu paling favorit bagi Rasulullah SAW. Beliau memberikan teladan nyata bahwa kesempurnaan ibadah hanya bisa dicapai dengan fokus total dan ketulusan hati yang mendalam, jauh dari hiruk-pikuk urusan duniawi yang biasanya mulai menyita perhatian menjelang Idul Fitri.

Hadits dari Sayyidah Aisyah RA menegaskan betapa Rasulullah SAW memberikan perlakuan khusus pada momen ini. Intensitas ibadah beliau meningkat berkali-kali lipat dibandingkan malam-malam sebelumnya, menunjukkan bahwa akhir Ramadan adalah puncak dari segala perjuangan spiritual.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

ن رسول الله صلى الله عليه وسلم يجتهد فى العشر الأواخر مالايجتهد فى غيره 

Artinya: "Bahwa Rasulullah SAW meningkatkan kesungguhan (ibadahnya) di sepuluh terakhir (bulan Ramadan) yang tidak dilakukan pada hari-hari sebelumnya." (HR Muslim).

Upaya meraih kesempurnaan ini menuntut kita untuk "mengencangkan ikat pinggang" secara spiritual. Jika di awal bulan kita mungkin masih bisa bersantai, maka di penghujung ini adalah saatnya melakukan akselerasi ibadah agar meraih rida Allah SWT secara paripurna.

Kesungguhan Rasulullah dalam menghidupkan malam-malam terakhir ini menjadi kompas bagi kita semua. Beliau tidak hanya fokus pada peningkatan kualitas diri sendiri, melainkan juga melibatkan orang-orang terdekatnya untuk bersama-sama menjemput keberkahan yang berlimpah.

Dinamika ibadah di akhir Ramadan memang menantang secara fisik, namun menjanjikan ketenangan batin yang luar biasa. Dengan mengikuti tuntunan beliau, kita diajak untuk tidak hanya mengejar kuantitas, melainkan kualitas kehadiran hati dalam setiap sujud dan doa.

Maka dari itu, sangat penting bagi kita untuk menyusun strategi ibadah yang tepat di sisa waktu ini. Kesempurnaan Ramadan bukan tentang bagaimana kita memulainya, melainkan bagaimana kita mengakhirinya dengan penuh ketaatan dan pengharapan.

Berikut adalah 6 amalan penting yang dapat kita lakukan pada sepuluh hari terakhir Ramadan demi mencapai kesempurnaan ibadah, sebagaimana diteladankan Rasulullah SAW, dilansir dari NU Online:

1. Lebih Giat Qiyamul Lail (Shalat Malam)

Ilustrasi bolehkan salat tahajud usai melaksanakan salat tarawih dan witir?
SALAT MALAM -- Ilustrasi pria sedang sujud. Salat tahajud termasuk dalam ibadah malam (istockphoto)

Salah satu kunci utama untuk meraih kesempurnaan di penghujung Ramadan adalah dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas shalat malam.

Jika pada malam-malam sebelumnya kita mungkin merasa cukup dengan tarawih saja, maka di sepuluh malam terakhir ini, kita dianjurkan untuk lebih menghidupkan malam dengan shalat tahajud, shalat hajat, maupun shalat witir di penghujung malam.

Dalam satu hadits riwayat Sayyidah ‘Aisyah disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْلِطُ الْعِشْرِينَ بِصَلَاةٍ وصَوْمٍ وَنَوْمٍ، فَإِذَا كَانَ الْعَشْرُ شَمَّرَ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

Artinya: "Dari ‘Aisyah RA, dia berkata, 'Pada 20 hari yang pertama (di bulan Ramadan), Nabi SAW biasa mengkombinasikan antara shalat, puasa dan tidurnya. Namun jika telah masuk 10 hari terakhir, beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarungnya (menjauhi istri-istrinya).'" (HR Ahmad).


Istilah "mengencangkan sarung" adalah kiasan yang bermakna ganda: pertama, beliau menjauhi hubungan suami-istri demi fokus beribadah; kedua, beliau menunjukkan keseriusan yang luar biasa dalam beribadah hingga mengurangi waktu tidurnya.

