Kultum Milenial
Kultum Ramadan - Sandi Sahempa Mahasiswa IAIN Gorontalo: Jangan Berlebih-lebihan saat Puasa
Bulan suci Ramadan adalah bulan pengendalian diri. Di bulan ini kita menahan lapar, dahaga, serta menahan hawa nafsu sejak terbit fajar
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
TRIBUNGORONTALO.COM – Bulan suci Ramadan adalah bulan pengendalian diri.
Di bulan ini kita menahan lapar, dahaga, serta menahan hawa nafsu sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
Ramadan hadir untuk melatih kesabaran, kesederhanaan, serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Namun sangat disayangkan, pada kenyataannya masih ada kebiasaan yang justru meningkat di bulan Ramadan, yaitu sikap israf atau berlebih-lebihan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an, Surah Al-A’raf ayat 31:
"Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."
Sikap berlebih-lebihan bukan hanya dalam hal makanan, tetapi juga bisa terjadi dalam berbagai hal lainnya.
Misalnya berlebihan saat membeli makanan untuk berbuka puasa, berlebihan dalam berbelanja pakaian, bahkan berlebihan dalam menggunakan waktu, seperti begadang tanpa manfaat hingga akhirnya lalai dalam beribadah.
Ironisnya, Ramadan yang seharusnya melatih kita untuk hidup sederhana justru sering berubah menjadi bulan penuh konsumsi.
Ketika waktu berbuka tiba, berbagai macam makanan tersedia dan semuanya ingin dibeli karena rasa lapar. Padahal pada kenyataannya, saat berbuka puasa makanan yang sedikit saja sudah cukup. Akhirnya banyak makanan yang terbuang sia-sia.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mencontohkan kesederhanaan dalam hidupnya.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah ketika berbuka puasa cukup dengan kurma dan air. Makanan yang sederhana namun penuh keberkahan.
Hal ini menunjukkan bahwa esensi Ramadan bukanlah pada kemewahan makanan, melainkan pada keberkahan dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Baca juga: Kisah Haru Rosita Manumbi, 16 Tahun Mengabdi Kini Dipercaya Jadi Kepala SDN 13 Pulubala Gorontalo
Sikap berlebih-lebihan juga bisa terjadi dalam hal lain, misalnya terlalu lama menonton hiburan, sibuk menunggu promo belanja, hingga akhirnya melalaikan ibadah seperti salat tarawih.
Padahal Ramadan adalah bulan Al-Qur’an, bukan bulan berbelanja.
Kebiasaan berlebih-lebihan juga dapat mengeraskan hati kita. Ketika seseorang terbiasa hidup berlebihan, maka ia akan sulit merasakan kesederhanaan dan sulit memahami penderitaan orang-orang yang kurang mampu.
Padahal salah satu hikmah puasa adalah agar kita bisa merasakan apa yang dirasakan oleh fakir dan miskin.
Oleh karena itu, mari kita jadikan Ramadan ini sebagai momentum untuk melatih diri dalam kesederhanaan.
Ambillah makanan secukupnya, berbelanjalah sesuai kebutuhan bukan sekadar keinginan, dan gunakan waktu sebaik-baiknya untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Perbanyak membaca Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, serta meningkatkan kualitas ibadah kita.
Para ulama salaf dahulu sangat mencintai bulan Ramadan. Bahkan ketika Ramadan akan pergi, mereka merasa sedih dan menangis, karena belum tentu mereka akan dipertemukan kembali dengan Ramadan di tahun berikutnya.
Mereka bahkan berharap, seandainya Ramadan bisa hadir sepanjang waktu.
Karena itu, mari kita manfaatkan Ramadan kali ini dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Sebab Ramadan adalah bulan yang sangat dimuliakan, bulan penuh rahmat, bulan penuh ampunan, dan bulan pembebasan dari api neraka.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu memanfaatkan Ramadan dengan sebaik-baiknya. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.