2. Mengajak Keluarga Beribadah Bersama

Kesempurnaan Ramadan tidak akan lengkap jika kita hanya saleh secara pribadi. Rasulullah SAW memberikan teladan tentang pentingnya kesalehan kolektif dengan mengajak istri dan anak-anaknya bangun untuk beribadah. Ini adalah bentuk kepedulian seorang kepala keluarga agar seluruh anggota keluarganya terbebas dari api neraka.

Dasar kesunahan ini adalah hadits riwayat Sayyidah ‘Aisyah berikut:

 كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Artinya: "Jika telah datang 10 hari yang terakhir (di bulan Ramadan), Nabi SAW mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malamnya (dengan beribadah), dan membangunkan keluarganya (untuk beribadah)." (HR Bukhari dan Muslim).

3. Memperbanyak I’tikaf di Masjid

I’tikaf adalah puncak dari upaya mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membatasi interaksi dari kesibukan duniawi. Dengan menetap di masjid, seorang Muslim dapat lebih fokus berdzikir, tadarus Al-Qur'an, dan merenung (muhasabah). I'tikaf membuat hati lebih tenang dan siap menerima pancaran cahaya Lailatul Qadar.

Hal ini sesuai dengan hadits riwayat Sayyidah ‘Aisyah berikut:

 أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ

Artinya: "Sesungguhnya Nabi SAW beri’tikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadan sampai beliau wafat." (HR Al-Bukhari dan Muslim). Bahkan, pada tahun menjelang wafatnya, intensitas i'tikaf beliau bertambah menjadi dua puluh hari guna memastikan kesempurnaan ibadahnya.

4. Membersihkan Badan dan Memakai Wangi-wangian

Menjaga kebersihan bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga adab saat menghadap Sang Khalik. Membersihkan tubuh, mandi, dan memakai wewangian sebelum memulai ibadah malam dapat memberikan efek psikologis berupa kesegaran dan kenyamanan, sehingga kita bisa beribadah lebih lama tanpa merasa kantuk atau lesu.

Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah mandi di antara dua waktu shalat:

 كَانَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ رَمَضَانُ قَامَ وَنَامَ فَإِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ الْمِئْزَرَ وَاجْتَنَبَ النِّسَاءَ وَاغْتَسَلَ بَيْنَ الْأَذَانَيْنِ وَجَعَلَ الْعِشَاءَ سَحُوْرًا

Artinya: "...Begitu masuk sepuluh hari terakhir, beliau kencangkan sarung, menjauhi istri-istrinya (untuk beribadah), mandi antara dua adzan (waktu Maghrib dan Isya)." (HR Ibnu Abi ‘Ashim).

Hal ini menunjukkan bahwa fisik yang prima adalah modal penting untuk menghidupkan malam-malam mulia.

5. Bersungguh-sungguh Meraih Lailatul Qadar

Lailatul Qadar adalah "hadiah" terbesar di bulan Ramadan. Karena waktunya dirahasiakan oleh Allah, satu-satunya cara untuk memastikannya adalah dengan memperbanyak amal shalih di sepanjang sepuluh malam terakhir. Rasulullah sangat menganjurkan umatnya untuk benar-benar memburu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan ini.

Beliau bersabda: تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ Artinya: "Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan." (HR Al-Bukhari dan Muslim). Kesungguhan ini ditandai dengan tidak melewatkan satu malam pun tanpa ibadah, baik itu dengan sedekah, membaca Al-Qur'an, maupun berdzikir.

6. Memperbanyak Doa Memohon Ampunan

Puncak dari kesempurnaan ibadah adalah pengakuan atas segala dosa dan kelemahan diri. Di malam-malam terakhir, doa yang paling utama bukanlah meminta kekayaan atau jabatan, melainkan meminta maaf (ampunan) kepada Allah agar kita kembali suci seperti bayi yang baru lahir.

Redaksi doa yang sangat dianjurkan adalah:

 اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

(Allāhumma innaka ‘afuwwun tuḥibbul ‘afwa fa’fu ’annī).

Artinya: "Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku." Doa ini mencerminkan kerendahhatian seorang hamba yang sangat membutuhkan ampunan Tuhannya. (*)

 

(Sumber: NU Online)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Sabtu, 14 Maret 2026 (24 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:30
Subuh 04:40
Zhuhr 12:01
‘Ashr 15:05
Maghrib 18:03
‘Isya’ 19:11

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved